Iklan

Iklan

,

Iklan

Menghidupkan Kembali Karya Ar Raniri dengan Belajar Pegon Melayu

22 Des 2015, 06:12 WIB Ter-Updated 2017-02-04T19:33:32Z

Oleh Rijal Mumazziq Z

DutaIslam.Com - Di IAIN Jember, saya diminta ngajar Mata Kuliah Fiqh untuk kelas D1, D2, & D3 PGMI Tarbiyah. Bukan karena saya mahir di bidang fiqh ini, bukan, itu karena gelar saya ketepatan M.HI dan dulu almarhum bapak saya ngajar MK ini. Jadi ya saya ketiban sampur melanjutkan pengajaran ini dan semoga semester depan tidak disuruh ngajar MK ini. Amiiin.

Di ketiga kelas ini, mayoritas berlatarbelakang pendidikan umum, sisanya alumni Madrasah Aliyah Negeri dan swasta yang belum pernah mondok, sisanya alumni pesantren. Jadi, di sini, pengajaran fiqh mulai dasar yang lebih banyak bersifat pengantar saja. (Semoga adik-adik ini kelak menemukan guru yang lebih mumpuni dibanding saya)

Manakala saya bertanya kepada adik-adik mahasiswa soal aksara Arab-Melayu (aksara pegon) mayoritas tidak bisa membaca rangkaiannya, meski tentu saja mereka menguasai abjad hijaiyah. Hingga pada akhirnya, kami belajar bersama cara membaca aksara ini. Bagi saya, belajar dengan adik-adik mahasiswa soal aksara pegon ini bukan semata tugas akademis saja, melainkan lebih pada mengokohkan kembali identitas kita sebagai muslim nusantara.

Tantangan pertama, sebagai obyek pembelajaran, saya sodorkan kitab Sirath al-Mustaqim karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, mufti Kesultanan Aceh di era Sultan Iskandar Tsani. Inilah kitab yang ditengarai sebagai karya pertama ulama Nusantara (meskipun Arraniri lahir dan wafat di India) yang membahas fiqh Madzhab Syafi'i. 

Ini sebuah tantangan karena pengalihaksaraan dari Pegon ke Latin menjadi tugas Ujian Akhir Semester bagi adik-adik mahasiswa. Mereka mumet dan saya lebih mumet lagi karena harus membandingkan naskah asli dengan hasil pengalihaksaraan. Hahaha. Apalagi mereka minta hasil karyanya dibukukan dan dibedah. Hmmmmm. Bismillahirrahmanirrahim. Semoga bisa direalisasikan semester depan.

Oke. Kembali ke bahasan kitab. Karya setebal 347 halaman ini ditulis menggunakan bahasa Melayu klasik, beraksara Pegon, dan diulas dengan cermat dan taktis untuk pemula non Arab atau dalam bahasa penulis "....liyantafi'a bihi man la yafhamu bilisanil Arabi".

Kitab ini merupakan hasil perasan dari Minhajut Thalibin-nya Imam Nawawi, Minhajut Thullab-nya Imam Zakariyya al-Anshari, Hidayatul Muhtaj Ibnu Hajar, kitab Anwar-nya Imam Ardabili, serta kitab 'Umdatus Salik, sebagaimana keterangan dalam pengantar kitab ini.

Yang luar biasa adalah upaya Syaikh Arraniri yang lahir di India, menjadi mufti di Aceh, lalu kembali ke tanah kelahirannya dalam membumikan Madzhab Syafi'i di Nusantara. Beliau menjadi "koki intelektual" yang meracik pelbagai kitab berbahasa Arab untuk disajikan menggunakan bahasa Melayu bagi orang-orang awam. 

Syaikh Arraniri bisa dikatakan menjadi bapak ideologis Madzhab Syafi'i di Nusantara karena murid-muridnya menjadi pengembang madzhab ini dan memberikan sumbangsih dalam pembumian madzhab ini. Misalnya, Syaikh Abdurrauf Assinkili memberi komentar (syarh) atas kitab Sirath al-Mustaqim melalui karyanya, Mir'atut Thullab, yang kabarnya kemudian dikembangkan lagi oleh ulama top asal Banjar, Syaikh Arsyad al-Banjari, melalui kitab Sabilul Muhtadin.

Bersama adik-adik mahasiswa tiga kelas ini, saya merasakan kemumetan yang sama dengan mereka. Sebab, pola penulisan aksara Pegon menggunakan bahasa Melayu ini sedikit berbeda dengan yang dipakai di pesantren. Misalnya di kitab ini, "bu-ku" ditulis menggunakan huruf (ba') dan (kaf), tanpa ada (waw) sama sekali. "Ma-ka" ditulis (mim) dan (kaf), bukan mim-alif-kaf-alif. Juga banyak sekali yang berbeda dengan pola penulisan aksara pegon seperti yang lazim digunakan di pesantren.

Perbedaan ini memang dimaklumi, sebab Sirath al-Mustaqim ditulis pada pertengahan tahun 1600-an alias beberapa abad silam. Lagi pula, kitab ini tampaknya sudah lama tidak beredar di Nusantara, meski pada awal 1700-an dan pertengan 1800-an masih digunakan di beberapa kesultanan sebagai referensi para qadli.

Di antara keunikan kitab ini adalah, meski ditulis oleh ulama India, disebarkan di Nusantara pada eranya, namun cetakan terakhir kitab ini justru diterbitkan oleh penerbit Musthafa Babi el-Halabi, Mesir, pada 1356 H/1937 M. Ini membuktikan jika pada dasawarsa 1930-an karya berbahasa Melayu ini juga banyak dikaji di kawasan Timur Tengah. Yang lebih unik, Syaikh Arraniri menggunakan frasa "sembahyang" untuk menyebut "shalat". Sebuah strategi bahasa yang cukup cerdas sebagaimana dilakukan Walisongo. [dutaislam.com/ ab]

Iklan