Minggu, 22 Juli 2018

Tembus Api 30 Centi Tanpa Ajian, Ini Trik Pendekar Pagar Nusa

Kiai Syifa'ul Fuad, Dewan Pendekar Pagar Nusa NU Jepara. Foto: Dutaislam.com
DutaIslam.Com - Kebal bacok, panjat pedang dam berjalan di atas bara api bukan hal istimewa untuk calon anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU di seluruh Nusantara. Di kalangan pendekar Pagar Nusa, itu hanya pertunjukan untuk membuat keder.

Namun tidak semua yang mengetahui amalan atau tirakatnya, menggunakan dan memakainya. Menurut Kiai Syifa'ul Fuad, Dewan Pendekar Pagar Nusa NU Jepara, efek amalan kebal bacok, panjat pedang dan jalan di atas bara api, cenderung negatif karena merusak fisik pengamal ilmu kanuragan itu.

"Susunan tubuh pengamal ilmu kejadugan itu sudah berubah. Karena kebal tubunnya, dia juga akan sulit disembuhkan jika sedang sakit," terang Kiai Fuad sesaat sebelum ia menggembleng ratusan peserta Diklatsar Banser di Lapangan Desa Kemojan, Karimunjawa, Sabtu (21/07/2018) malam.

Orang yang dibacok benda tajam, lanjutnya, tentu akan merasakan sakit akibat tekanan keras, walaupun tidak luka. "Daripada kebal, saya lebih memilih endho (teknik menghindar) daripada keno (terkena serangan)," tegasnya kepada Dutaislam.com.

Kiai Fuad yang juga alumni Ponpes Bambu Runcing Parakan tersebut juga menjelaskan bila amalan kanuragan fisik itu sebetulnya adalah hasil kreatifitas ulama dahulu untuk membantu mereka yang lemah akalnya.

Menurut kiai yang kini mukim di Banjaran, Bangsri tersebut, keimanan dan keyakinan bisa digunakan untuk membuat tubuh jadi kebal, tahan api dan juga berani panjat pedang.

Semua atraksi bahaya itu, lanjut Kiai Fuad, bisa diatasi dengan trik manipulasi hukum fisika. Kepada Dutaislam.com, Kiai Fuad hanya membongkar sedikit rahasia menembus kobaran api tebal.

Caranya, api yang sedang meletup-letup itu ditembus dengan teknik cegah kejaran oksigen, "jalankan kaki dengan tegas tapi jangan cepat jika tidak ingin dikejar api. Dengan begitu, oksigen yang mengelilingi api habis. Jalan kakinya mak jleg, jleg, jleg, tegas," jelasnya.

Sayangnya, untuk melakukan teknik itu, ketakutan sering menyerang lebih dulu daripada keyakinan, karena api sudah tak berjarak dengan tubuh. "Ini yang butuh keyakinan  bahwa kita akan berhasil," imbuhnya.

Kiai Fuad mengaku, dengan teknik tersebut, ia berhasil menembus kobaran api yang tebalnya 20 centimeter tanpa luka kecuali bulu tubuhnya yang terbakar. "Syaratnya satu: mantap dan berani," pungkasnya.

Itulah teknik ngendho dari api, yang lebih dipilih Kiai Fuad daripada teknik "keno tapi loro", yakni kebal. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini