Minggu, 18 November 2018

Membongkar Kamuflase Khilafatul Muslimin Bendera Tauhid Hijau


Oleh Abdulloh Faizin

DutaIslam.Com - Devinisi awal taqiyyah atau kamuflase berdasarkan akar katanya, berasal dari kata «وقاية» yang memiliki arti penjagaan diri, seseorang atau sesuatu dari gangguan dan bahaya musuh. Oleh karena itu, pengertian taqiyyah adalah seseorang melakukan sebuah perbuatan sedemikian rupa sehingga dengan perbuatannya itu mencegah gangguan musuh terhadap jiwa, harta dan harga diri seorang muslim. Taqiyyah memiliki bentuk yang bermacam-macam, salah satu bentuknya adalah taqiyyah dari tekanan dan ancaman musuh

Viral gerakan sempalan baru dengan kalimat Tauhid bertuliskan di bendera berwarna hijau dengan arak-arakan yang membuat geli di jalanan itu adalah bagian dari kedok para pengasong khilafah yang terbentuk dari "harokah damiyah", yaitu gerakan Timur Tengah yang dinisbatkan dengan gerakan darah dari pembrontak yang memporak porandakan Yaman Siria dll. Wajah dan ekspresi boleh beda, namun otak dan tujuan bahkan hakekatnya sama.

Mengapa mereka melakukan taqiyah? Karena mereka ingin selamat dengan logika. Jika mereka menggunakan wajah aslinya, maka akan babak belur terseret ke dalam jebakan sebagai bagian dari kegiatan ormas terlarang dan menjadi pemberontak. Untuk mengantisipasi hal tersebut, mereka reingkarnasi, berganti wujud.

Mereka mereka yang meneriakan dan mentahbiskan diri sebagai mujahid mujahid perang lil i'lai kalimatillah tidak lain hanyalah kelompok yang haus kekuasaan dengan cara licik, halus bahkan anarkis, dan kadang tidak masuk akal.

Radikal dan Anarkhis

Lihatlah moncong molotof yang diarahkan pada warga sipil di Suriah sebelun ditembakkan, terdengar menggelegar Allahu Akbar. Kalimat Laa ilaha lla Allah berkibar terus dengan sulutan api peperangan. Sangat mengerikan bukan? Kini sebagian negara di Timur Tengah hancur berkeping-keping karena provokasi kalimat Tauhid dan dengungan takbir, yang dijadikan kedok aksi aksi jahatnya.

Fenomena fenomena ini mulai muncul sepordis di Indonesia dikuatkan dengan da'i yang tak jelas sanad gurunnya, mengaungkan dan menggiring kebencian provokatif di mimbar-mimbar khutbah dan majelisnya dengan menyatakan "tidak ada hukum selain hukum Allah" seperti yang dikatakan oleh pembunuh sebelum membunuh para khalifah zaman Nabi. 

Mendengar kalimat itu, Sayyidina Ali k.w berkata, "apa yang mereka katakan adalah kalimat benar seperti seakan membela hukum Allah, jihad fi sabilillah, dan keadilan Tuhan. Namun hanya digunakan untuk kebathilan, yakni membunuh dan mengadu domba".

Namun pemerintah dan masyarakat sudah cerdas mengenali kedok apapun dari mereka, misal lewat bendera hitam, putih apalagi hijau. Semuanya adalah kamuflase belaka, yang dengan sendirinya terkuliti dan lumat seperti pisang masak oleh hukuman pemerintah dan hukuman sinis pandangan moralitas bangsa Indonesia.

Tanpa dihancurkan, mereka akan hancur dengan sendirinya. Tanpa ditolak, mereka akan tertolak sendirinya karena Allah mboten sare. Dan yang perlu dipahami, ini negara para wali Allah, yang dengan wasilah kepada mereka, Allah akan menyelamatkan dan merahmati bangsa Indonesia.

Yang harus dilakukan  oleh para generasi yang pandai menulis dan mendskripsi tulisan adalah terus  memberikan jawaban dan pemahamam Islam yang damai, yang menjadi solusi atas kebingungan masyarakat terhadap tipu daya kelompok radikali teroris berkedok ayat suci dan kalimat Tauhid. Semua ditujukan agar mereka tidak ikut hanyut terjerembab dalam kelompok dan persekongkolan sesat dikemudian hari.

Sekali lagi lagi jangan kena tipu tipu oleh warna bendera. Intinya tetep satu tujuan, mereka memberontak dan menegakkan khilafah. Kita selamat selamatkan anak cucu dan NKRI dari bahaya kejahatan mereka. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini