Kiai Said Dipolisikan, Mengapa Warga NU Tidak Demo Berjilid-Jilid?
Cari Berita

Advertisement

Kiai Said Dipolisikan, Mengapa Warga NU Tidak Demo Berjilid-Jilid?

Duta Islam #03
Kamis, 21 Maret 2019

Ilustrasi: Warga NU berdemonstrasi. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Ketum PBNU Kiai Said Aqil Siradj dilaporkan ke polisi karena dinilai melakukan ujaran kebencian. Seharusnya warga NU memprotes, melakukan demonstasi berjilid-jilid, disambung pekik takbir dan teriakan kriminalisasi ulama.

Semestinya demo berjilid-jilid ini terjadi, tapi hanya jika NU adalah Ormas Islam yang lahir kemarin sore, yang butuh simpati, pengakuan, dan panggung. Nyatanya, NU sudah lahir sejak negara ini belum merdeka. NU tidak lagi mencari panggung, NU-lah panggung itu sendiri. NU panggung besar, banyak orang berebut untuk tampil di panggung NU. Namun, tak semua orang mendapat kesempatan karena hanya orang pilihan yang bisa pentas di panggung NU. Mereka pewaris amanah para pendiri NU.

Orang-orang yang tidak mendapat kesempatan tampil di panggung NU sebagian memilih sebagai aktor penentang. Segala upaya dilakukan untuk menghancurkan NU. Sejarah mencatat, fitnah NU sudah ada sejak NU baru lahir. Sampai sekarang NU tetap gencar difitnah. Tapi orang-orang pilihan yang mengendarai NU begitu lincah. Para penentangnya pun selalu keok dilibas sejarah. Lihat saja nasib gerakan Khittah 26 NU yang mendadak muncul membela khittah di tahun politik.

NU Sudah Dewasa
NU yang lahir tahun 1926, sudah cukup dewasa untuk menghadapi dan mengatasi setiap masalah yang selalu menimpanya bertubi-tubi. Makanya, ketika Ketum PBNU Kiai Said Aqil Siradj dilaporkan ke polisi, PBNU sendiri bersikap santai. Tidak seperti sekelompok umat Islam yang ketika tokohnya dilaporkan berteriak kriminalisasi. Cara demikian sejatinya menunjukkan sikap kekanak-kanakan.

Bagi PBNU pelaporan Kordinator Aksi Bela Islam (ABB) Damai Hari Lubis hanya masalah remeh temeh, kalau tidak ingin disebut hanya ingin mencari sensasi. Apalagi pelaporan hanya berkaitan dengan ungkapan Kiai Said soal kelompok radikal di kubu Prabowo. Ungkapan orang sekaliber Kiai Said tentu tidak asal jeplak tanpa dasar.

Sebelumnya Ketum Ansor Gus Yakut juga mengungkapkan hal yang sama. Pun ketika Ketum PBNU Bidang Hukum Robikin Emhas diminta tanggapan soal pelaporan Kiai Said, justru semakin menengaskan adanya ancaman radikalisme di Indonensia. Apakah mereka ada di kubu 01 atau 02, atau bahkan di kolong jembatan, publik akan tahu karena sejarah akan selalu memberikan jawaban.

Jika mau, PBNU sebenarnya bisa saja langsung membuktikan ucapan Kiai Said. Kemudian melaporkan balik Damai Hari Lubis atas dasar pencemaran nama baik. Namun, terlalu receh jika sekelas PBNU melawan Damai Hari Lubis.

NU Percaya Hukum, Jaga NKRI
Sikap NU yang santai menanggapi pelaporan Kiai Said Aqil Siradj menjadi bukti bahwa NU percaya pada hukum. NU menghargai pihak yang tidak senang yang lalu melaporkannya pada pihak yang berwajib. NU percaya bahwa pihak kepolisian akan bekerja sesuai dengan koridor.

Inilah salah satu kedewasaan NU dan orang-orang PBNU. Inilah cara NU menjaga negara, yakni dengan cara menghargai dan mengikuti aturan-aturan negara yang ditetapkan bersama oleh pendiri bangsa. Warga NU yang benar-benar tahu NU, mesti paham soal ini.

Menjaga marwah NU yang dikenal santun lebih utama. Sebaliknya, tidak grudak-gruduk, tidak memekik takbir, atau teriak-teriak atas kriminalisai ulama, layaknya orang-orang sono. [dutaislam.com/pin]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah