Jumat, 20 Juli 2018

Tengku Zulkarnain, Kerikil Kecil di MUI yang Diragukan Keulamaannya

Tengku Zulkarnain (Foto: Istimewa)
Oleh Rudi S Kamri

DutaIslam.Com - Nama lengkapnya Tengku Zulkarnain, lahir di Medan, ibunya asli dari Rokan hulu Riau. Pendidikannya S1 Sastra Inggris dari USU Medan. Ternyata dia berpendidikan S-2 dari Institute Economi of Hawaii USA negara yang terus diserangnya sebagai negara kafir. Jabatannya sekarang adalah salah satu Wakil Sekjen MUI Pusat periode 2015 - 2020.

Dengan segala kerendahan hati, saya tidak tahu di sisi mana ke"ulama"an seorang Tengku Zulkarnain kok bisa diangkat menjadi pengurus Majelis Ulama Indonesia. Menurut hemat saya seorang ulama (pengertian dalam bahasa Indonesia) adalah seseorang ahli agama yang selalu memberikan pencerahan dan kedamaian kepada masyarakat. Tapi menelisik apa yang selama ini dia lakukan, yang super nyinyir gak jelas juntrungannya, selalu menebarkan fitnah dan ujaran kebencian ke publik, saya semakin bingung dengan kualitas keulamaannya dari Tengku Zulkarnain ini.

Baca: Kurangajar, Tengku Zulkarnain Tuduh Islam Nusantara Itu Proyek Ada Uang

Seperti yang kita ketahui bahwasanya MUI adalah lembaga independen para ulama yang dibiayai negara. Menjadi aneh bin ajaib kalau pengurusnya selalu aktif menyerang kehormatan Kepala Negara Republik Indonesia yang sah dan konstitusional. Disisi lain Ketua Umum MUI selalu bergandengan tangan erat dengan Presiden dalam upaya membangun ukhuwah Islamiah dan ukhuwah Wathaniyah di negara ini. Pengurus MUI Pusat juga sedang bekerja sama erat dengan Presiden dan Pemerintah dalam mengembangkan program ekonomi keumatan. Tapi di sisi lain ada MUI malah menunjukkan keberpihakan kepada kelompok oposisi yang rajin memproduksi HOAX dan ujaran kebencian ke masyarakat umum melalui medsos dan ceramah agamanya. Ini PR besar bagi KH Ma'ruf Amin untuk berani menertibkan jajaran pengurus di bawahnya.

Kualitas keulamaan seorang Tengku Zulkarnain menjadi semakin diragukan saat publik melihat beberapa kali dia salah kutip ayat suci Al-Quran dalam mendukung ujaran kebenciannya. Dan jangan salahkan publik kalau karena hal ini tingkat penghormatan publik terhadap Tengku Zulkarnain ini semakin hari semakin menukik tajam ke level minus.

Baca: Surat Terbuka untuk Tengku Zulkarnain tentang Jubah vs Batik

Menurut saya seharusnya MUI bersikap netral atau menjadi penengah dalam berbagai konflik di masyarakat. Kalaupun ada masukan untuk Pemerintah sebaiknya dilakukan secara langsung dan tertutup. Bukan seperti sekarang ini, seorang Wakil Sekjen MUI bukan saja nyinyir tidak jelas tapi sudah terbuka berpihak melawan Presiden. Ini bagi rakyat sungguh tidak elok. Dan kalau dibiarkan seorang Pengurus MUI seperti Tengku Zulkarnain ini merajalela, jangan salah masyarakat kalau semakin tidak menghormati kelembagaan MUI.

Bagi saya seorang Tengku Zulkarnain hanya kerikil kecil yang nyelonong di kepengurusan MUI. Dia bukan batu sandungan besar. Karena kapasitas personalnya juga tidak pantas dikategorikan sebagai batu besar. Dia hanya kerikil kecil yang nyelip di sepatu perjalanan bangsa ini. Namanya kerikil meskipun kecil tak berarti terkadang mengganggu juga. Selayaknya kerikil kecil ini di tempatkan pada tempat yang seharusnya. Daripada mengganggu perjalanan kita sebagai sebuah bangsa.
Mungkin lebih tepatnya dia dikeluarkan dari sepatu kemudian dikirim menjauh dari Monas. Entah dibuang ke Hambalang atau ke Petamburan. Kalau sudah disana, Tengku Zulkarnain bisa bebas bicara apa saja tanpa terbebani sebagai Pengurus MUI Pusat yang seharusnya kita hormati dan segani.

Tulisan ini saya buat bukan atas dasar kebencian tapi suara keprihatinan yang sudah pada level akut karena saya sangat menghormati kelembagaan MUI dan sangat menjunjung tinggi ulama. Saya tidak ingin kelembagaan MUI dan pengertian ulama terdegradasi hanya karena ulah seorang oknum yang memang tidak layak menyandang kehormatan sebagai pengurus MUI dan ulama.

Buat Tengku Zulkarnain, bertindak lah secara bijak dan jangan terlalu sering menyampaikan ujaran kebencian apalagi yang berbau rasial ke media sosial. Dan belajar juga semakin memahami ayat-ayat suci Al-Qur'an agar tidak sering salah kutip lagi dalam menjelaskan sesuatu.

Bodoh itu pilihan, tapi pamer kebodohan itu tindakan bodoh dari orang bodoh. [dutaislam.com/pin]

source: Akun FB Cah Santri

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini