Upaya Konservasi Lingkungan Menurut Al-Quran
Cari Berita

Advertisement

Upaya Konservasi Lingkungan Menurut Al-Quran

Duta Islam #04
Selasa, 26 Februari 2019

Sumber: istimewa
 Allah SWT telah memilih manusia sebagai pengemban tanggung jawab dalam mengkonservasi lingkungan hidup. Manusia diamanahkan oleh Allah SWT sebagai khalifah di bumi.

Dutaislam. Com - Khalihaf di sini bermakna yang menggantikan. Artinya, manusia merupakan pengganti yang diberi amanah dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan petunjuk Allah.

Tugas dan wewenang manusia sebagai khalifah sebagaimana termaktub dalam firman Allah Surat al-al-Baqarah ayat 30.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(Q.S Al Baqarah : 30)

Ayat ini menjelaskan bawha penunjukkan manusia sebagai khalifah bukanlah sebuah keputusan yang tanpa alasan atau sebuah kebetulan terjadi. Sebab, manusia mempunyai kelebihan daripada makhluk lainnya. Allah telah memberikan modal besar bagi manusia untuk mengelola bumi. Yakni, akal pikiran.

Di samping itu, manusia juga dianugerahi bermacam potensi yang mendukung tugas kekhalifahannya. Atas dasar itu, manusia mampu menyusun serta mengembangkan konsep dan merealisasikan dalam bentuk tindakan. Hal itu sebagaimana dinyatakan dalam Surat Fatir: 39.

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًا ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا

Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka (Fatir: 39).

Secara tersirat, ayat di atas memberi petunjuk bahwa manusia mempunyai tugas untuk membangun dunia dan memakmurkannya sesuai petunjuk Allah. Allah SWT memberi potensi kepada manusia agar mengelola serta mengembangkan bumi sesuai kemampuan masing-masing.

Penggunaan bentuk jamak kata khalaif menunjukkan bahwa tugas kekhalifahan akan sukses terlaksana jika ada kerjasama yang baik antar elemen masyarakat. Proses memakmurkan bumi, mengelola, dan menarik manfaat harus dilakukan secara kolektif oleh seluruh umat manusia.

Prinsip saling mengingatkan dan saling membantu juga merupakan kunci kesuksesan dalam mengkonservasi lingkungan. Jika tidak ada rasa kepedulian terhadap sesama manusia maupun terhadap lingkungan, maka dampak buruk yang akan muncul.

Berdasarkan penjelasan di atas, paling tidak ada lima poin penting upaya yang harus dilakukan manusia sebagai khalifah di bumi dalam mengemban tanggung jawab terkait konservasi lingkungan. Lima poin tersebut antara lain:

Pertama, menjaga kebersihan lingkungan. Kebersihan merupakan salah satu ajaran Islam yang harus dipertahankan dan diamalkan oleh setiap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Allah mengingatkan perihal kebersihan dalam Surat al-Baqarah: 222.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri"

Kedua, menjaga keseimbangan alam. Dalam mengeksploitasi alam lingkungan, manusia harus memperhatikan bagaimana menjaga keseimbangan alam, lingkungan, dan habitat yang ada tanpa merusaknya. Hal itu sebagaimana firman Allah Surat al-Mulk: 3.

ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِى خَلْقِ ٱلرَّحْمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٍ ۖ فَٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ

Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS al-Mulk: 3).
.
Ketiga, menanam pohon untuk penghijauan. Penghijauan dengan cara menanam pohon dan bertani dalam perspektif ilmu geografi disebut dengan reboisasi. Reboisasi merupakan kegiatan penanaman pada lahan kosong di luar kawasan hutan, terutama pada tanah milik rakyat dengan tumbuhan keras, seperti jenis-jenis pohon hutan, pohon buah, tumbuhan perkebunan, tumbuhan pupuk hijau, dan rumput pakan ternak.

Tujuan penanaman tersebut agar lahan dapat dipulihkan, dipertahankan dan ditingkatkan kembali kesuburannya. Upaya tersebut sesuai dengan pesan yang terkandung dalam Surat al-An'am: 99

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ  فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْطَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًاوَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لآيَاتٍلِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pula) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman (QS. al-An'am: 99).

Keempat, mengelola lahan mati (kosong). Pengelolaan dan pemanfaatan lahan mati untuk ditanami adalah salah satu bentuk kesadaran manusia dalam memperlakukan bumi yang semakin tua dengan memanfaatkan lahan yang tidak produktif, mengembalikan fungsi lahan, dan menjadikan sebagai usaha sekaligus berperan dalam upaya konservasi.

Lahan mati berarti tanah kosong yang tidak bertuan, tidak berair, tidak diisi bangunan, dan tidak dimanfaatkan. Dalam Surat Yasi ayat 33, Allah telah menjelaskan perihal pemanfaatan lahan kosong.

وَآيَةٌ لَهُمُ الأرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ 

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan (QS. Yasin: 33).

Kelima, memelihara dan melindungi hewan. Dalam hal ini, Allah menjelaskan betapa pentingnya konservasi terhadap satwa atau hewan serta menjaga keseimbangan ekosistem di bumi agar tidak punah. Hal itu sebagaimana dinyatakan dalam Surat Hud ayat 6.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ 

Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauh al-mahfudz) (QS. Hud: 6).

Pembahasan konservasi lingkungan telah terungkap dalam beberapa ayat Al-Quran sebagai perintah untuk manusia agar menjaga dan memelihara lingkungan sekitarnya dengan baik. Upaya-upaya yang dianjurkan Al-Quran dalam mengkonservasi lingkungan dengan menjaga kebersihan lingkungan, keseimbangan alam, menanam pohon untuk penghijauan, mengelola lahan mati dan kosong, memelihara dan melindungi hewan, serta yang terpenting adalah berupaya untuk tidak merusaknya. [dutaislam/in]

Artikel dutaislam.com

Demikian penjelasan Upaya Konservasi Lingkungan Menurut Al-Quran. Adapun 4 Unsur Memahami Ayat Lingkungan, silahkan baca di artikel berikutnya.

close
Banner iklan disini