Tips Menulis: Setiap Hari, Setiap Mood, atau Setiap Datang Ide?
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Tips Menulis: Setiap Hari, Setiap Mood, atau Setiap Datang Ide?

Duta Islam #03
Selasa, 19 Februari 2019
Loading...

Istimewa.
Oleh Miftahul Arifin

Apa tujuanmu menulis?

DutaIslam.Com - Menjawab pertanyaan di atas penting sebelum memulai atau setidaknya ingin menjadi penulis. Tujuan yang jelas akan menentukan seperti apa kamu berproses.

Kalau kita menulis untuk mengisi waktu luang, begitu sibuk kita tidak akan menulis sampai kesibukanmu berakhir. Lain lagi jika menulis menjadi pekerjaan atau tuntutan. Kita akan menulis sesuai target, dari perusahaan atau lembaga yang menuntut kita untuk menulis. Tidak menulis sesuai tuntutan, kita akan menerima resiko.

Saya belajar menulis sejak baru masuk kuliah di Semarang tahun 2010. Saya ingin bisa menulis karena menurut kabar beberapa orang, tulisan yang masuk koran akan mendapat bayaran.

Tujuan saya jelas. Saya ingin mendapatkan uang.

Saya belajar dengan obsesi. Saya bergabung ke Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang memang bergerak di bidang penulisan. Saya belajar sendiri, menulis, minta dikoreksi, mengerjakan tugas dari redaksi, dan seterusnya.

Setelah beberapa bulan tulisan saya masuk koran. Saat itu belum berbayar. Saya dapat dari kampus karena memang ada dana khusus untuk apresisasi bagi penulis di koran. Selanjutnya, saya masih menulis, hingga beberapa kali mencicipi uang dari hasil menulis di koran.

Saya pernah menulis empat hingga lima tulisan berita setiap hari. Perusahaan mediatempat saya bekerja menuntut saya demikian. Saya harus melakukannya, meski awalnya terasa berat dan terpaksa.

Inilah tuntutan. Saya menulis dan saya bisa melakukan hingga terasa mudah.

Menulis Setiap Hari
Bagi penulis pemula, menulis setiap hari termasuk pekerjaan berat. Tetapi begitu dijadikan pekerjaan rutin, menulis akan terasa biasa-biasa saja. Itu artinya kita bukan penulis pemula lagi, tetapi penulis berulang, berkali-kali atau terus menerus.

Saya pernah melakukannya dan hal yang sama dilakukan Danny Forest, Insinyur Perangkat Lunak asal Kanada. Forest telah menjadi salah satu penulis Top di Medium.

Forest orang yang memiliki obsesi tinggi. Dia suka belajar keterampilan baru. Tahun 2017 dia mulai belajar menulis.

Forest menulis setiap hari. Dia punya waktu khusus untuk menuntut dirinya dan mengukur kemampuan menulisnya. Sekarang dia berhasil menulis 1,5 ribu kata dalam 50 menit.

Saya banyak belajar dari Forest.

Menulis Setiap Datang Mood
Kita termasuk orang yang beruntung jika bisa selalu bersemangat setiap saat. Ini akan menunjukkan bahwa kamu selalu memanfaatkan waktu untuk hal-hal positif dan produktif.

Sayangnya, saya belum menemukan orang yang sesempurna itu. Setiap orang selalu punya titik jenuh. Emosi kadang naik kadang turun. Ini berdampak pada cara kita menjalankan aktivitas sehari-hari termasuk menulis.

Kalau kita tidak punya tujuan yang jelas dalam menulis, kita akan menghadapi masa-masa sulit. Belum lagi kita harus menyelesaikan tugas-tugas atau kewajiban lain.

Bisa-bisa mood kita untuk menulis hanya datang setiap minggu atau bahkan tidak pernah datang sama sekali.

Saat saya masih aktif di LPM, saya banyak menemukan teman-teman yang seperti ini. Dia hanya punya keinginan untuk menulis tetapi tidak pernah action. Hanya keingian, selebihnya banyak alasan untuk tidak melakukan.

Jangankan yang tidak pernah punya pengalaman dalam menulis, orang-orang yang berpengalaman saja masih sering kehilangan moodnya untuk menulis.

Namun, biasanya mereka selalu punya cara untuk mengatasi moodnya. Setidaknya mereka punya alasan mengapa harus terus menulis.

Saya termasuk orang yang sering kehilangan mood. Beberapa bulan lalu saya sempat vakum dari menulis. Saya kehilangan tujuan. Saya jadi kesulitan mendapatkan ide. Beberapa aktivitas membuat saya semakin lupa bahwa saya pernah begitu produktif menulis (setidaknya menurut anggapan saya).

Saya mendapatkan kembali semangat setelah saya membaca Darius Faroux "Agar Selalu Berpikir Positif Setiap Hari". Ada empat cara, salah satunya menuliskan apa yang bisa kita sukuri dalam sehari.

Tak kalah penting, jangan bertanya tujuan hidup. Tetapi bertanyalah apa yang bernilai yang bisa saya lakukan dalam hidup.

Saya ingat kalau saya bisa menulis. Inilah salah satu yang saya anggap nilai dan bisa saya lakukan. Saya putuskan untuk kembali menulis dan saya terus berusaha untuk menjada mood saya dengan terus memperkuat alasan untuk menulis.

Saya menulis untuk memperkuat hasil bacaan saya agar mengendap dalam ingatan saya. Saya juga ingin selalu berbagi apa yang saya lakukan dengan cara menulis.

Kalau anda merasa lebih baik dengan apa yang saya katakan, anda boleh mencobanya dengan mengingkuti langkah saya.

Menulis Setiap Datang Ide
Saya pernah merasakan begitu sulitnya mendapatkan ide tulisan. Saya menjadi tidak produktif menulis karena merasa ide jarang datang.

Ini nyata dan para penulis pemula pasti merasakannya. Tapi tahukah kamu, ada beberapa orang yang kebanjiran ide tulisan sampai tidak punya cukup waktu untuk menuliskan ide-idenya.

Ini akan memudahkan untuk menjadi penulis produktif jika kamu tahu caranya. Saya akan sampaikan beberapa cara mendapatkan ide.

Teman saya bilang, cara dapat ide bisa dengan menentukan tema. Ada tiga cara mendapatkan tema: ada unsur ambigu, dilema, dan krisis.

Kalau ada masalah yang sering dibahas dan masalahnya tidak selesai-selesai, itulah ambigu. Kamu bisa urai kembali masalah itu lalu tulisakan bagaimana versimu dalam menyelesaikannya.

Kemudian dilema. Dilema seperti istilah buah simalakama. Dalam dunia politik contohnya politik uang. Kalau tidak ada money politik, orang tak mau nyoblos. Kalau ada money politik sama halnya melanggar aturan. Bagaimana solusinya menurutmu. Jadikan tulisan!

Kemudian krisis. Artinya, ramai diperbincangkan. Saat ini banyak kejadian viral di medsos. Itu bisa kamu soroti dan kemukakan pendapatmu dalam bentuk tulisan.

Ada yang lebih sederhana dan kamu bisa menulis saat ini juga.

Saya akan mengutip Danny Forest yang memberikan 21 tips untuk mendapatkan ide tulisan. Saya akan sampaikan salah satunya yang saya anggap paling mudah dan sederhana.

Coba anda perhatikan obrolan anda atau obrolan teman atau kolega anda setiap hari. Dari banyak hal yang anda bicarakan atau yang orang lain bicarakan bisa menjadi bahan untuk menulis. Perkuat dengan membaca beberapa referensi yang relevan.

Jika kita merasa apa yang kita bicarakan atau orang sekitar kita penting, maka pembicaraan itu kemungkinan memang penting untuk dibahas. Kita mengulasnya menjadi tulisan. Atau jika kita suatu waktu ditanya satu hal yang penting dan kita menjawabnya, atau kita bertanya hal penting dan orang lain menjawabnya, itu juga bisa dijadikan bahan tulisan.

Menulislah apa yang sudah kita pahami untuk dijelaskan kepada pembaca. Karena boleh jadi pembaca tulisan kita belum tahu apa yang sudah kita ketahui. Maka kita telah berkontribusi bagi mereka.

Menulis untuk berbagi pengetahuan.

Mau menulis ketika datang ide?

Jangan!

Nanti anda akan terasa sangat sibuk dan ini melelahkan.

Tentukan Tujuan
Sekali lagi, menentukan tujuan dalam menulis sangat penting. Ini akan membantu kita dalam berproses.

Untuk mendapatkan uang?

Untuk menjadi terkenal?

Untuk mengabadikan pemikiran?

Untuk menyebarkan pengetahuan kepada orang lain?

Atau, untuk berbagi pengetahuan?

Atur Waktu
Berapa banyak tindakan positif yang kita lakukan setiap hari? dalam 24 jam apa saja yang biasa kita lakukan?

Coba kelompokkan. Lebih banyak mana antara tindakan postif-produktif dengan tindakan yang negatif-sia-sia.

Dari sana, barangkali kita bisa sadar untuk meningkatkan kualitas diri. Salah satunya dengan menulis. [dutaislam.com/pin]

*Penulis adalah Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Alumni Pondok Pesantren Mashlahatul Hidayah Sumenep Madura.


close
Banner iklan disini