Selasa, 07 Agustus 2018

Ketika Allah Memberikan Ilmu Hikmah pada Orang Muhsinin

Kiai Abdullah Sa’ad (solo). Foto: Arif Wibowo
Oleh Arif Wibowo

DutaIslam.Com - Kendati cuaca begitu dingin, ribuan masyarakat tetap berbondong-bondong mengikuti pengajian yang dihadiri oleh Habib Zainal Abidin beserta diiringi reban Azzahir dari Pekalongan, Senin (06/08/2018) malam.

Lapangan Kecamatan Batealit malam itu nampak sesak dipenuhi oleh para Jama’ah. Jalan utama ditutup, dan parkiran motor berderet di sepanjang jalan. Pengajian dalam rangka Kiai Dalhar dan para masyikh ini juga dihadiri oleh Bupati Jepara, Ahmad marzuki.

Rencananya, pengajian tersebut dihadiri oleh Mualana Habib Lutfi bin Yahya, akan tetapi karena beliau sedang berhalangan hadir, mauidloh ditugaskan kepada muridnya, Kiai Abdullah Sa’ad (solo).

Dalam mauidlohnya Kiai Abdullah sa’ad menerangkan kisah seorang pemuda dalam Alqur yang berhasil mendapatkan cinta dan cita-citanya. Pemuda ini tak lain dan tak bukan adalah Nabi Yusus A.S.

Meski baru berumur 33 tahun, Nabi Yusuf sudah mendapatkan segala apa yang diinginkankannya, yakni cinta dan cita-citanya. dipertemukannya kembali dengan Zulaikha, dan merengkuh cita-citanya sebagai mentri hingga kemudian menjadi seorang raja.

Kedua hal tersebut dapat diraih oleh Nabi Yusuf lantaran Allah memberikann ilmu dan hikmah kepadanya.

من أرادالدنيا فعليه باالعلم ومن ارا د الاخرة فعليه بالعلم ومن اراد هما فعليه بالعلم 

Adapun yang dimaksud hikmah adalah mengetahui hakikat segala sesuatu apa adanya, dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya (Mu’jam Taj al-Arus).

Apa yang didapatkan oleh Nabi Yusuf sesungguhnya juga bisa didapatkan oleh orang-orang Muhsinin. Yakni, orang-orang yang melakukan kebaikan, entah itu ucapannya, sikapnya maupun perilakunya.

Nah, bagi penuntut ilmu sudah selayaknya untuk berperilaku muhsinin, berperilaku baik dan menghormati kepaa orang lain supaya lekas mendapatkan apa yang dicita-citakannya, yakni ilmu yang bermanfaat.

Bagi penuntut ilmu hal yang harus dilakukan selain belajar dengan sungguh-sungguh adalah menghormati ahli ilmu, dalam hal ini adalah seorang guru, orang yang senantiasa ikhlas memberikan ilmu kepada kita.

Guru itu ibarat seorang dokter, sama-sama menyembuhkan. Jika dokter menyembuhkan raga kita. Guru menyembuhkan kebodohan kita. Nah, apabila dokter tidak engkau hormati, ia akan setengah hati menyembuhkan pasiennya. Pun demikian, seorang guru yang tidak engkau hormati dan tidak engkau mulyakan akan setengah hati menyembuhkan kebodohanmu.

Dalam suatu kesempatan Maulana Habib Lutfi pernah berkata, Siapa saja yang ingin cepat naik derajatnya menjadi seorang wali, maka hormatilah guru dan kedua orangtuamu.

Hal ini menujukkan bahwa, betapa mulianya derajat orang yang memuliakan guru dan keduaorangtuanya.

Sebenarnya kedua hal ini sangat simpel, tapi justru banyak yang lalai melaksanakannya.
Lalu bagaimana caranya anak yang masih sekolah membahagiakan orangtuanya. Secara mereka itu belum bekerja? Prinsipnya sesungguhnya sederhana. Jika tidak bisa membahagiakan jangan sampai membuat kedua orangtua  merasa susah.

Syeh Mutawalli Syarowi pernah mengatakan, salah satu bentuk durhaka kepada orang tua adalah mengabarkan kesusahan kepada mereka. Hal ini bukanlah berlebihan, pasalnya kedua orang tua yang mendengarkan keluh kesah anaknya itu merasa lebih berat ketimbang melaksanakan pekerjaan yang seabrek dan menumpuk.

Kiai Abdulla Sa’ad pun bercerita bahwa dulu ia mempunyai seorang sahabat yang bernama Sutikno, orang yang kaya raya nan dermawan. Ia memiliki sebuah yayasan yang seluruh biayanya ditanggung olehnya.

Sebelum meninggal, Sutikno mengajak supirnya jalan-jalan ke Wonogiri, tak lupa pula membawa segepok uang di sakunya.

Setiap bertemu para petani, Pak Sutikno meminta supirnya berhenti. Pak sutikno menghampiri mereka, bercengkrama dengan mereka dan  memberikan uang kepada mereka. Hal ini ia lakukan berturut turut hingga uang yang ada di sakunya habis.

Hingga suatu malam, pak Sutikno Shalat Tahajjud. Dalam shalat tahajjud tersebut Sutikno tiba-tiba membaca istighfar agak keras hingga terdengar oleh istrinya yang kala itu sedang shalat di depan.
Ketika dilihat, Sutikno sudah tergeletak wafat dalam keadaan shalat,husnul Khatimah.

Sebelum meninggal, Kiai Abdullah Sa’ad mengaku pernah menanyainya terkait keberkahan hidup yang didapatinya.

Saat itu, Sutikno bercerita, bahwa apa yang didapatinya semua ini tidak lain dan tidak bukan adalah berkat berkah kepada orang tua.

Setiap hari jam 3 pagi menemani ibunya ke pasar. Tak hanya itu, meski saat itu keadaan ekonomi kelurganya terbilang miskin, Sutikno mengaku tidak pernah berkeluh kesah kepada orangtuanya.
Bahkan usai lulus sekolah, ia lebih memilih bekerja untuk membantu membiayai adik-adiknya.

Dan benar kata Allah, sudah menjadi sunnatullah, orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan berlaku baik kepadanya akan mendapatkan balasan yang melimpah. Hidupnya menjadi berkah. Mendapatkan ilmu hikmah, dan meninggalnya pun khusnul Khatimah.

فلن تجد لسنت الله تحويلا ..

Demikian semoga kita dapat mengambil hikmah.[dutaislam.com/pin]

Arif Wibowo, penulis lepas, Sarjana Tafsir Hadis UIN Walisongo Semarang.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini