Ngaji Ihya': Melihat Aib Diri Sendiri
Cari Berita

Advertisement

Ngaji Ihya': Melihat Aib Diri Sendiri

Duta Islam #02
Senin, 25 Februari 2019

Kopdar Ihya' di Masjid Agung Jawa Tengah
Oleh Gigih Firmansyah

DutaIslam.Com - "Ketika Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, Allah akan melihatkan kepada hamba tersebut tentang aib-aibnya sendiri." Demikian kalimat pertama Al-Ghazali dalam bab penjelasan bagaimana cara seseorang mengetahui aib-aibnya sendiri. Gus Ulil menegaskan, "bukan aib orang lain."

Seketika, teman ngaji sebelah saya berujar, "momentnya kok pas ya dengan fenomena politik hari ini". Saya menimpali, "iya, entah, Ihya' hari ini banyak yang pas dengan fenomena sekarang." Perkataan saya sebenarnya menirukan apa yang disampaikan Gus Ulil ketika ngaji di Bangsri, Jepara. Beliau juga mengatakan begitu.

Al-Ghazali kemudian melanjutkan, barangsiapa mata batinnya tajam, maka tidak samar baginya mengetahui aib-aibnya sendiri. Ketika seseorang mengetahui aibnya, dia akan bisa menyembuhkan. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui aib-aib dirinya sendiri; mereka melihat debu di mata saudaranya, tapi tidak melihat belelek di matanya sendiri.

Kemudian Al-Ghazali memberikan resep bagaimana seseorang bisa mengetahui aib dirinya sendiri melalui empat jalan.

Pertama, duduk dengan (mempunyai) seorang guru yang memiliki mata batin yang tajam, yang mampu melihat aib seseorang tersebut, sehingga mampu menunjukkan samarnya ke'afatan (kerusakan). Guru tersebut seperti hakim bagi jiwa orang tersebut, ia mengikuti isyaroh sang guru di dalam mujahadahnya. Dan inilah keadaan murid dengan gurunya, maka sang guru memberitahu aib-aib nafsunya, dan memberitahu cara bagaimana mengobatinya. Namun, Al-Ghazali mengatakan, guru seperti ini sudah langka adanya.

Bayangkan, pada zaman Al-Ghazali saja, beliau sudah berkata demikian, apalagi sekarang?

Kedua, mencari teman yang jujur, yang memiliki ketajaman mata batin dan ketajaman rohani. Orang tersebut menjadikan temannya ini sebagai pengawas atas dirinya, supaya mengawasi keadaan dan perbuatan-perbuatannya. Maka ketika seseorang tersebut diketahui melakukan tindakan yang tidak baik dan mempunyai aib-aib baik batin maupun dzahir, maka teman tersebut akan mengingatkannya. Dan yang seperti ini, dilakuan oleh orang-orang cerdas dan ulama-ulama besar pada masa lalu. Sebagaimana yang dilakukan Sayyidina Umar RA. bertanya tentang aibnya kepada Sahabat Salman Alfarisi, dan kepada Sahabat Hudzaifah Shohibus sir Rasulullah bertanya tentang bekas-bekas kemunafikan apakah masih ada di dalam diri Sayyidina Umar RA.

Al-Ghazali kemudian mengatakan, barangsiapa yang lebih sempurna akalnya dan lebih tinggi derajatnya (di sisi Allah), maka dia lebih sedikit rasa bangganya dan lebih besar rasa curiganya terhadap dirinya sendiri.

Teman yang seperti di atas, kata Al-Ghazali, juga jarang ada. Yakni teman yang meninggalkan bermanis-manis dan bisa memberitahu aib-aib (nafsu) seseorang, atau meninggalkan hasut sehingga tidak menambahi apa yang semestinya disampaikan kepada orang tersebut. Kebanyakan teman tidak bisa meninggalkan hasut atau sebagai orang memiliki tujuan sehingga tidak bisa melihat aib sebagai aib. Atau dia suka bermanis-manis sehingga sebagaian aibmu tidak diketahui.

Gus Ulil menjelaskan, memang, standar kitab Ihya' sangat tinggi, tapi kita tidak boleh berputus asa. Ia menganologikan dengan target. Orang harus mempunyai target yang tinggi. Ibarat seseorang mempunyai target sepuluh maka ia mendapatkan lima sudah lumayan bagus, ketika orang hanya mempunyai target lima maka ia cuma mendapatkan dua atau tiga, tidak sampai lima.

Adapun cara yang ketiga dan keempat akan dibaca Gus Ulil pada pertemuan berikutnya, semoga saya bisa membuat catatan berikutnya. [dutaislam.com/gg]

Catatan Penulis mengikuti ngaji Ihya' Ulumiddin dengan Gus Ulil Abshar Abdalla di Masjid Agung Jawa Tengah (MA JT), Semarang, Sabtu 23 Febuari 2019.

close
Banner iklan disini