Iklan

Iklan

,

Iklan

Ben Anderson, Pesantren dan NU

27 Des 2015, 07:32 WIB Ter-Updated 2015-12-27T00:32:59Z

Oleh: Hairus Salim Hs

Apa hubungan Ben Anderson dengan pesantren dan NU? Jawab sepintas mungkin tak ada. Yang pasti ia bukan bagian dari deretan para indonesianis yang mengkaji secara khusus pesantren dan NU. Kendati demikian, jika kita membaca dan menelusuri beberapa karyanya secara teliti, akan segera terurai di sana suatu benang halus dan putih yang menautkannya ‘secara platonik’ dengan pesantren dan NU.

Pada tahun 1976, dalam sebuah konferensi tentang arah dan perkembangan kajian Indonesia, Ben mengkritik sedikitnya –atau terabaikannya– kajian mengenai pesantren dan NU. Pengabaian ini sendiri terjadi karena menurutnya ada“prasangka-prasangka ilmiah” di dalam banyak kajian mengenai Indonesia. Sejak tahun 1950an, kajian mengenai Indonesia memang lebih banyak dipengaruhi oleh teori modernisasi. Dalam lansekap kajian itu, pesantren dan NU –seperti umumnya unsur tradisi di dalam masyarakat—dipandang sebagai suatu unsur yang tidak mendukung, bahkan dalam banyak hal dianggap menghambat, modernisasi.

Tak aneh karena itu, sejak 1950an hingga setidaknya awal 1980an, amat langka kajian setingkat disertasi mengenai pesantren dan NU. Kajian-kajian yang ada lebih banyak memberikan perhatian pada gerakan-gerakan modern, dan pesantren dan NU, disebut biasanya secara sambil lalu, dengan nada yang pejoratif, nyinyir dan merendahkan. Kecenderungan ini bisa ditemukan dengan mudah dalam karya-karya Clifford Geertz, Allan Samson, Lance Castles dan lain-lain.  Greg Fealy (2003) menyebut kecenderungan akademis ini sebagai “wacana yang didominasi modernis”.

Namun sejak 1980an, kecenderungan ini mulai mengalami pergeseran. Pesantren dan NU –sebenarnya juga unsur tradisi lainnya di dalam masyarakat- mulai memperoleh perhatian ilmiah yang memadai, baik dari pengamat Indonesia maupun dari kalangan sarjana Indonesia sendiri. Pergeseran ini diilhami, secara langsung maupun tidak langsung, saya kira, oleh kritik dan seruan Ben Anderson tersebut, yang kemudian diterbitkan sebagai “Religion and Politics in Indonesia since Independence” (1977). Kutipan karya Ben Anderson ini, misal dari Martin van Bruinessen dan Greg Fealy, yang masing-masing menulis kajian tentang NU yang bisa dikatakan ‘terbaik’ hingga kini, menunjukkan dengan jelas pengaruh kritik Ben Anderson ini.

Tentu saja pergeseran itu terjadi karena saat itu memang muncul kebosanan dan kejenuhan pada dominasi modernisasi di kalangan ilmuwan sosial. Di lain pihak, berbeda dengan tesis-tesis yang dikembangkan sebelumnya mengenai NU, pada tahun 1970an dan 1980an itu, NU muncul sebagai kekuatan oposan Orde Baru yang penting dan keras. Seruan Ben Anderson pun seperti menemukan gemanya. Sejak itu, mengalir deras kajian mengenai pesantren dan NU, baik dari luar maupun dari dalam negeri, suatu yang disebut Greg Fealy sebagai ‘wacana yang lebih menghormati tradisi.’

benNamun sebenarnya, jauh sebelum itu, Ben Anderson sudah memiliki simpati yang mendalam pada pesantren dan NU.Dalam karyanya Java in Time of Revolution, Occupation and Resistance 1942-1946 (1972), yang diterjemahkan dengan memikat dan pas menjadi Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 (1988), ia mendedahbesarnya peranan pesantren dan NU di dalam revolusi.Tak aneh jika Martin van Bruinessen menyebut karya Ben ini sebagai ‘suatu pengecualian’ dari karya-karya akademis tentang Indonesia sepanjang tahun 1930an hingga 1970an yang kebanyakan diwarnai ‘bias modern’.

Karya Ben ini sendiri sebenarnya merupakan kritik terhadap karya George Mc Turnan Kahin (1952) yang lebih banyak menonjolkan peran Sjahrir dan lingkarannya dalam revolusi Indonesia. Berbeda dengan Kahin, Ben menunjukkan peran yang jauh lebih besar kalangan rakyat yang tergabung dalam banyak barisan pemuda, yang tak pernah bisa dikontrol  oleh tokoh-tokoh pusat seperti Sjahrir, bahkan Hatta maupun Sukarno sekalipun. Kalangan rakyat dan pemuda ini memang dekat dengan Tan Malaka, terutama karena ikatan hasrat “Merdeka 100%” yang dikumandangkannya,tapi pengelompokannya sebenarnya sangat luas dan beragam. Salah satunya adalah kalangan pesantren.

Dalam bagian mengenai “Kebangkitan Pemuda”, Ben menyebut bagaimana seruan pemuda Soetomo, yang kemudian populer sebagai ‘Bung Tomo”, yang selalu dimulai dengan pekik “Allahu Akbar” berhasil menyedot ribuan kalangan pemimpin ‘merah’ di kalangan santri di Surabaya, daerah dataran dan pantai Jawa Timur, dan Madura untuk bergabung dalam gerakan revolusi. Dari desa-desa yang terpencil mereka bergerak ke kota pelabuhan, Surabaya. Lalu puncaknya atau bisa jadi merupakan awalnya, pada tanggal 21-22 Oktober, NU Se-Jawa dan Bali berkumpul dalam sebuah rapat raksasa di Surabaya, yang di antaranya mengeluarkan apa yang dikenal sebagai “Resolusi Jihad”. Maka, kata Ben, dengan pelukisannya yang khas, mendalam dan penuh simpati, makin matanglah sudah suatu revolusi yang digerakkan oleh para pemuda. Suatu gerakan yang mempengaruhi revolusi di tingkat nasional.

Sependek pengetahuanku, penyebutan Ben atas “Resolusi Jihad” dan sekaligus pentingnya peranan pesantren dan NU dalam revolusi itu, merupakan pengakuan akademis pertama yang sangat penting dan berpengaruh. Bandingkan misalnya dengan kajian Kahin yang tak menyinggung pesantren dan NU (dan pemuda rakyat lainnya), dan lebih menonjolkan peran orang kota, bukan orang desa, kalangan elit, bukan rakyat, dan para orang tua, bukan pemuda. Maka ketika William Frederick dan Soeri Soeroto (1982) memasukkan bab “Tammatnya Zaman Penjajahan” dari otobiografi karya Kiai Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren (1974) ke dalam karya mereka yang menghimpun literatur mengenai pemahaman sejarah di Indonesia, terutama dalam bagian mengenai karya-karya sejarah revolusi sebagai wakil pandangan pesantren, hal itu bisa dikatakan sebagai pengakuan lanjutan saja dari yang telah diberikan sebelumnya oleh Ben Anderson. Bahkan bukan tidak mungkin, penyertaan bagian dari karya Saifuddin Zuhri ini sebagai pengaruh langsung maupun tidak langsung dari karya Ben tersebut.

Pentingnya peran pemuda dan pertaliannya dengan pesantren dalam revolusi ini akan lebih tampak ketika menelisik konsepsi apa yang disebut sebagai ‘pemuda’ itu sendiri di dalam masyarakat Jawa. Pemuda, tulis Ben, adalah masa ambang, di mana seseorang meninggalkan masa kanak-kanaknya, namun belum diakui sebagai seorang tua, sosok yang dewasa. Pemuda adalah masa transisi di mana seseorang harus menempa diri untuk kehadirannya kelak di masyarakat. Dalam masa itu, seorang pemuda harus pergi bertualang, dari suatu daerah ke daerah lain, menyerahkan dirinya pada seorang atau lebih guru, yang mengajarinya banyak keterampilan fisik maupun kekuatan olah rohani.

Dari sekian jenis pendidikan di masyarakat, maka pesantrenlah –menurut Ben—yang paling baik menggambarkan konsepsi tradisional akan suatu lembaga yang pas dan tepat untuk mempersiapkan kehadiran dan kemunculan pemuda kelak di masyarakat. Dengan empat nilai: kesederhanaan, semangat kerjasama, solidaritas dan ketulusan, para pemuda yang ditempa di pesantren akan menjadi pemimpin dan kelompok masyarakat yang sulit dicari tandingannya. Terutama peran ini berlangsung pada masa-masa krisis, ketika irama masyarakat normal mengalami kegoncangan dan ketidakpastian. Pada saat itu, pesantren memunculkan suatu pemimpin yang berani mengambil resiko untuk mengubah dan menyelamatkan keadaan. Sudah barang tentu di belakangnya berdiri ribuan pemuda santri, yang seperti keluar dari sarang pertapaan dan pengasingannya, untuk mendukungnya dan kelak kembali lagi ketika keadaan sudah dipandang normal dan stabil.

Gambaran Ben tentang peran pemuda dan hubungannya dengan pesantren ini demikian retoris, memukau, dan inspiratif, meski mungkin terasa agak mendramatisir dan meromantisir. Terutama jika hal itu dilihat di dalam konteks politik dan sosial masa kini. Namun, saya kira, jika melihat kembali proses kemunculan sosok Abdurrahman Wahid sepanjang akhir 1980an sebagai pengritik utama Orde Baru dan berpuncak pada penunjukannya sebagai presiden pada 1999, tampak seperti adanya pengulangan belaka dari apa yang dibayangkan Ben sebagai sosok pemuda dan peran pesantren di masa krisis. Jika dulu revolusi, kini namanya reformasi. Sudah barang tentu pola dan ritmenya berbeda dan berlainan, namun nada dasarnya sama.

Kini jelas betapa dekat hubungan pesantren dan NU dengan Ben Anderson. Sedemikian jelasnya hingga tak jelas lagi bagaimana hubungan ini hendak diurai. Ben Anderson memerlukan lembaga tradisional pesantren untuk memperkukuh konsepsinya tentang adanya pemberontakan dari bawah yang digerakkan para pemuda dala revolusi, yang menurutnya, bahkan tak ada bandingannya dengan revolusi di negara lain, sementara pesantren memperoleh legitimasi ilmiah dari Ben akan peranannya di masa revolusi yang amat besar gunanya dalam Indonesia modern. Keduanya pada akhirnya saling menerima dan saling memberi.

Ben Anderson memiliki kecederungan memberikan penafsiran yang kerap berbeda dari penafsiran yang mapan dan konvensionalsehingga menimbulkan kontroversi. Hal ini dilakukannya ketika misalnya melawan tafsir revolusi yang sebelumnya dibangun oleh Kahin dan lain-lain, suatu yang disebut oleh Vedy R. Hadiz sebagai ‘pemberontakan intelektual’. Semangat pemberontakan seperti ini pula yang kerap diusungnya ketika mengkaji aspek-aspek budaya-politik lain, baik di Indonesia maupun di Thailand yang mengukuhkannya sebagai ahli Indonesia dan Thailand, yang khas dan unik. Dalam hal ini, bisa dimengerti jika ia baru-baru ini mengkritik perkembangan kajian Indonesia belakangan ini yang lebih banyak memperhatikan Islam, suatu kecenderungan yang justru ia dorong beberapa dekade lalu, setidaknya dalam kaitan dengan pesantren dan NU.

Ben Anderson, akademisi yang kemudian keluar dari tempurungnya sebagai ‘spesialis wilayah’ dan memperoleh reputasi internasional, terutama melalui karyanya mengenai nasionalisme sebagai ‘imagined communities’, pada Minggu, 13 Desember 2015 kemarin wafat di Batu, Malang. Sekali lagi, Ben tak pernah mengkaji secara khusus pesantren dan NU. Namun jejak dan namanya tak bisa disisihkan dalam banyak perbincangan mengenai peran pesantren dan NU dalam masa revolusi. Karena itulah, cukup beralasan jika kalangan pesantren dan NU menghaturkan terima kasih dan rasa duka atas kepergiannya tersebut.

Selamat masuk sorga om Ben!

Iklan