Minggu, 12 Agustus 2018

Bahaya "Kiai Posting" yang Berpuas dengan Postingan "Wallahu A'lam"

Wahyu Muryadi (kiri) saat hadir dalam Kopdar Santrinet Nusantara, Artotel, Jakarta, Sabtu (11/08/2018)
DutaIslam.Com - Perbedaan media dan media sosial itu ada di pertanggungjawaban. Ibarat hadits, media itu harus punya rowi (pembawa riwayat) yang jelas. Karena itulah, dalam media ada kode etik jurnalistik yang ketat dan jelas.

Sementara, media sosial (medsos) itu memiliki dua kelemahan, pertama, struktur redaksi yang tidak jelas, dan kedua, ramai dengan berita anomim (tanpa sumber).

Demikian diungkapkan oleh wartawan senior Tempo, Wahyu Muryadi, pada diskusi Kopdar Santrinet Nusantara bertajuk "How to Factcheck Hoax", yang diselenggarakan Kemenag RI dalam rangka Hari Santri 2018, di Hotel Artotel, Jakarta, Sabtu (11/08/2018) malam.

"Tantangan santri di internet itu adalah menampilkan teks (konten media dan medsos) atau substansi yang bisa dipertanggungjawabkan," terang Wahyu kepada ratusan admin akun medsos santri.

Tantangan itu makin berat mengingat saat ini makin mudah saja membuat media dengan biaya yang cukup murah. "Apalagi sekarang muncul fenomena kiai posting," tandas Wahyu.

"Antum merasa paling puas kan ketka cepet-cepetan share postingan wallahu a'lam?" Demikian tanya kritis Wahyu atas fenomena kiai posting broadcast entah berantah. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini