Minggu, 01 Juli 2018

Madzhab Narsisme Eli(tikus) PKS

pks tak mau kalah dalam kondisi apapun
Ilustrasi orang narsis
DutaIslam.Com - Narsisme adalah sikap mencintai diri sendiri secara berlebihan. Menganggap dirinya lah yang paling baik, paling ganteng, paling cantik, paling benar, paling beramal, paling berkontribusi. Atau dengan kata lain Narsisme itu sikap berorientasi pada diri sendiri dan cenderung mengabaikan orang lain. Pada aspek akut, narsisme bisa menjadi sikap anti kritik dan terlalu larut dengan perasaan diri sendiri.

PKS sedang mengalami narsisme, terlihat sekali dalam Pilkada Jawa Barat. Hasil survei yang mengatakan pasangan Asyik di peringkat ketiga ternyata meleset jauh. Pasangan Asyik dalam hitung cepat beberapa lembaga survei melesat ke peringkat kedua, walaupun masih kalah dari pasangan Rindu.

Lalu berbondong- bondong kader-kader PKS membully lembaga survei, kemudian meng-klaim bahwa kerja-kerja kader PKS dan mesin PKS berhasil membalikkan keadaan. Militansi dan mobilisasi kader PKS berhasil menggenjot suara Asyik, bahkan PKS masih meng-klaim bahwa pasangan Asyik menang mengalahkan pasangan Rindu dalam hitungan manual form C1.

Bahkan pada titik ekstrem ini adalah pertolongan Allah dalam menumbangkan musuh umat. Padahal, Ridwan Kamil dan Demiz adalah figur yang pernah dikampanyekan dan dimenangkab oleh kader-kader PKS dalam Pilkada sebelumnya. Lalu ketika RK dan Demiz didukung PKS, apakah statusnya sudah menjadi musuh umat? Pidato kemenangan RK atas hasil hitung cepat jika didengar baik-baik, isinya mirip dengan pidato kader PKS, atau jangan-jangan RK itu kader PKS yang di"sirriyah" kan?

Jadi kalau PKS merasa pasangan Asyik itu paling soleh, paling didukung umat Islam, maka itu adalah bentuk narsisme PKS. RK dan Demiz dengan berbagai kurang dan lebihnya juga bisa dikatakan mewakili ummat, apalagi pasangan RK adalah UU dari kalangan santri. Terus karena Asyik didukung PKS jadi mewakili ummat dan yg menjadi lawan PKS musuh ummat? Lagi-lagi narsisme PKS.

Narsisme PKS juga terlihat di Pilkada Jawa Tengah, menumbangkan pasangan Ganjar-Yasin dianggap menumbangkan musuh umat, padahal Taj Yasin cawagub Ganjar adalah anak dari KH Maimoen Zubair, Kiai kharismatik di Jawa Tengah. Apalagi Taj Yasin lahir dan besar di kalangan santri.

Madzhab Narsis Elit(tikus) PKS


Jadi ketika PKS membawa pertarungan politik ke ranah pertarungan ideologis maka itu bentuk narsisme PKS, merasa paling benar dan merasa paling didukung ummat, wajar kalau beberapa pihak mengatakan kalau PKS mempolitisasi agama dalam Pilkada.

Jika ini merujuk pada kasus Pilkada DKI kemudian di bawa ke Pilkada daerah lain jelas ini tidak relevan. Dalam kasus Pilkada DKI sudah jelas ada kasus penistaan agama apalagi penistaan Al-Quran. Jadi wajar dalam Pilkada DKI ada polarisasi antara umat dan anti ummat.

Narsisme PKS juga menjalar ke Pilkada Jawa Timur, dimana PKS berkoalisi dengan PDIP. Dalam narsisme-nya PKS mengatakan bahwa koalisi dengan Gus Ipul sudah dibangun lama dan PDIP masuk gerbong koalisi belakangan, tetapi justru yang masuk belakangan bisa dapat jatah cawagub sedangkan PKS gigit jari. Bahkan pada fakta selanjutnya, dalam hitung cepat Gus Ipul kalah, makin gigit jari PKS.

Narsisme PKS juga terjadi di Pilkada Sulawesi Selatan, dimana calon yang diusung PKS menang versi hitung cepat. Dengan gagahnya PKS mengatakan pemecatan dan pergantian besar-besaran struktur PKS tidak mempengaruhi kinerja dan soliditas PKS, buktinya Nurdin Abdullah menang. Padahal dalam Pilkada Kota Makassar calon yang didukung PKS bersama partai-partai ternyata dalam hitung cepat kalah melawan kotak kosong. Narsisme memang berorientasi pada diri sendiri dan mengabaikan fakta lain di luar dirinya.

Narsisme jika dibiarkan maka akan menjadi sikap megalomania. Megalomania adalah narsis akut dimana sudah tidak menganggap orang lain penting. Tanda-tandanya biasanya: tidak mau dikritik, selalu minta dihargai, selalu ingin memimpin dan jadi pemimpin, selalu mencari pendukung atas dirinya dan seringkali menganggap orang lain tidak mampu.

Dalam hari-hari pasca Pilkada Jawa Barat 27 Juni 2018, maka tanda-tanda megalomania PKS sudah mulai terlihat gejalanya. Tidak mau terima kritik atas kekalahan pasangan Asyik, selalu minta dihargai sebagai partai yang bekerja keras, PKS masih menyatakan sebagai pemenang Pilkada Jawa Barat dalam hitung manual C1, selalu mencari pembenaran atau justifikasi atas pernyataan-pernyataannya dan menganggap tim lain curang, web KPUD down dianggap tanda-tanda kecurangan.

Narsisme PKS yang kemudian menjadi megalomania, jika tidak disadari dan diobati, akan berakibat PKS tidak bisa menerima kenyataan pahit akan dirinya dan akan terus menerus memproduksi isu atau informasi yang menyenangkan dirinya terutama diri kader, membangun harapan palsu, yang pada akhirnya PKS akan hidup dengan imajinasi dirinya sendiri dan teralienasi dari dunia nyata.

Sudah saatnya PKS mereformasi cara berfikir politiknya agar bisa dipahami dan relevan dengan kondisi kontemporer. Partai politik adalah badan publik yang harus bisa menerima kririt dan melakukan kritik-otokritik. [dutaislam.com/ab]

Source: Satrio Bw

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini