Senin, 23 Juli 2018

Kiai Ageng Ladunni, Senopati ke-9 Utusan Sultan Trenggono Untuk Nyai Ratu Kalinyamat Jepara

makam panembahan juminah
Dari kanan: Prof. Sumanto Al-Qurtuby, Gus Ulil Abshar Abdalla, Aniq dan Hisyam Zamroni saat ziarah ke makam Kiai Ageng Ladunni, Karangkebagusan, Kecamatan Kota, Kabupaten Jepara, Ahad (22/07/2018) siang. Foto: Dutaislam.com
DutaIslam.Com - Tidak banyak yang tahu kalau di Desa Karangkebagusan, Kecamatan Kota, Kabupaten Jepara, Jateng, ada makam tua, dimana orang-orang desa sekitar menyebutnya dengan Kiai Ageng Ladunni.

Bahkan orang-orang di desa setempat banyak yang tidak paham bahwa yang dimakamkan di sana adalah senopati ke-9 yang menjadi utusan khusus Sultan Tenggono ketika Sultan Hadirin dan Nyai Ratu Kalinyamat memimpin wilayah Jepara.

Keterangan yang didapatkan Dutaislam.com dari Habib Malik, seorang syarif yang jadzab di makam itu, nama Kiai Ageng Ladunni adalah Canggah Kuaci, sosok ulama' dan auliya' yang waktu itu disebut-sebut Mendikbud-nya kerajaan Jepara.

"Habib Ismet (adik Habib Luthfi) yang mengenalkan kepada masyarakat agar makam Mbah Ladunni dirawat," ujar Habib Malik, saat Gus Ulil Abshar Abdalla dan Profesor Sumanto Al-Qurtuby ziarah ke sana, Ahad (22/07/2018) siang.

Mbah Ladunni Jepara

Sebelum Habib Ismet, makam itu sudah diketahui oleh banyak pihak, antara lain Kiai Abi Manshur, Kendal. "Mbah Canggah Kuaci disebut Ladunni karena lakunya dan ilmunya memang ladunni," tandas Habib Malik.

Karena itulah, Mbah Ladunni disebut-sebut sebagai aktor intelektual kerajaan. Mbah Ladunni adalah tokoh tiga serangkai dengan Syeikh Amir Hasan (Sunan Nyamplungan) Karimunjawa dan Penembahan Juminah yang menjadi, -istilah sekarang,- para menteri koordinator (Menko).

Jika Mbah Ladunni adalah Mendikbud, maka Panembahan Juminah adalah panglima, dan Mbah Amir Hasan berperan sebagai ahli tatanegara. "Mereka inilah yang memback-up kerajaan Nyai Ratu Kalinyamat," terang Hisyam Zamroni, wakil Ketua NU Jepara kepada Dutaislam.com, Ahad (23/07/2018).

Mbah Ladunni higga saat ini belum pernah di-haul-i oleh masyarakat karena listrik makam saja, kata Habib Malik, baru dipasang dua bulan lalu, Mei 2018. Letaknya pun di pinggiran sawah dan terkesan tak ada yang merawat. Tidak sebagaimana makam Mbah Juminah dan Mbah Sunan Nyamplungan yang terawat karena sudah ada pengurus makamnya.

Konon, di dekat makam Mbah Ladunni dulu adalah bangunan pesantren dimana beliau mengajar dan menjadi intelektual berpengaruh di zamannya. Sudah tidak ada bekas pesantrennya karena sudah tergerus mengingat zaman doeloe, Karangkebagusan adalah lautan, bukan daratan seperti sekarang. "Ladunni adalah gelar untuk syiar agama," pungkas Habib Malik. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini