Asrabi (Aswaja Rasa Wahabi), Ini Dia Cirinya
Cari Berita

Advertisement

Asrabi (Aswaja Rasa Wahabi), Ini Dia Cirinya

Duta Islam #01
Rabu, 21 Desember 2016


DutaIslam.Com - Aswaja (ahlus sunnah wal jamaah) sekarang itu banyak yang kecampuran paham wahabi. Ada yang menyebutnya kecampuran syiah, liberal dan juga radikal. Namun, kali ini Dutaislam.com mengkhususkan pembahasan pada yang wahabi saja mengingat akhir-akhir ini, banyak yang bertanya.

Selain itu, kenyataan bahwa yang selama ini sering menyerang ulama aswaja, khususnya Nahdlatul Ulama, adalah golongan wahabi ini. Mereka memiliki banyak karya, media, dan jaringan yang mudah dibaca serta memang secara terang-terangan menyerang langsung kepada NU. Jadi, cara mendeteksi ajaran dan perilakunya sangat mudah dibanding syiah dan liberal. (Wahabi Indonesia Lebih Galak Daripada Wahabi Arab)

Gerakan syiah cenderung politis. Yang dikutuk oleh wahabi kepada syiah juga hal-hal yang, jika kita mau meneliti, selalu berurusan dengan politik internasional. Kalau wahabi, mereka selalu menyatakan sebagai gerakan pemurnian tauhid, walaupun, jika mau menganalisis, itu hanya pintu masuk negara asal wahabi (Arab Saudi dkk) untuk menguasai generasi muda agar kelak bisa dimanfaatkan untuk mendominasi kepentingan Saudi di pemerintahan.

Beda dengan syiah. Dananya lebih minim dibanding wahabi, yang memang harus melakukan kaderisasi jangka panjang. Mereka harus menghancurkan umat Islam berhaluan aswaja agar mudah bergerak secara politis. Paling tidak, bos-bos petro dolar wahabi harus bisa memecah belah aswaja hingga antar mereka saling hujat dan lebur sendiri.

Inilah yang kemudian disebut Dutaislam.com sebagai Aswaja Rasa Wahabi (Asrabi), yakni, secara praktik keagamaan mereka sama seperti nahdliyyin, tapi lakunya tidak beradab. Ciri paling menonjol adalah merasa paling benar, lalu yang lain salah, disebut tidak mengerti agama, tidak bisa baca kitab kuning, atau paling parah justru menghina dan menistakan.

Bisa jadi ia alim secara syariat, paham dalil-dalil amaliyah aswaja, ditakuti di kalangan wahabi, syiah maupun liberal. Tapi lakunya, innalillah, mudah mengafirkan dan mengerdilkan ulama atau tokoh aswaja lain jika tidak setuju atas pendapat dan ucapannya.

Pemikiran agamanya moderat seperti aswaja, tapi akhlaknya melaknat seperti wahabi. Ia tidak mau berdebat kecuali harus diamini. Dalam kultur santri, ia harus diterima kala memberikan keterangan (qobiltu), walaupun cara yang digunakan adalah dengan merendahkan kiai atau ulama yang lebih kredibel tingkat spiritual dan kezuhudannya.

Di NU, ukuran derajat keulamaan bukan dari ilmunya saja, lebih utama adalah akhlaq, adab dan tatakrama kepada yang lebih sepuh. Kalau sesama santri masih bengkerengan, wajar. Karena faktor adab yang tidak dijaga inilah, Asrabi sering mendapatkan serangan balik anak-anak muda NU. Dimanapun dan kapan pun. Dutaislam.com adalah bagian dari situs yang tugas utamanya adalah menjaga ulama dan NKRI dari Asrabi ini. [dutaislam.com/ ab]

IKLANJUAL KITAB KUNING MAKNA PESANTREN
close
Banner iklan disini