Sabtu, 04 Agustus 2018

Pendiri PKS Ungkap di PKS Lebih Teguh Rukun Baiat daripada Syariat

Salah satu pendiri PKS Yusuf Supendi. Foto: Istimewa. 
DutaIslam.Com – Elit Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah mengkritik habis-habisan partai PKS saat ini. Fahri Hamzah bahkan menyebut negara akan rusak bila dipimpin PKS.

Fahri mengungkapkan hal tersebut dengan alasan bahwab banyak kader PKS yang selalu menganggap kalimat pimpinan PKS sebagai hukum tertinggi atau taklid.

"Memang ada kesalahan berpikir dari awal yang menganggap seolah-olah kata-kata pimpinan PKS itu pasti lebih tinggi dari hukum negara," ujar Fahri, Jumat (03/08/2018) dilasir Dutaislam.com dari Tempo.co.

Ketaatan yang tak bisa digugat tersebut, kata Fahri, membuat anggota PKS abai terhadap hukum negara dan hanya mendengarkan apa yang diucapkan oleh pimpinannya.

"Itu yang salah dan enggak boleh, enggak boleh orang berpartai begini, rusak partainya. Nanti kalau memimpin negara rusak negaranya," katanya.

Ketaatan yang harus dilakukan secara membabi buta tersebut juga diakui salah satu pendiri PKS Yusuf Supendi dalam wawancara dengan dengan reporter CNNIndonesia.com Feri Agus Setyawan di kediamannya, Rabu (01/08/2018), dua hari sebelum Yusuf Supendi. Salah satu pertanyaan yang diajukan Feri terkait istilah sami'na wa atho'na di PKS.

Wallahu a'lam yah, apakah berlebihan ataupun tidak. Yang saya amati bahwa di PKS itu ada dua: yang pertama taat syariah, yang kedua taat yang disebut dengan arkanul baiat, rukun janji setia,” ujar Yusuf dilansir Dutaislam.com dari CNN Indonesia.com.

Menurut Yusuf, di PKS lebih akurat berpegang teguh kepada rukun baiat daripada syariat itu sendiri.

“Yang saya cermati nampaknya di dalam partai ini lebih akurat dengan berpegang teguh pada rukun baiat ketimbang rukun Islam itu sendiri,” ujar Yusuf.

Yusuf kemudian menyontohkan konflik PKS dengan Fahri Hamzah hingga ia dipecat. Fahri dipecat karena urusan rukun baiat, yakni masalah taatnya. Karena pelanggaran agama tidak ada.

“Kemudian yang kita lihat Lutfi Hasan itu kan pelanggaran syariat. Tapi suap menyuap melanggar syariat tidak dipecat. Berati lebih sakral dalam aspek rukun baiat ketimbang dalam segi syariat,” ujar Yusuf.

Contoh lain, lanjut Yusuf, terkiat Gatot Pujo Nugroho yang melakukan tiga pelanggaran. Hukumnya memang diproses tapi dia tidak dipecat.

“Sepengetahuan saya Gatot Pujo Nugroho masih sebagai kader dia sudah melanggar tiga pelanggaran, diproses hukumnya tiga kasus (korupsi) kan, tapi kan tidak dipecat juga,” lanjutnya.

“Kemudian ada lagi yang menikah tanpa wali yang sah, kan ini pelanggaran syariat tapi tidak dipecat juga. Maka yang saya pahami itu, nampaknya mencuri-merampok, selama taat pada rukun baiat, ya aman-aman saja. Tapi jangan sekali-kali melanggar rukun baiat ini, ini fakta,” tegas Yusuf.

Yusuf kembali menegaskan, fakta yang paling jelas Lutfi Hasan Ishaq.

“Kenapa yang melanggar syariat sudah divonis oleh KPK 16 tahun, kemudian kasasi 18 tahun kok gak dipecat pecat juga,” ucapnya.

Apakah benar PKS partai Islam? [dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini