Jumat, 07 September 2018

Kenapa Ansor-Banser yang Dibully?

Apel kebangsaan Banser. Foto: istimewa
Oleh Ruchman Basori

DutaIslam.Com - Meyakinkan orang bahwa negeri ini sedang dalam bahaya intoleransi dan radikalisme, bahkan bisa lebh fatal dari itu mengarah ke terorisme, tidak gampang. Alih-alih mengajak orang untuk bersama-sama menjadikan radikalisme sebagai musuh bersama (comon anamy), malah kita yang menjadi bulan-bulanan diserang dan dibully.

Itulah yang dialami oleh Gerakan Pemuda Ansor dan Banser. Tiap hari tidak pernah sepi dari fitnah, cacian, makian, bulying dan sumpah serapah dari mereka yang merasa terganggu kepentingannya. Tidak jarang juga Ansor kerap disalahpahami gerakannya oleh internal NU sendiri. Boleh dikatakan Ansor dan Banser berjuang sendirian, bersuara lantang melawan kelompok yang intoleran dan radikal.

Pertanyaannya, mengapa mereka membully atau menyerang Ansor-Banser? Bukan organisasi kepemudaan lainnya? Tentu bukan tanpa sebab, ada agenda besar mereka yang terganggu dengan keberadaan Ansor-Banser lengkap dengan gerak langkahnya di nusantara ini.

Sebagaimana organisasi induknya Ansor-Banser berpaham Islam ahlussunnah wal jamaah yang moderat dan toleran. Islam dipahami sebagai agama kasih sayang, memberikan rahmat tidak saja bagi umat Islam sendiri tetapi juga manusia di muka bumi ini, Islam adalah rahmatan lil alamin. Gus Yahya sapaan KH. Yahya Cholil Tsaquf Katib ‘Am PBNU mengkampanyekan Islam Rahmah.

Bagi Ansor-Banser bergaul dengan yang lain yang berbeda keyakinan (the other) tidak masalah, bahkan itu adalah bagian dari membumikan Islam yang dikehendaki Nabi Muhammad Saw. Sementara kelompok yang membuly Ansor-Banser meyakini the other adalah mengancam makanya harus dijauhi, dilawan, dibenci bahkan dipandang kafir yang haram baginya bergaul dengannya. Jadi mereka memusuhi Ansor-Banser, karena tidak menghendaki umat Islam Indonesia hidup rukun dalam bangunan nation state bernama Indonesia.

Ansor-Banser mempunyai paham kebangsaan yang tinggi
Bagi Ansor menjadi muslim juga harus menjadi Indonesia demikian pula sebaliknya. Komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan dilakukan dalam satu tarikan nafas kata Yaqut Cholil Qaumas Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor.

Jargon Pancasila Jaya dan NKRI Harga Mati, yang kerap disuarakan Ansor, telah mengganggu telinga mereka. Agenda mengubah dasar negara dan NKRI dengan sistem khilafah Islamiyah terancam mati sebelum lahir, kerana ulah Ansor. Bagi Ansor memperahankan Pancasila dan NKRI adalah sebuah kewajiban, karena itu sudah menjadi konsensus bersama para pendiri bangsa (the founding father) termasuk para ulama.

Secara teologis Ansor-Banser yang nota benenya adalah kaum santri mempunyai keyakinan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari keimanan (hubbul wathon minal iman). Doktrin dan ajaran para ulama itu dijadikan landasan hidup dalam berbangsa dan bernegara. Lagi-lagi kepentingan mereka terganggu oleh Ansor, karena doktrinnya maha dahsyah tidak bisa ditukar dengan apapun yang sifatnya duniawiyah. Itulah penyebab kenapa mereka membully Ansor-Banser tanpa lelah, terutama melalui media sosial tanpa jeda.

Ketiga, Ansor adalah organisasi kepemudaan yang mempunyai code of condac yang jelas. Aturan main yang terstruktur dari pusat hingga ke desa-desa. Tidak mudah menghancurkan Ansor-Banser, apalagi didukung dengan kultur dan tradisi yang kuat sebagai komunitas yang saling menopang, bekerjasama, hidup sederhana dan bersahaja dalam keterbatasan.

Mengiming-imingi para anggota Ansor-Banser dengan kekuasaan dan uang sunggu akan-sia-sia belaka. Karena bagi sahabat Ansor, dengan menggadaikan dirinya demi uang dan kekuasaan akan mendatangkan malapetaka bagi kehidupannya. Tidak saja akan melanggar nilai-nilai agama tetapi juga akan melanggar tata nilai ke-NU-an yang telah diajarkan sejak kecil dan melalui berbagai pelatihan dan pendidikan kader.

Keempat, mereka menyerang institusi keulamaan yang selama ini dikawal dan dijaga sebagai marwah organisasi NU. Bagi Ansor dan Banser menjaga ulama adalah kewajiban karana al-ulamaau waratsatul anbiyaa (ulama adalah pewaris para nabi). Jangan coba-coba menghina ulama, pasti akan berhadapan dengan Ansor-Banser. Sudah banyak orang dan kelompok yang karena mengina kyai NU harus beradapan dengan Banser. Oleh Banser para penghina itu diajak berdiskusi dan berdialog kenapa mereka membenci ulama NU. Namun jika dinasehati tidak mempan, Tim LBH Ansor sudah siap mengantarkannya ke meja hijau. Ini barangkali yang menjadikan mereka menyerang Ansor-Banser, karena upaya mereka meruntuhkan keulamaan ditubuh NU selalu gagal total. Wallahu a’lam bi al shawab. [dutaislam.com/gg]

Source: Ruchman Basori

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini