Jahl Murokkab Video Adi Hidayat Digunakan untuk Membela Haikal Hasan
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Jahl Murokkab Video Adi Hidayat Digunakan untuk Membela Haikal Hasan

Duta Islam #02
Sabtu, 09 Maret 2019
Loading...

Video Adi Hidayat digunakan Arsyad Syahrial untuk membela Haikal Hassan
Oleh Moch Syarif Hidayatullah

DutaIslam.Com - Video ceramah Ustaz Adi Hidayat (UAH) ini dijadikan oleh sebagian orang yang tak terima Haikal Hassan (HH) dikritik terkait kesalahan mendasarnya mengenai kafir dan kuffar.

Agar jelas duduk persoalannya, berikut catatan kecil saya untuk merespons video ini dan komen pengupload video ini:

1. Terkait pengupload video ini yang memberi komen pembelaan untuk HH, semestinya ybs juga menyadari bahwa ybs tidak memahami duduk persoalan yang dipermasalahkan oleh banyak netizen terhadap kesalahan mendasar HH, bukan malah membela membabi buta dengan mengupload video UAH tanpa memahami penjelasan yang dimaksudkan.

2. Soal alladzina kafaru, kafirun, dan kuffar, memang ada beberapa ahli tafsyang membedakan makna dan konteks pembicaraannya. Namun, tetap kurang tepat bila kafir dikontraskan dengan kuffar. Karena yang benar mestinya kafirun yang dikontraskan dengan kuffar. Ini karena baik kata kafirun dan kuffar berasal dari kata kafir (nominanya) dan kafar (verbanya).

Jadi, HH melakukan kesalahan mendasar dan konseptual secara Sharaf dalam hal ini. Bila ternyata HH mendasarkan pendapatnya itu pada ceramah UAH, maka dapat dipastikan yang dimaksudkan UAH adalah kafirun (jama’nya), bukan kafir (mufradnya).

3. UAH menyebut kafaru sebagai jama’ dari kafar. Sependek yang saya tahu, fi’l tidak punya bentuk jama’ (mohon koreksi kalau saya salah). Yang punya bentuk jama’ itu isim. Mungkin yang dimaksudkan, kafaru ada waw jama’-nya.

4. Yang paling menarik adalah pada menit 2.47-2.48 ketika UAH mengartikan kafir dengan ‘NON-MUSLIM’. Nah, dalam hal ini UAH sama dengan hasil Bahsul Masail Munas NU yang mengartikan kafir dengan ‘non-Muslim’.

Ini penting dipahami oleh para pengkritik hasil Bahsul Masail NU, ternyata yang mengartikan demikian tidak hanya NU, tapi banyak ahli dan pakar, termasuk UAH.

Hanya gara-gara NU yang mengartikan demikian, lalu diributkan. Apalagi sampai menganggap NU akan ganti surah al-Kafirun atau ganti kata kafir di Alquran (ini menggelikan dan menunjukkan ybs tak paham persoalan).

Padahal, NU dalam Bahsul Masail tak pernah punya pretensi ke arah sana. Ini hanya dimaksudkan dalam konteks mendudukkan kata kafir dalam konteks sebagai warga negara di Indonesia yang bukan negara Islam. Wallahu a’lam. [dutaislam.com/gg]

Moch Syarif Hidayatullah, penulis Cakrawala Linguistik Arab (Grasindo, 2017), pengajar Semantik Alquran di Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ), pengajar Semantik Bahasa Arab di program S2 Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

close
Banner iklan disini