Penjelasan MUI, Beda Perang Badar dan Doa yang Benar
Cari Berita

Advertisement

Penjelasan MUI, Beda Perang Badar dan Doa yang Benar

Duta Islam #03
Rabu, 27 Februari 2019

Neno Warisman. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Puisi 'Mengancam Allah' Neno Warisman di Munajat 212, Kamis (21/02/2019), jadi sorotan banyak pihak. Neno Warisman dinilai tidak tepat. Apalagi ada yang menyamakan Pilpres dengan perang badar. MUI ikut menjelaskan permasalahan tersebut.

Dilansir dari TribunNes.Com, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorum Ni'am menilai isi doa tersebut tidak salah. Doa tersebut wirid dari Rasulullah Muhammad SAW dan disebutkan dalam hadis Bukhari dan Muslim.

Namun 'doa yang mengancam Allah' yang terselip dalam Puisi Munajat 212' yang dibacakan Neno Warisman menjadi bermasalah karena konteksnya tidak tepat.

Asrorum Niam mencontohkan doa hendak masuk kamar mandi. Isi doanya bagus meminta perlindungan Allah SWT dari godaan jin laki-laki dan perempuan. Namun doa itu menjadi tidak tepat ketika dibaca saat hendak mengunjungi rumah tetangga.

"Sama halnya doa talbiyah manasik haji, doanya bagus, tapi menjadi tidak tepat ketika dibaca di agenda yang lain," katanya.

Asrorum Niam menceritakan, 'doa yang mengancam Allah' itu pernah dibacakan oleh Rasulullah Muhammad SAW secara khusuk pada saat hendak Perang Badar. Perang Badar adalah perang pertama kali yang dilakukan oleh umat Islam melawan orang-orang kafir Qurais.

Saat itu, jumlah paskan Islam 315 orang dan akan melawan pasukan kaum kafir Qurais yang jumlahnya 1.000 orang dengan persenjataan yang lengkap dan pasukan berkuda.

"Rasullullah Muhammad SAW dengan keimanannya bahwa Allah SWT akan menolongnya. Dia terus berdoa sampai-sampai selendangnya terjatuh," katanya.

Rasulullah Muhammad SAW berdoa agar memenangkan umat Islam dalam perang Badar. Jika umat Islam kalah, maka dia khawatir tidak akan lagi yang menyembah Allah SWT.

"Perang itu dilakukan di tahun kedua Hijriah, jadi umat Islam itu masih sangat sedikit. Maka wajat jika Rasulullah berdoa demikian. Dalam kontek sekarang tentu berbeda," ujarnya.

Menurut Asrorun, saat ini konteksnya adalah pemilihan presiden atau Pilpres 2019, yakni mencai pemimpin terbaik di antara yang baik.

"Di ini ada ulama, di sana juga ada ulama. Di sini ada pengusaha di sana, juga ada pengusaha. Jangan membuat frame seolah-olah perang Badar, satu menang mengambil semua, dan yang kalah kiamat," ujarnya.

Menurutnya, dalam doa perlu ada niat baik, ketulusan, agar hasilnya menjadi baik. [dutaislam.com/pin]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah