Asumsi Hoax Dibalik Doa "Ancaman" Neno Warisman
Cari Berita

Advertisement

Asumsi Hoax Dibalik Doa "Ancaman" Neno Warisman

Duta Islam #03
Sabtu, 23 Februari 2019

Neno Warisman. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com -  Rois Syuriah PCI NU Australia Nadirsyah Hosen membuat postingan menarik di akun Twitternya, Jumat (22/02/2019). Postingan berbentuk dialog itu berbunyi begini:

“Gus, ada doa pakai data hoax, yah?”

“Maksudnya?”

“Ada yang doa kalau kubu dia gak menang, gak ada laga yang nyembah Allah. Buktinya sejak kalah 2014, jadi shalat di Monas dan yang tadinya gak tahu jumatan, dimana sekarang jadi ngundang jumatan. Kan namanya Tuhan dikasih data hoax.”

“Halah!”

Entah dialog itu fiktif atau ada orang yang bertanya demikian kepada Gus Nadir. Yang jelas, postingan itu ada kaitan erat dengan sebuah puisi doa yang dibacakan Pendukung Prabowo Neno Warisman dalam acara munajat 212 di Monas Jakarta, Kamis (21/02/2019) malam.

Neno mendadak ramai disorot karena potongan puisinya yang bernada mangancam Tuhan.

" ...dan jangan, jangan kau tinggalkan kami, dan menangkan kami, karena jika engkau tidak menangkan, kami khawatir ya Allah.. Kami khawatir ya Allah.. Tak ada lagi yang menyembah-MU, ya Allah..." demikian potongan puisi doa Neno Warisman.

Doa Itu Pernah Diucapkan Rasulullah
Doa senada pernah diucapkan Rasulullah pada saat perang Badar. Jumlah pasukan nabi saat itu hanya 319. Sedangkan pasukan musyrikin Mekah ribuan orang.

"Ya Allah tunaikan apa yang telah Engkah janjikan kepada kami, ya Allah datangkan apa yang Engkau janjikan kepada kami, jika pasukan muslim yang sedikit ini kalah, Engkau tak akan lagi disembah dimuka bumi". (Dalam redaksi Bukhari لم تعبد بعد اليوم أبداً, Engkau tak akan disembah setelah hari ini selamanya).

Nabi terus bermunajat kepada Allah ketika kedua pasukan sudah berhadapan. Nabi  menengadahkan tangan dalam keadaan menghadap qiblat, sampai rida, kain yang menjuntai dipundak beliau saw jatuh. Kemudian Sayidina Abu Bakar mengambil rida dan menempatkan rida di pundak nabi. Sayidina Abu Bakar berdiam dibelakang nabi dan berkata:

"Duhai Nabi Allah, cukup permohonan panjenengan kepada Allah, pasti Allah menunaikan apa yang dijangjikanNya kepadaMu" kata Abu Bakar.

Kita perlu cermat menilai doa dan peristiwa Nabi Muhammad saat itu. Jelas, umat Islam sedang berhadapan dengan kaum musryikin. Jika pasukan Nabi kalah, maka umat Islam akan habis dan Islam tidak akan hidup sampai sekarang. Andai nabi meninggal saat itu, risalah ajaran Islam tidak akan sampai sempurna kepada umat Islam.

Kekhawatiran Nabi masuk akal dan bisa dipertanggungjawabkan.

Neno Warisman memakai doa itu. Entah karena membaca kisah nabi atau hanya dengar dari orang lain. Tetapi memakai doa itu untuk Pilpres jelas tidak tepat. Pertama, Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 bukan peperangan, apalagi peperangan agama antara Muslim dan Non Muslim. Pilpres hanya persoalan memilih pemimpin, baik Paslon Jokowi-Amin maupun Paslon Prabowo-Sandi sama-sama orang Islam.

Kedua, agama Islam sudah berkembang ke seluruh penjuru dunia. Sekalipun misalnya tidak ada lagi umat Islam di Indonesia, masih banyak umat Islam di luar Indonesia. Mereka akan menyembah Allah.

Sulit Ditolak Doa Itu untuk Kemenangan Prabowo
Ada yang mencoba mengaburkan puisi doa Neno Warisman. Ketika dimintai komentar puisi doa Neno Warisman, politisi PKS Fahri Hamzah mengelak bahwa puisi doa Neno untuk Kemenangan Prabowo. Alasannya, Neno tidak menyebut nama Prabowo dalam doa itu.

"Setahu saya, dia nggak sebut nama Prabowo. Kan nggak bisa diperjelas. Namanya doa, itu private pada dasarnya," kata Fahri sebagaimana dilansir dari detik.com.

Begitulah cara politisi mengelak. Padahal publik tahu fakta-fakta: pertama, banyak tokoh-tokoh elit pendukung Prabowo yang datang ke Munajat 212, seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah sendiri.

Kedua, publik juga tahu Neno Warisman pendukung Prabowo Subiyanto.

Ketiga, gerakan 212 kental dengan politik yang selama ini kerap mencecar Jokowi dan lebih condong kepada Prabowo.

Sulit ditolak jika puisi doa Neno Warisman tidak untuk kemengan Prabowo. Apalagi jika disebut bahwa doa itu untuk kemenangan Jokowi.

Sepanjang sejarah, barangkali kita belum pernah menemukan, pendukung salah satu paslon justru berdoa untuk kemenagan paslon lawan.

Indikasi lain dapat kita lihat di puisi doa Neno versi lengkap. Doa itu bukan sekedar rintihan hati seseorang di ruang kosong. Tetapi sebuah peristiwa sejarah yang kental dengan politik.

Asumsi Hoax Dibalik Doa Neno Warisman
Membicarakan sesuatu yang belum terjadi bisa berarti asumsi. Kekhawatiran Nabi bahwa tidak akan ada lagi yang menyembah tuhan seandainya kalah dalam perang Badar juga asumsi. Tetapi kekhawatiran Nabi logis. Umat Islam saat itu masih sedikit dan risalah kenabian belum sempurna diturunkan.

Nabi tidak mengancam apalagi memberikan data hoax kepada Tuhan.

Bagaimana dengan Doan Neno Warisman?

Neno berasumsi berdasarkan emosi. Bukan menggunakan data lapangan dan penalaran yang benar.

Neno tentu tahu, Jokowi bukan kali pertama memimpin Indonesia. Jokowi telah menjadi Presiden RI sejak 2014 dan nyatanya, tidak ada yang berhenti menyembah Allah dipimpin oleh Jokowi. Seandainya Jokowi non Muslim dan selama ini dikenal benci terhadap Islam dan umat Islam, barangkali asumsi Neno masuk akal dan kehawatirannya layak dipertimbangkan.

Sepertinya benar postingan Gus Nadir.

“Gus, ada doa pakai data hoax, yah?”

“Maksudnya?”

“Ada yang doa kalau kubu dia gak menang, gak ada laga yang nyembah Allah. Buktinya sejak kalah 2014, jada shalat di Monas dan yang tadinya gak tahu jumatan, dimana sekarang jadi ngundang jumatan. Kan namanya Tuhan dikasih data hoax.” [dutaislam.com/pin]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah