Iklan

Iklan

,

Iklan

Pesan Syekh Abdul Qadir Jailani

18 Nov 2015, 23:50 WIB Ter-Updated 2015-11-21T16:17:34Z
Pesan Suci Penuh Hikmah Sulthonul Auliya' Sayyidina As-Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani Rahimahullaahu Ta'ala.

Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia mencoba mengatasinya dengan upaya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan, atau bila dia sakit kepada dokter. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada khaliq-Nya, Tuhan Yang Maha Besar Lagi Maha Kuasa, dan berdo'a kepada-Nya dengan kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan berpaling kepada sesamanya. Demikian pula bila ia berhasil karena sesamanya, maka ia tak akan berpaling kepada sang Khaliq.

Kemudian bila tak juga memperoleh pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo'a merendah diri, memuji, memohon dengan harap - harap cemas, namun Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo'a dan tak mengabulkannya., hingga ia demikian terkecewakan terhadap segala rasa duniawi, segala kehendak -Nya mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala rasa duniawi, segala aktivitas dan upaya dunawi dan bertumpu pada ruhaninya. 

Pada peringkat ini, tiada terlihat oleh-Nya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang keesaan Allah, pada peringkat Haqqul Yakin (Tingkat kenyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati) bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah, tak ada penggerak tak pula yang menghentikan, selain Dia. Tak ada kebaikan, kejahatan tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi, tiada pula menahan, tiada awal tiada akhir tak ada kehidupan dan kematian , tiada kemuliaan dan hinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan kecuali karena Allah.  Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan, dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan, dan ia merasa tak berdaya.

Dengan demikian, ia lepas dari dirinya sendiri dan melebur dalam kehendak Allah. Maka Tak dilihatnya kecuali Tuhan-Nya dan Kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia.
Jika Melihat sesuatu itu adalah kehendak-Nya. Bila ia mendengar atau mengetahui sesuatu, maka ia mendengar Firman-Nya, dan mengetahui lewat ilmu-Nya. Maka terkarunialah dia dengan karunia Nya dan beruntung lewat kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, ridha, bahagia dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada Firman-Nya. Ia merasa enggan dan menolak segala selain Allah, Ia rindu dan senantiasa mengingat-Nya, makin mantaplah kenyakinan pada-Nya, berbusana Nur ilmu Nya, dan termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingat adalah dari-Nya Maka segala syukur, puji dan sembah tertuju kepada-Nya, Maka Marilah kita bersabar di dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh ujian dan cobaan ini.

Iklan