Sabtu, 14 Juli 2018

Kaji Kurikulum, STAINU Temanggung Mantabkan Kajian Islam Nusantara


DutaIslam.Com - Tepat pukul 08.28 WIB, Workshop Penguatan Kurikulum KKN-SNPT STAINU Temanggung resmi dibuka Drs. KH. Moh. Baehaqi, MM Ketua STAINU di ruang pertemuan Hotel Oxalis Jl. Cempaka No. 17, Kemirirejo, Magelang, Kota Magelang, Jawa Tengah.

Dalam workshop bertajuk "Menuju STAINU Temanggung Berwawasan Riset" itu, membedah kurikulum berbasis KKNI-SNPT yang sudah diterapkan di STAINU.

Dalam pemaparan materi, Dr. Sigit Purnama, M.Pd akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menegaskan semua perguruan tinggi sesuai UU Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi wajib menerapkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia atau KKNI dan menyesuaikan Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang biasa disebut SN DIKTI atau SNPT.

"Semua lulusan STAINU kalau sudah ada standar minimal di KKNI-SNPT akan sama dengan semua kampus. Lulusan PAI STAINU tak akan kalah dengan UIN misalnya. Lulusan PGMI STAINU tak akan dengan UIN atau kampus lain misalnya, begitu pula yang lain," beber doktor jebolan UNY tersebut.

Jika sudah menerapkan KKNI-SNPT, kampus harus memiliki keunikan. "Ini munculooo pada mata kuliah penciri, baik di tingkat universitoa atau jurusan dan prodi yang mendukung visi misi. Jadi yang unik inilah yang menarik," beber dia.

Dijelaskan dia, di UIN Jogjakarta kemarin yang menarik adalah visi misi dan menjadi perhatian khusus saat akreditasi ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA).

"STAINU karena di bawah NU harus menunjukkan mata kuliah penciri NU nya karena itu yang membedakan, memiliki nilai lebih di akreditasi," lanjut dia.

Ia pun menegaskan, kajian Islam Nusantara yang dimasukkan ke mata kuliah di STAINU Temanggung sangat bagus karena wajib diterapkan di semua prodi. Selain Islam Nusantara, STAINU juga memiliki mata kuliah penciri yaitu Aswaja Annahdliyah, Sejarah Pemikiran dan Perkembangan NU dan beberapa mata kuliah pendidikan Islam lainnya.

Sementara mata kuliah titipan nasional itu Pendidikan Pancasila, Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia dan pendidikan agama yang berciri khas Islam di sejumlah mata kuliah.

Menurut Sigit, mata kuliah Islam Nusantara menjadi kajian yang menarik diperdalam. Sebab, lebih menekankan pada Islam moderat khas Indonesia atau Nusantara. "Intinya Islam moderat, tidak terlalu kanan dan kiri. Kemarin saya juga menulis soal ini," lanjut dia.

Acara workshop ini dihadiri puluhan dosen yang digelar pada Jumat (13/07/3018) sampai Sabtu (14/7/2018) dengan menghadirkan pula Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA dari UIN Jogjakarta. [dutaislam.com/hi/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini