Menggayang Khittah NU, Mendukung Paslon, Waras?
Cari Berita

Advertisement

Menggayang Khittah NU, Mendukung Paslon, Waras?

Duta Islam #03
Rabu, 13 Maret 2019

Khoirul Anam. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Nuansa politis gerakan Khittah NU 26 sangat kentara. Terutama ketika diselenggarakannya Halaqah di PP Al-Qutub, Cipadung, Cibiru, Bandung, Rabu (6/3/2019) lalu. Halaqah menjadi ajang menguliti PBNU, menyerang Kiai Maruf Amin, bahkan menebar kebohongan dengan disebutnya PCNU Lasem telah lepas dari PBNU.

Namun, dusta akhirnya terkuak setelah Ketua PCNU Lasem Moh Sholahuddin angkat suara, mengklarifikasi fitnah, membantah tuduhan. Sampai sekarang PCNU Lasem khidmat dan menjadi bagian dari PBNU.

Politisasi atas nama Khittah NU untuk kepentingan Pilpres 2019 begitu kentara saat gerakan Khittah 26 NU mentakzir Kiai Maruf Amin sebagai akibat dari keputusannya nyalon sebagai Wakil Presiden. Kiai Maruf Amin dinilai mencederai NU dan sebagai hukumannya tidak boleh dipilih saat Pilpres 2019. Ini berarti sebuah isyarat bahwa atas nama Khittah dan menyelamatkan NU harus mendukung Prabowo.

Sampai di sini, sulit untuk disanggah bahwa hukuman Kiai Maruf atas nama Khittah NU sangat bermuatan politis-untuk tidak menyebut memang sengaja untuk dirahkan pada kepentingan politik mendukung paslon nomor 02. Karena tidak ditemukan aturan bahwa Kiai Maruf Amin telah melanggar Khittah NU. Secara organisasi, Kiai Maruf bukan lagi pengurus NU setelah mengundurkan diri dari jabatan Rais Am. Dengan demikian, hukuman kepada Kiai Maruf Amin atas nama Khittah jelas hanya akal-akalan semata.

Di sisi lain, gerakan Khittah 26 NU tidak dikenal dalam struktur PBNU. Khittah 26 NU hanya gerakan sempalan dari barisan kelompok sakit hati terhadap PBNU. Jika demikian, tidak ada landasan menjatuhkan hukuman kepada Kiai Maruf Amin.

Mereka berangkat atas nama Khittah NU, tetapi melanggar Khittah NU sebagai organisasi bersama yang setiap tindakan harus berdasarkan aturan organisasi. Dengan demikian, berdirinya gerakan Khittah 26 NU sama halnya dengan perbuatan bid‘ah sayyiah, karena membuat organisasi baru di luar organisasi, tetapi mengatasnamakan organisasi, lalu menyerang organisasi NU atas nama khittah yang berada di luar kewenangannya.

Bila tidak ingin disebut telah membuat bid‘ah sayyiah, maka benar yang dikatakan Putri Alm Gus Gur, Alissa Wahid. Gerakan Khittah 26 NU seharunya berjuang melalui Muktamar NU jika memang tidak sepakat dengan PBNU. Bukan melakukan gerakan di luar. Tapi nyatanya, mereka justru berkoar-koar di lapangan dan terus menguliti NU tanpa dasar dan landasan aturan yang jelas. Bahkan mereka juga mendesak untuk segera dilakukan Musyawarah Luar Biasa (MLB) walaupun tak punya dasar atauran.

Selanjutnya, nuansa politis semakin kentara oleh statemen tokoh Khittah 26 NU yang mengatakan bahwa NU akan semakin rusak bila paslon nomor 01 terpilih. Maka untuk menyelamatkan NU dari kehancuran jangan sampai nomor 01 terpilih sebagai presiden.

Lagi-lagi sangat politis dan ungkapan yang cukup sembrono karena mengukur kehancuran dan kejayaan NU dengan perhelatan pesta demokrasi lima tahunan. Mereka lupa bahwa NU telah berdiri jauh sebelum negara ini berdiri, bahkan NU sudah kenyang dengan fitnah. Nyatanya, sampai 2019 NU masih tegak berdiri untuk warga Nahdliyin, bangsa dan negara.

Duta.co, Corong Cak Anam yang Politis
Mari kita lihat lebih jelas arah gerakan Khittah 26 NU. Dari sisi informasi, media yang selama ini menjadi corong gerakan Khittah 26 NU sekaligus hujatan-hujatannya terhadap NU adalah duta.co yang dikomandani Khoirul Anam (Cak Anam). Sementara Khittah 26 NU atau Pergerakan Penganut Khitah Nahdliyah (PPKN) adalah organisasi baru yang didirikan Cak Anam.

Siapa Cak Anam? Dia adalah mantan Ketua PW Ansor Jawa Timur yang kemudian terpilih sebagai Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur. Namun Cak Anam kemudian terlibat konflik keras dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pendiri PKB yang saat itu menjabat ketua umum Dewan Syuro. Gus Dur bahkan kemudian memecat Cak Anam.

Cak Anam lalu mendirikan Partai Nasional Kebangkitan Ulama (PKNU) bersama beberapa kiai di Jawa Timur. Namun PKNU gagal mendulang suara pada pemilu 2009. Bahkan untuk mengikuti Pemilu 2014 PKNU juga gagal karena KPU menyatakan PKNU tak lolos persyaratan verifikasi administrasi. Cak Anam kemudian “melebur” PKNU ke Gerindra.

Sampai di sini, mudah dipahami jika Cak Anam dalam pilpres 2019 mendukung Prabowo-Sandi. Diperkuat dengan sejumlah pemberitaan di duta.co yang tidak hanya santer membuat framing menyerang PBNU, tetapi juga santer menyerang pemerintah Joko Widodo dengan judul menohok.

Jika tidak percaya, silahkan lihat berita-beritanya lalu bandingkan dengan media seperti Kompas, Detik.com, atau media mainstream lainnya. Kemana arah politik Cak Anam dan duta.co nya sangat mudah untuk ditebak dan ini bukan perkara asing di dunia media.

Menggayang Khittah NU, Mendukung Paslon, Waras? [dutaislam.com/pin]

close
Banner iklan disini