Kekuasaan Terus Melemah, Dua Masalah Jika Kekuasaan ISIS Telah Runtuh

Kekuasaan Terus Melemah, Dua Masalah Jika Kekuasaan ISIS Telah Runtuh

Rabu, 27 Maret 2019 | x dibaca
ISIS. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Serangan milisi Kurdi Kota kecil Baghouz al-Fawaqani di tepi Sungai Euphrate, Irak, menjadi pertanda hancurnya ISIS. Pasalnya, tempat tersebut merupakan basis pertahanan terakhir kekhilafahan ala kelompok radikal yang dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi terebut. Kini, tanah yang dikuasai organisasi ekstrimis tersebut tinggal secuil dari peta besar wilayah Irak dan Suriah yang dalu menjadi basis kekuasaan mereka.

The Islah Centre, organisasi yang konsen dalam masalah terorisme, menguraikan beberapa hal sebagai konsekuensi kehancuran ISIS. Dikutip dari NU Online, Direktur The Islah Centre Mujahidin Nur mengungkapkan, kehancuran akan menyisakan banyak masalah besar bagi dunia khususnya dunia Islam. Pasalnya, sejumlah 110 negara di dunia masyarakatnya terlibat menjadi anggota dari kelompok teror ISIS.

Tercatat, dari jumlah 41.490 FTF, 18.852 datang dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara, 7.252 dari Eropa Timur, 5965 dari negara-negara Asia Tengah, 5904 dari Eropa Barat, 1010 dari Asia Timur, Asia Tenggara 1063, dari Amerika 753 Ausia dan New Zealand, 447 souther Asia,  244 sub-saharan Africa.

Gelombang pertama FTF datang ke Irak pada tahun 2003 sebelum perang sipil di Suriah, paska tumbangnya rezim Saddam Hussein. FTF yang datang ke Irak kala itu karena ingin bergabung bersama AQI (al-Qaeda in Irak) pimpinan Abu Musab al-Jarqawi teman dekat Abu Bakar al-Baghdadi. Mereka berusaha melakukan perlawanan dan mengusir pendudukan Amerika di Irak. Kombatan-kombatan AQI inilah yang kemudian memproklamirkan berdirinya ISIS di kemudian hari.

Gelombang kedua, gelobang paling massif kedatangan FTF terjadi ketika terjadi Arab Spring, musim semi di Arab yang melanda Suriah. Perang saudara terjadi ketika masyarakat Syuriah yang mayoritas muslim ingin menumbangkan rezim Bashar al-Asad yang merupakan penganut Syiah Alawiyah.

Dengan fakta-fakta tersebut, menurut The Islah Centre, setidaknya ada dua masalah yang akan terjadi. Pertama, perdebatan sekitar FTF yang saat ini menjadi tawanan dan ingin kembali ke negara masing-masing. Hampir semua negara-negara di dunia termasuk Indonesia kebingungan bagaimana memperlakukan warga mereka yang sudah bergabung bersama ISIS dan saat ini menjadi tawanan di Suriah.

Negara-negara merasa kebingunan dikarenakan beberapa hal. Pertama, bahaya laten terorisme yang akan mengancam negara bersangkutan apabila memperbolehkan pengikut ISIS ini pulang atau mengekstradisi mereka. Kedua, di hampir semua negara belum adanya payung hukum (UU Terorisme) untuk menjerat mereka yang bergabung dengan kelompok teror internasional seperti ISIS.

Kedua, bagi dunia Islam, FTF yang masih tersisa di medan perang akan mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri mereka. Mereka akan bergabung dengan al-Qaeda. Kemudian mereka akan berusaha untuk menyeberang ke sel ISIS yang masih hidup utamanya di negara-negara yang dilanda konflik, baik itu di Yaman IS-AP (IS-Aden Province) dan IS-HP (IS-Hadramaut Province), Libya IS-FP (IS-Fezan Province), Afghanistan IS-KP (IS-Khurasan Province) atau ke semenanjung Sinai Mesir IS-SP (IS- Sinai Province).

Artinya apa?

"Negara-negara tersebut akan mendapatkan ancaman terorisme dengan migrasinya FTF ke negara-negara mereka," ungakap Mujahidin. [dutaislam.com/pin]

TerPopuler