Inilah Tafsir Sufistik Al-Kafirun Ala Kiai Lukman
Cari Berita

Advertisement

Inilah Tafsir Sufistik Al-Kafirun Ala Kiai Lukman

Duta Islam #03
Kamis, 07 Maret 2019

Kiai Lukman Hakim. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Ahli Tasawuf Kiai Lukman Hakim memberikan tafsir Surat Al-Kafirun. Tafsir Kiai Lukman tidak seperti pada umumnya dalam kitab-kitab Tafsir. Melainkan tafsir ala sufi.

Tafsir Sufi Surat Al-Kafirun disampaikan Kiai Lukman melalui akun Twitternya, Senin (04/03/2019). Berikut ini Tafsir Sufi Surat Al-Kafirun dari ayat 1 sampai ayat 6.

قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ

"Katakan, wahai orang-orang yang hatinya kufur karena terhijab dari Allah, hingga mata hatinya buta, lalu hanya memihak hawa nafsu, syetan, dunia, dan segala hal selain Allah.

لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ

Aku tidak menyembahmu karena yang kamu sembah bukanlah Tuhan. Tetapi ilusi tentang Tuhan, atas nama Tuhan, sehingga jadi berhala-berhala kegelapan. Aku adalah Qalbu yang kemilau cahaya-Nya, tak mau memihak gairah nafsumu pada kegelapan.

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ

Kamu pun tak akan pernah menuhankan apa yang aku sembah, karena jika dirimu memasuki cahaya-Nya, akan terbakar dalam siksa hijab di neraka kegelapanmu. Akulah dilimpahi cahaya hingga bersambung dengan-Nya. Kamu tidak.

وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ

Dan aku tidak menyembah dalam perbudakan nafsumu sebagaimana perbudakanmu. Mustahil aku menyembah pada yang sesungguhnya tidak ada. Ilusimu hijab yang memblokir dirimu, hingga bayangan kau sembah sebagai kenyataan.

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ

Kamu dengan segala dusta kegelapanmu jangan pernah mengklaim telah menyembah apa yang aku sembah. Jangan lihat cahayaku dengan mata gelap tertutupmu.

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Bagimu agamamu yang memperbudak dirimu dalam siksa hijab, dengan kesesatan hawa nafsumu. Dan bagiku agamaku dengan limpahan cahaya Ridho, Fadhal dan RahmatNya, sehingga aku menyembah-Nya, dari-Nya, kepada-Nya, bersama-Nya, bagi-Nya.

Kiai Lukman mejelaskan, Tafsir Sufi Al-Kafirun tersebut untuk mendidik hawa nafsu sendiri. Sebaliknya, bukan untuk menuding orang lain sebagai orang kafir. "Tengoklah diri kita sendiri, isinya hanya full kegelapan (robbanaa dzolamnaa anfusana). Apa yang kita sombongkan? Banggakan? Andalkan?," ucap Kiai Lukman. [dutaislam.com/pin]

close
Banner iklan disini