Selasa, 28 Agustus 2018

Ceramah dengan Kebencian Tak Akan Masuk dalam Hati

Ilustrasi marah. (istimewa)
DutaIslam.Com - Di antara keistimewaan dan kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada para kekasih Allah, para Nabi dan para Wali adalah nasehat, ungkapan dan perkataan mereka yang akan senantiasa abadi tak lekang dimakan waktu.

Ungkapan mereka akan mudah dicerna walaupun tidak dibungkus dengan retorika yang muluk-muluk. Hal ini karena cahaya para kekasih Allah itu akan mendahului ungkapan-ungkapan mereka dan akan sampai kepada hati orang-orang yang mendengarkan sebelum apa yang dikatakannya itu sampai.

Demikian dikatakan KH Muhammad Nur Hayid, Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) saat memberikan penjelasan hikmah nomor 184 dari Kitab Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari di Jakarta, Sabtu (04/08/2018).

"Selain karena ini (perkataan kekasih Allah, red) adalah doktrin, tapi kalau kita cermati dari hati terdalam, karena nasehat-nasehat dan ungkapan-ungkapan atau aqwal (perkataan) dari kalimat itu keluar dari hati yang bersih sehingga akan langsung masuk ke dalam hati kita," jelasnya.

Jadi ketika ada orang yang tidak mendapatkan hidayah atau tidak bisa menerima hidayah itu dikarenakan dalam hatinya sudah memiliki mental blocking (menolak), mental untuk menutup masuknya cahaya dan kebenaran itu.

Oleh karenanya Islam sangat menganjurkan perilaku husnudzan (berbaik sangka) karena sekali perilaku su'udzan (berburuk sangka) dibiarkan, maka akan mulai merayap menguasai hati manusia. Sehingga hati manusia akan menjadi keras dan gelap.

"Kalau hati sudah keras dan gelap, jangankan cahaya, diberi sinar mataharipun tidak akan bisa menembusnya. Seperti kaca yang telah berdebu sangat pekat menjadikan ruangan menjadi gelap sampai sinar matahari pun tidak tembus kedalam ruangan," jelas Kiai muda yang akrab disapa Gus Hayid ini.

Demikianlah hati manusia, jika disiapkan terus menerus untuk dibersihkan dengan melawan hawa nafsu, maka cahaya Allah akan mudah untuk sampai. Ketika cahaya Allah sudah sampai, maka akan terwujud dalam kata-kata yang diucapkan. Sehingga perkataannya pun akan mudah dicerna, mudah dipahami karena masuk dari hati yang bersih.

"Kata-kata yang keluar dari hati, ikhlas karena Allah, bukan dipadu oleh retorika maka ia akan sampai pada hati orang yang mendengarnya. Begitu juga kalau kata-katanya hanya dipadu oleh retorika, ia hanya akan sampai kepada akal orang yang mendengarnya," jelasnya.

Gus Hayid yang juga anggota Komisi Dakwah MUI Pusat ini menegaskan jika sesuatu yang berasal dari hati pasti akan bermuara kepada hati. Kata-kata yang diungkapkan dari hati pasti akan dicerna dan masuk ke dalam hati seseorang yang mendengarnya.

"Tapi kalau sesuatu itu hanya berasal dari otaknya pasti akan hanya bermuara pada otak dan sudah pasti sangat mudah untuk dilupakan atau bahkan tidak terpahami dan menjadi salah paham. Apalagi kalau kata-kata itu berasal dari nafsunya. Kalau ada ungkapan berasal dari nafsu, pasti akan bermuara pada nafsu-nafsu yang lainnya," tegas Gus Hayid.

Jadi menurutnya, jika ada seseorang berceramah dengan kebencian, amarah maka tidak akan pernah masuk dalam hati yang mendengarkannya karena hanya akan melahirkan kebencian dan amarah-amarah yang baru dari para pendengarnya.

"Kalau ada ceramah ustadz atau siapa pun di televisi atau di sosial media. Ayo kita olah rasa olah jiwa. Apa yang kita dapatkan setelah mendengar ceramah itu? Kalau kita mendengarkan ceramah lalu mendapatkan kebahagiaan, ketenangan hati, merasa semakin hina kita dihadapan Allah, lalu terdorong hati kita untuk beribadah kepada Allah, tidak dengan menyalahkan orang lain, tidak sibuk dengan mencari aibnya orang lain tapi sibuk dengan aib kita sendiri, itulah cahaya dari Allah SWT," katanya.

Tetapi kalau kita mendengarkan ceramah lalu dari ceramah itu melahirkan kebencian-kebencian yang baru dan memunculkan perasaan bahwa kita paling Sunah, paling bersih, paling Quran, paling dekat dengan Allah, paling ahli ibadah dan paling sesuai dengan Quran dan Sunah, kemudian yang tidak sama dengan pemahamannya itu adalah sesat, bid'ah, syirik bahkan kafir maka sesungguhnya ceramah itu tidak berasal dari hati dan ceramah tersebut berasal dari nafsu.

"Siapa yang memulai dari kebencian dan amarah pasti akan bermuara kepada permusuhan dan kebencian yang baru," tegasnya.

Oleh karena itu lanjutnya, Islam mengajarkan tentang pentingnya berakhlak karena contoh dan teladan dari akhlak, jauh lebih penting dari pada nasehat. Seseorang yang pintar berceramah, pandai menasehati orang, tapi kalau kelakuan yang bersangkutan bejat, maka sudah hampir bisa dipastikan tidak akan pernah memiliki efek dan pengaruh apapun di hati umat atau masyarakat

"Tetapi banyak orang yang tidak banyak bicara tetapi akhlaknya luar biasa sebagai pancaran dari hatinya yang bersih, maka meskipun perkataannya satu atau dua kali maka akan didengarkan," pungkasnya. [dutaislam.com/faizin/gg]

Source: NU Online

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini