Selasa, 31 Juli 2018

KH Idham Chalid: Ulama-Politisi NU Pilih Tanding

Idham Chalid menyalami Presiden Sukarno. (Foto: Istimewa)

DutaIslam.Com - “Sebagai seorang pemuda Islam kita harus mempunyai batin yang kuat. Perang sekarang tidak hanya perang senjata, tetapi juga perang batin. Senjata yang bagaimana juapun lengkapnya kalau batinnya bobrok, tidak ada artinya. Tetapi meskipun hanya dengan parang bungkul  kalau batin kuat, kemenangan akhir pasti tercapai.” (Idham Chalid, Borneo Simboen, 24 Juli 1945, h.2.)

Dr. Idham Chalid, akrab disapa Pak Idham, wafat karena sakit uzur pada hari Ahad, 11 Juli 2010, jam 08.00 WIB di kediamannya Komplek Pesantren Darul Ma’arif, Cipete, Jakarta Selatan.

Ia wafat dalam usia 88 tahun. Pak Idham lahir pada 27 Agustus 1922 di Setui, Kalimantan Selatan. Ada dua buku yang mengabadikan jejak pengabdian Idham; Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah (Pustaka Indonesia Satu, 2008), dan Idham Chalid Guru Politik Orang NU (Pustaka Pesantren, 2007).

Idham adalah figur kiai-politisi pilih tanding. Ia bukan politisi karbitan yang dikatrol karena menjadi anak kiai besar, yang menjadi politisi karena “barokah” orang tuanya.

Ia juga bukan pemuda daerah yang terpelanting ke pusat kekuasaan karena menggelayut kepada seorang tokoh. Ia meniti karier dari bawah, dari Amuntai, Kalimantan Selatan.

Sosok Idham merupakan contoh yang baik untuk ditiru bagi para pemuda daerah yang ingin berkiprah di pentas politik tingkat nasional.

Pertama, Idham memahami persoalan daerahnya. Sesuai latar belakang pendidikannya di Pesantren Gontor, Ponorogo, yang dilakukannya pada awal mula adalah memperbaiki sistem pendidikan di kampungnya. Sebagai Kepala Sekolah Islam Panangkalan, Amuntai (Ma’had Rasyidiyyah), ia menerapkan disiplin pendidikan ala Pesantren Gontor hingga sekolah tersebut maju pesat.

Kedua, ia mampu mengorganisir massa demi mencapai tujuan yang telah disepakati. Kemampuan itu dibuktikannya dengan mendirikan Ittihadul Ma’ahid al Islamiyah (Perkumpulan madrasah-pesantren Islam). Organisasi ini berkembang tidak hanya di Amuntai, tapi juga meluas ke Banjarmasin dan Kuala Kapuas. Lewat organisasi ini ia memiliki identitas sebagai tokoh pendidikan Islam.

Kutipan pidatonya sebagai tokoh pemuda Amuntai di bagian awal tulisan ini, menunjukkan bahwa ia tokoh muda yang berkharisma.

Ketiga, Idham membuktikan dirinya rela berkorban demi perjuangan. Ia mengalami masa-masa pahit hidup dari penjara ke penjara karena membela nilai-nilai perjuangannya.  Dengan cara ini, Idham telah “khatam” berkhidmat di daerahnya sebelum kemudian melanjutkan kiprahnya di Jakarta sebagai representasi tokoh Kalsel.

Lingkungan NU
Munculnya Idham sebagai Ketua Umum PBNU sejak 1956, membuktikan bahwa organisasi NU itu demokratis. Idham bukan dari Jawa dan bukan pula anak ulama besar. Bahkan Idham tidak mengaji di pesantren kiai NU, melainkan di Pesantren Modern Gontor.

Aktifnya Idham di NU tak lepas dari kejelian KH A Wachid Hasyim. Selain Idham, organisator lain yang “ditemukan” Wachid adalah Saifuddin Zuhri dan Zainul Arifin. Terbukti ketiga tokoh itu, yang sama-sama bukan “darah biru” NU, berhasil menjadi inti organisasi NU ketika tokoh-tokoh utama penggerak NU berguguran, Mahfuz Siddik (1935) dan Wachid Hasyim (1953).

Idham berhasil menjadi Ketua Umum PBNU selama 28 tahun (1956-1984), Saifuddin Zuhri menonjol di bidang jurnalistik dan meninggalkan catatan paling banyak mengenai kiprah NU, dan Zainul Arifin menjadi Panglima Tertinggi Hizbullah. Idham memikat hati Wachid antara lain karena kepandaiannya berbahasa Jepang, sesuatu yang langka dikuasai pemuda pesantren saat itu.

Salah satu kisah paling heroik dari Idham adalah perjalanannya menemani Kiai Wahab Chasbullah mengelilingi cabang-cabang Partai NU menjelang Pemilu 1955.

Pada periode setelah memisahkan diri dari Masyumi inilah cabang NU berdiri hampir merata termasuk di seluruh Jawa Barat. Di sebuah kabupaten di Jawa Tengah, organisasi NU nyaris lumpuh. Ini tak lepas dari dampak pemisahan NU dari Masyumi.

Pengurus NU yang banyak menjadi pegawai departemen agama memilih “sembunyi” karena Menteri Agama dijabat oleh non-NU. Tinggallah sembilan orang yang masih bersedia diangkat sebagai pengurus Partai NU.

Di hadapan sembilan orang ini, Wahab dan Idham memberikan orasi politik layaknya di depan ribuan orang:

“Yang baik bukan yang banyak. Yang banyak bukan berarti selalu baik, tetapi barang yang baik itu artinya banyak,” tegas Idham memberi semangat.

Selesai melantik mereka sebagai pengurus dan mengatur strategi kampanye, keduanya “menginap” di mesjid. Selesai berjamaah Isya, Idham tiduran melepas lelah, sementara Wahab meneruskan salat sunat. Menjelang subuh Idham bangun dan mendapati Kiai Wahab masih salat sunat.

“Insya Allah, pada masa kampanye nanti, kita kembali ke sini akan disambut oleh ribuan jamaah NU,” ujar Kiai Wahab membesarkan hati Idham. Dan hal itu terbukti. Di kabupaten tersebut, suara Partai NU mencapai hasil yang signifikan.

Kisah yang sering diungkapkan Idham dalam pelatihan kader NU itu, sangat kontras dengan kondisi partai-partai berbasis NU sekarang. Kharisma ulama tidak lagi mampu menjadi perekat umat nahdliyin, malah pada gilirannya kharisma yang sudah memudar itu masih diperebutkan untuk melegitimasi kepentingan kelompok elit tertentu di dalam partai.

Kedekatan dan ketaatan Idham pada kiai itulah yang membuatnya mampu bertahan lama sebagai Ketua Umum PBNU. Ia dianggap mampu memahami psikologis para kiai pesantren, sesuatu yang tidak dikuasai oleh para pesaingnya di internal NU.

Kemampuan yang sekarang sudah diabaikan oleh politisi yang datang dari pesantren dan memanfaatkan jaringan pesantren. Idham baru berhasil “dilengserkan” dari PBNU setelah kemunculan Abdurrahman Wahid pada Muktamar XXVII di Situbondo, 1984.

Artikel ini belum selesai. Harus dibaca sampai akhir. Klik: Selanjutnya
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini