Iklan

Iklan

,

Iklan

Puasa Arafah Menurut Muhammadiyah

11 Nov 2015, 21:01 WIB Ter-Updated 2020-01-10T05:31:29Z
fata muhammadiyah tentang wukuf di arafah

Dutaislam.com - Inilah perbedaan fatwa Muhammadiyah soal Hari Arafah, Puasa Arafah, dulu dan kini: 

Tahun 2011:

1. Puasa Arafah adalah puasa yang dilakukan pada saat jamaah Haji sedang melakukan wuquf di Arafah bukan pada hari lainnya, apalagi mengingat selisih waktu antara Arab Saudi dan Indonesia hanya ± 4 jam.

2. Fatwa Tarjih Muhammadiyah tidak menyinggung tanggal 9 Dzulhijjah terkait Puasa Arafah, bahkan tidak ada kalimat yang bertuliskan "9 Dzulhijjah" sama sekali.

3. Meminta agar Pemerintah dan ormas Islam menggunakan mathla' Makkah dalam penentuan awal Hijriah atau Hari Raya.

4. Tidak ada keharusan bagi Muhammadiyah untuk mengikuti mathla' di negerinya masing-masing (seperti Indonesia).

5. Semestinya mengikuti keputusan Mufti Kerajaan Arab Saudi, karena informasi pengumuman dari Makkah sudah bisa didapatkan dengan mudah, bahkan 1-2 hari sebelum wukuf sudah tersiarkan.

Sumber: http://www.fatwatarjih.com/2011/04/puasa-hari-arafah.html (link mati)


Tahun 2015:

1. Puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah sesuai dengan kalender bulan Dzulhijjah di wilayah Indonesia sesuai dengan hasil perhitungan metode hisab wujudul hilal.

2. Puasa Arafah tidak harus bersamaan dengan jama'ah haji yang sedang berwuquf di Arafah.

3. Tidak harus menggunakan mathla' Makkah, sebagai contoh penduduk kota Sorong Papua yang berbeda waktu 6 jam dengan Makkah maka gunakan mathla' Sorong, bukan mathla Makkah.

4. Gunakan dan sesuaikan kalender Hijriah dengan mathla' di negerinya masing-masing untuk penduduk di luar mathla Makkah seperti Sorong Papua Indonesia.

5. Boleh berbeda dengan keputusan Mufti Arab Saudi karena kabar dari Makkah bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Sumber: http://www.sangpencerah.com/2015/09/kapan-puasa-arafah-mengikuti-wukuf-atau.html. (link dihapus)

Demikian perbedaan fatwa Muhammadiyah tentang puasa Arafah. 

Tulisan di atas tidak ada maksud menyinggung atau menjelek-jelekan, tapi sebagai pembelajaran bagi kita umat Islam khususnya di Indonesia untuk bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lain yang berbeda pendapat. Karena yang namanya pendapat itu dapat bisa saja berubah di lain waktu.

Terus terang kita masih teringat jelas dahulu kala ketika Pemerintah (Kemenag RI) dan mayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti keputusan yang ternyata berbeda dengan Arab Saudi terkait penentuan hari raya Idul Adha. 

Bagaimana sikap dan perlakuan saudara kita hanya karena gara-gara berbeda dengan Arab Saudi. Salah satunya bisa disimak disini: 

https://m.facebook.com/websiteSangPencerah/posts/307885269395794. (sudah dihapus juga).

Tapi sudahlah, kita maafkan dan lupakan. Anggap ini sebagai pelajaran penting bagi kita untuk tetap saling menghormati satu dengan yang lainnya. Salam ukhuwah. [dutaislam.com/ab]

Iklan