NU Ikut Wujudkan Perdamaian Dunia dengan Semangat Islam Nusantara
Cari Berita

Advertisement

NU Ikut Wujudkan Perdamaian Dunia dengan Semangat Islam Nusantara

Duta Islam #02
Sabtu, 02 Maret 2019

Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketum PBNU, Rais Aam, dan beberapa pengurus PBNU pada penutupan Munas-Konbes NU. (Foto: NU Online)
DutaIslam.Com - NU semakin dibutuhkan kiprahnya di dunia internasional, khususnya untuk memulihkan pertikaian dan membangun perdamaian. Peran itu timbul dan terus membesar karena NU mengampanyekan Islam Nusantara. Dengan ciri khas yang penuh rahmah, NU dipercaya mampu membawa Islam sebagai solusi masalah negara dan solusi perdamian dunia.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj melaporkan keberhasilan NU tersebut dalam Penutupan Munas dan Konbes NU 2019 di Ponpes Miftahul Huda Citangkolo, Kota Banjar, Jum’at (1/3/2019).  Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum dan sejumlah pejabat pemerintah hadir dalam acara tersebut.

Kiai Said memaparkan, NU diminta mendamaikan golongan Sunni dan Syiah di Iraq yang terus bertikai. Pihaknya sudah beberapa kali mempertemukan antar faksi dalam Islam itu dan pelan namun pasti menuju hasil perdamaian.

Kemudian dia menceritakan kiprah NU yang telah mendamaikan dua kelompok yang telah 40 tahun berperang di Arghanistan. NU sebagai penengah telah empat kali mempertemmereka mereka, di Jakarta, di Kabul, dan dua kali di Istanbul Turki.

“Hasilnya, ulama afghanistan sepakat mendirikan organisasi yang persis namanya dengan kita, yaitu Nahdlatul Ulama. Cuma beda lambangnya, NU kita ada gambar bintang sembilan, sedangkan NU Afghanistan ada gambar bintang lima,” tutur dia.

Lebih lanjut  dia beberkan, ulama Malaysia yang sudah resah atas gerakan wahabi yang telah merusak persaudaraan muslim di negeri jiran itu, sepakat mendirikan organisasi bernama Pertumbuhan Nahdlatul Ulama.

“Malaysia mengagumi model Islam Nusantara yang kita gaungkan. Ulama Malaysia mendirikan Pertumbuhan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Dia terangkan pula, NU melanjutkan langkah pemerintah Indonesia, khususnya Wapres Jusuf Kalla, membangun perdamian di China, Filipina, Thailand selatan, dan di Myanmar. 

“Alhamdulillah NU telah membantu membangun perdamaian di Uighur China. Dubes China sudah bertamu ke PBNU dan kami sudah datang ke China untuk membantu mewujudkan perdamaian di sana,” lanjut Kiai Said.

Dia teruskan, peran di Asia yang dimainkan NU adalah membantu memulihkan perdamaian di Filipina yang pernah diserang teroris ISIS beberapa waktu lalu. Pemerintah, kata dia,  mendukung tindakan NU tersebut. Yakni Presiden Jokowi telah mengirim bantuan untuk pembangunan kembali Masjid Raya di Marawi yang rusak akibat perang ISIS dengan tentara Filipina.

“Alhamdulillah Filipina sudah berangsur pulih dari peristiwa serangan teroris lalu. Sudah damai. Bapak Presiden Jokowi sudah mengirim bantuan pembangunan kembali masjid yang rusak akibat perang tersebut,” tuturnya.

Dia teruskan, NU juga telah menjadi pendamai di Thailan Selatan yang punya masalah gerakan separatis dari warga muslimnya. Lalu di Myanmar, dalam kasus Rohingnya, NU menerima amanah membantu perdamaian di kawasan tersebut. Sehingga menjadi keputusan resmi organisasi.

“Peran NU semakin banyak. Kita terus diminta menjadi penengah di negara-negara yang sedang konflik, yang melibatkan kaum muslimnya. Inilah hasil dari Islam Nusantara kita,” tandasnya.

Munas dan Konbes NU  2019 dalam sidang komisi Bahsul Masail Maudhuiyah berhasil merumuskan pengertian Islam Nusantara, dan pada sidang pleno, seluruh musyawirin menyepakati. Sehinga telah resmi menjadi keputusan organisasi.

Dengan demikian seluruh pengurus NU dari pusat sampai ranting harus memahami pengertian Islam Nusantara. Bahwa  Islam Nusantara bukanlah paham aliran, sekte, atau mazhab baru yang dikembangkan di Indonesia.

Islam Nusantara dalam pengertian substansial adalah Islam ahlisunnah waljamaah yang diamalkan, didakwahkan, dan dikembangkan sesuai karakteristik masyarakat dan budaya di Nusantara oleh para pendakwahnya.

Di hulu, Islam Nusantara adalah Islam yang menghormati budaya yang ada selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Di hilir, yaitu puncaknya, Islam Nusantara adalah 'hubbul wathon minal iman', yaitu cinta tanah air adalah bagian dari iman.

"Islam harus menyatu dengan nasionalisme, nasionalisme harus diberi spirit dengan Islam. Itulah yang diajarkan oleh pendiri NU, hadloruts syaikh KH Hasyim Asy’ari," kata Kiai Said. [dutaislam.com/ichwan/gg]

close
Banner iklan disini