NU Masih Hidup Setelah 53 Tahun, Bukti Seorang Habib Bisa Gagal Pahami Langkah NU
Cari Berita

Advertisement

NU Masih Hidup Setelah 53 Tahun, Bukti Seorang Habib Bisa Gagal Pahami Langkah NU

Duta Islam #03
Sabtu, 09 Maret 2019

NU Banjir Fitnah. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Bukan kali ini saja NU dicecar dan disalahartikan oleh banyak orang. Termasuk kiai, tokoh agama, bahkan habib.

Kecaman terhadap langkah NU juga terjadi ketika Kiai Wahab Chasbullah merapat ke Sukarno dan menerima konsep Nasionalis, Agamis, Komunis (Nasakom) Tahun 1956. Orang mengecam NU saat itu tidak menyadari bahwa keputusan menerima nasakom bagian dari langkah cerdik Kiai Wahab Chasbullah.

Wartawan Senior dan Budayawan M Djoko Yuwono menulis alasan Kiai Wahab Cahsbullah menerima Nasakom. Pertama, tidak mungkin mengumpulkan seluruh pengurus cabang NU yang tersebar di berbagai daerah. Sementara keputusan harus dibuat cepat mengingat PKI telah menghasut Bung Karno untuk membubarkan partai politik yang tidak mau menerima nasakom. Kedua, bila partai NU dibubarkan maka praktis tidak ada lagi partai besar Islam yang bisa memperjuangkan aspirasi umat, baik di pemerintahan maupun di parlemen, mengingat partai Masyumi sudah dibekukan sebelumnya.

Setelah menerima Nasakom Kiai Wahab mengadakan pertemuan dan mengungkapkan kata-kata menarik dan patut untuk kita cermati: “Kecuali terpaksa, jangan bertempur di luar gelanggang, karena hanya sedikit mendatangkan manfaat bagi umat.”

Masuk ke lubang yang terlihat salah tidak berarti salah. Justru dengan masuk dapat lebih leluasa untuk melihat kesalahan kemudian memperbaikinya. Begitu kira-kira makna unkapan Kiai Wahab yang saat itu tidak banyak diketahui banyak orang. Banyak orang menilai NU buruk hanya dari luarnya. Mereka baru sadar belakangan bahwa apa yang dilakukan NU untuk kemaslahatan yang lebih besar.

Bahkan karena ketidakpahaman terhadap NU, Tahun 1965 Habib Salim bin Djindan mempertanyakan keberadaan NU di masa depan karena melihat langkah tokoh NU yang sering kontroversial dan sulit dipahami. "Apa masih ada NU ke depan? Sekarang ini NU hanya besar di suaranya, orangnya gak ada. Kemana NU sekarang?”

Begitu kata Habib Djindan.

Perkataan Habib Djindan dikutip oleh Habib Abdullah bin Ali Al Hadad Jakarta di Halaqah Gerakan Khittah-26 NU di PP Al-Qutub, Cipadung, Cibiru, Bandung, Rabu (6/3/2019) lalu. Habib Abdullah ingin mengesahkan prasangkanya bahwa NU sekarang telah banyak menyimpang dan harus diselamatkan.

Gerakan Khittah 26 NU terus gencar menyerang PBNU. Bahkan sampai kepada tuduhan, NU telah melakukan penyimpangan akidah karena perkara kata "kafir" dalam saat Munas Alim Ulama beberapa waktu lalu.

NU masih tetap hidup sejak Habib Djindan mempertanyakan keberadaan tahun 1965. Sampai sekarang sudah 53 tahun. Ungkapan Habib Djindan yang dikutip tokoh gerakan Khittah 26 NU sekaligus menunjukkan satu asumsi yang tidak berdasar, kecuali barangkali hanya berdasarkan emosi karena salah paham dengan langkah NU.

Sampai sekarang, masih banyak orang gagal paham dengan NU. Tidak hanya orang awam, tetapi juga tokoh-tokoh agama. Tanpa tabayyun mereka menyemburkan tuduhan-tuduhan miring kepada PBNU. Soal "kafir" di Munas Alim Ulama, Luthfi Bashori tanpa tabayyun bahkan menuduh NU ingin mengamandemen Al-Qur'an. Termasuk gerakan Khittah 26 NU barangkali bagian dari kelompok yang gagal memahami langkah-langkah dan kebijakan NU.

Terlepas dari cercaraan banyak pihak, NU sekarang terus berkembang dan berkontribusi untuk umat. Dalam bidang pendidikan, tidak kurang dari 20 universitas yang kini berada di bawah naungan NU dan tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan warga NU, berdasarkan Lembaga Survei Indonesia (LSI) melalui exit poll tahun 2013, sebanyak 91 juta atau 36 persen dari penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 249 penduduk.

Jika seorang tokoh saja bisa gagal memahami langkah NU, apalagi kalangan awam atau orang biasa. Masih ingin nginyir dan sok tahu soal NU? [dutaislam.com/pin]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah