![]() |
Ilustrasi: Istimewa |
Disaat tidak ada pilihan lain selain melawan dan mati atau melawan dan tertangkap, Pangeran Diponegoro melantunkan bait Sholawat Burdah dengan segala kepasrahan yang total :
وقاية الله أغنت عن مضاعفة … من الدّروع وعن عال من الأطم
“Perlindungan Allah jauh lebih berlimpah, dari sekedar baju besi berlapis dan dari benteng yang kokoh nan tinggi”
Allah SWT pun menjawab do’a Sholawat Burdah yang dilantunkan Pangeran Diponegoro, dengan mengutus Malaikat menyampaikan kabar :
“Tidak usah ragu wahai Kekasih Allah, lompatkan kudamu kedalam Rawa yang membentang didepanmu”
Pangeran Diponegoro pun menjawab :
“Sami’naa wa atho’naa”
Pangeran Diponegoro membedal kudanya diikuti oleh pasukannya yang percaya dan taat kepada beliau, terjun kedalam rawa-rawa yang dalamnya tidak terukur. Atas izin Allah, bukan terperosok ataupun tenggelam, tapi Kuda yang beliau tunggangi bersama pasukannya mampu berlari tegap di atas Rawa Bening, melintasi Rawa Bening hingga Tuntang sejauh 8 Kilometer dengan selamat. Sedangkan tentara Belanda yang mengikuti beliau, terperosok tenggelam ke dalam rawa yang dalam.
Karomah datang di saat yang amat genting. Karomah tidak dipelajari, tapi karomah adalah buah dari riyadloh, ketekunan, keta’atan, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan karomah Sholawat Burdah secara luar biasa mampu menjadi penghubung tanpa batas antara hamba dengan Tuhannya. [dutaislam.com/pin]
Keterangan:
Disadur dari sarkub.com dari KH. Nur Rahmat.
