Sabtu, 16 Maret 2019

Materi 'Palugada' Industri Ustadz Remaja

Ustadz Seleb. Ilustrasi: Istimewa.
Oleh Khalis Mardiasih

DutaIslam.Com - Penjelasan ini akan sulit dipahami oleh generasi tua yang tidak familiar dengan Instagram dan Youtube. Begini, stok ustadz alias tukang ceramah masa kini, sekarang sudah jadi industri. Kok bisa? Ya, karena memang ada pabriknya.

Model paling mutakhir, pabrik ustadz ini memberikan pelatihan public speaking (bahasa keren dari ceramah) dan pelatihan memproduksi konten di media digital. Pendeknya, mencetak sosok yang bisa ngomongin agama di depan kamera. Tentu ini mencakup keterampilan tampil keren saat difoto serta lancar saat divideo.

Untuk itu, peserta pelatihan tidak perlu seseorang lulusan pesantren atau sekolah agama, yang penting mau hijrah dan punya komitmen dakwah. Definisi dakwah adalah menyampaikan kebaikan, toh menyampaikan kebaikan lewat Instagram atau Youtube itu mudah. Hanya modal percaya diri dan modal ngomong. Lain cerita kalau ulama betulan, yang harus mendampingi masyarakat kelaparan yang tak pernah punya rencana besok makan apa lagi. Sekali saja antum ceramah, bisa-bisa dilempar bakiak.

Aktivitas macam begini justru tidak bisa dilakukan para santri. Pertama, santri masih sibuk menghafal kitab. Tradisi ilmu dalam Islam biasanya dibangun oleh kitab-kitab yang berjenjang. Jadi, buat paham kaidah (ushul) dari sebuah hukum saja perlu waktu lama.

Kedua, tradisi santri adalah tawaduk. Santri tidak akan berani banyak bicara jika ada orang lain yang dianggap lebih otoritatif dalam menyampaikan pengetahuan. Seorang kiai muda pun biasanya cuma bisa menunduk kalau masih ada kiai sepuh.

Ketiga, kalau sudah dapat ijazah, baik yang punya arti mandat dari guru atau pun ijazah yang menautkan gelar akademik tertentu, biasanya santri hanya bisa bicara satu bidang saja. Padahal, industri media digital senang dengan sosok yang bisa bicara apa saja, pengamat "palugada" (apa lu mau gue ada), mulai dari bidang politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Wah!

Dan terakhir, kebanyakan santri sederhananya memang bocah kesusahan. Nggak ada modal buat update kamera mahal. Duh!

Remaja yang kebanyakan usia SMA dan mahasiswa tentu saja amat tertarik dengan bisnis tukang ceramah ini. Di era hashtag, algoritma, dan trending topic, seseorang harus menjadi relevan, ditentukan dari jumlah follower. Sindikat pabrik ustaz ini sudah beken. Sekali antum diorbitkan, jaminan langsung terkenal. Citra antum adalah gaul, tapi tetap syar'i. Lebih-lebih, materi ceramah agama yang disukai anak muda nggak perlu susah-susah.

Kalau antum masih SMA, bakal dijadikan ustadz dengan materi ceramah seputar perlawanan terhadap film Korea, game online, dan pacaran. Kalau antum sudah mahasiswa, bakal dijadikan ustadz dengan materi seputar jodoh, pernikahan, sambil sesekali kampanye politik Islam. Wah, berat tuh yang nomor terakhir. Tenang, dalam bisnis ini ada istilah soft selling alias main halus. Cukup bahas kulit-kulitnya saja, begitulah teknik propaganda yang efektif.

Yang bikin payah, bagaimana kalau stok ustadz yang matang karena karbitan bagaikan buah yang tidak masak alami dari pohonnya ini kemudian jadi rujukan. Saya menemukan komentar dari akun Himpunan Mahasiswa Jurusan sebuah universitas mentereng pada video ceramah ustadz-ustadzan ini. "Assalamualaikum Ustadz, kami ingin mengadakan seminar nasional yang bertema fenomena hijrah untuk mengokohkan identitas bangsa. Apakah ustadz bisa menjadi pemateri seminar keagamaan kami?"

Mari kita cek mulai dari tema. Saya sungguh tertarik dengan kajian dan riset sebelum para mahasiswa itu mencetuskan tema. Bagaimana mahasiswa itu mendefinisikan fenomena hijrah? Apa definisi mereka soal identitas bangsa? Mengapa mereka memilih kata kerja "untuk mengokohkan" dibanding pilihan kata kerja lain seperti misalnya "pengaruh", "dampak", dan seterusnya.

Selanjutnya, apa alasan akun himpunan mahasiswa itu memilih remaja pembuat konten digital yang kebetulan agamis untuk menjadi pembicara seminar nasional soal identitas bangsa? Video ustadz remaja ini sering memuat konten yang memusuhi identitas kebhinekaan dalam sebuah bangsa. Beberapa video bahkan cenderung berwajah buzzer politik. Jika para mahasiswa ingin membicarakan sebuah fenomena, tentu saja ada banyak ahli ilmu sosial dan praktisi kemasyarakatan untuk bicara.

Jika mahasiswa menyebut agenda itu sebagai seminar keagamaan, ada cendekiawan muslim yang lebih layak berbagi pengetahuan kepada mahasiswa. Menarik juga mengamati para mahasiswa yang membiayai kuliah dengan mahal, punya beban studi yang cukup berat, dilabeli sebagai agen perubahan, tetapi memasrahkan otoritas berpikir atas tema serius kepada penyedia konten digital "palugada".

Toh, semestinya para mahasiswa yang sudah belajar filsafat ilmu, filsafat hukum, filsafat bahasa, hingga filsafat seni mestinya lebih percaya diri dibanding remaja keluaran pelatihan public speaking. Tom Nichols dalam buku The Death of Expertise bilang bahwa manusia kebanyakan mengandalkan media untuk membuatnya tahu, untuk memisahkan fakta dari fiksi, dan untuk membuat hal-hal yang rumit dapat dimengerti dalam waktu yang relatif singkat, sebab mereka tidak punya banyak waktu dan tenaga untuk mengikuti perputaran informasi di dunia yang sibuk ini.

Tapi, itu kan manusia kebanyakan. Status mahasiswa adalah pembelajar di sebuah lembaga yang disebut universitas. Pembelajar tidak hanya mencari informasi untuk sekadar memuaskan dahaga, melainkan melakoni aktivitas pencarian kebenaran berdasarkan fakta-fakta ilmiah.

Pembelajar tidak berhenti setelah mendengar ceramah seorang dosen. Pembelajar memproses informasi objektif dengan epistemologi sebuah cabang ilmu tertentu sebelum jadi sebuah simpulan. Sebaliknya, ustadz yang lahir dari bisnis pelatihan public speaking merasa menyampaikan sebuah kebenaran absolut tanpa peduli pandangan kebenaran orang lain.

Sayangnya, baik ustaz remaja maupun himpunan mahasiswa yang mengadakan acara seminar itu tak merasa aktivitas yang mereka lakoni berbahaya bagi hajat inti terciptanya dunia, yaitu kehormatan ilmu pengetahuan. [dutaislam.com/pin]

Kalis Mardiasih, menulis opini dan menerjemah.
Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian.
Artikel ini tayang pertama kali di detik.com.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini