Jumat, 17 Agustus 2018

Mayoran, Metode Santri Atasi Masalah

Santri makan bersama demi keakraban. Foto: Istimewa.
Oleh Zaim Ahya

DutaIslam.Com - Hidup bermasyarakat dan berorganisasi tentu tak bisa lepas dari masalah, seperti perbedaan pandangan, bahkan konflik yang bisa berujung perpecahan. Mengatasi masalah demikian, setiap komunitas biasanya memiliki cara masing-masing, begitu juga dengan santri ketika di pesantren.

Pesantren bisa dikatakan masyarakat kecil atau miniatur masyarakat. Belajar di pesantren, selain mempelajari ilmu agama, juga belajar ilmu bermasyarakat. Bagaimana tidak, hampir, bahkan semua kegiatan santri di pesantren berhubungan dengan yang lain.

Contoh sederhana, satu kamar yang lebarnya hanya beberapa meter persegi ditempati lebih dari sepuluh orang. Ketika santri mau tidur, mengambil baju, mengambil kitab tentu tidak lepas dari bantuan atau minimal mohon permisi demi kenyamanan bersama. Contoh lain ketika mandi, antre menjadi seakan sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan. Belum lagi hal-hal yang berhubungan dengan organisasi, baik tingkat kamar ataupun kelas.

Lalu bagaimana komunitas santri tersebut menyelesaikan masalahnya ketika terjadi gesekan atau perbedaan pendapat? Satu tradisi yang tampaknya khas pesantren, kendati mungkin tidak didesain secara khusus, tapi efektif dalam mengatasi ataupun melerai konflik. Santri-santri menyebutnya dengan istilah mayoran.

Mayoran berarti memasak dan makan bersama khas santri, tanpa membedakan strata sosial. Pengalaman penulis ketika nyantri di Pondok Alfadllu, Kaliwungu, mayoran sebuah acara dari santri untuk santri. Mulai dari membeli bahan makanan yang akan dimasak seperti beras, bumbu yang meliputi cabai, bawang dan sebagainya, kayu bakar hingga proses memasaknya dilakukan oleh santri.

Waktu mayoran biasanya di awal, pertengahan dan akhir tahun. Tujuannya menyamakan visi, merapatkan barisan dan syukuran seperti naik kelas, khatam ngaji kitab atau hafalan. Tiga waktu tersebut bukanlah patokan, kadang untuk waktu-waktu tertentu mayoran juga dilaksanakan para santri, minimal sebagai hiburan.

Pada momen mayoran ini, kalau dalam tingkat kamar, ketua kamar menyampaikan kebijakan pengurus kamar, dan menerima usulan dari anggota kamar untuk kebaikan kamar ke depan. Dalam tingkat kelas, hampir sama ketua kelas ditambah rois am menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan kekompakan dan keberlangsungan belajar di kelas, biasanya juga ada sambutan wali kelas mengarahkan.

Sedangkan dalam organisasi tingkat komplek atau asrama—biasanya disebut jam'iyyah--ketua komplek memberikan arahan kepada jajarannya supaya bisa kompak menjalankan amanat yang bertugas membangunkan teman-teman santri dan mengawal kegiatan jamaah dan ekstra di tingkat asrama.

Dan dalam momen-momen tertentu, mayoran diagendakan untuk mengatasi sebuah masalah. Misalnya ketika terjadi kerenggangan antar anggota kelas atau kamar. Kerenggangan atau konflik tersebut akan selesai setelah mayoran, baik pada momen bincang-bincang sesaat setelah mayoran atau waktu proses memasak karena menuntut kerja sama sehingga keakraban pun terajut kembali. Bisa jadi motivasi mayoran untuk menguatkan kembali semangat yang telah mengendur, baik tingkat kamar, kelas ataupun komplek.

Bagaimana masalah tidak selesai kalau makan dalam satu nampan, minum kopi dari satu gelas, bahkan merokok bersama untuk satu batang rokok? Yang terakhir ini dikenal dengan istilah join, yang akhir-akhir ini lagi rame pula. [dutaislam.com/pin]

Zaimuddin, Penulis lepas tinggal di Batang Jawa Tengah. 

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini