Selasa, 31 Juli 2018

Islam Nusantara Dipelintir, Azyumardi Azra Ikut Mangkel

Azyumardi Azra. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com – Cendekiawan muslim sekaligus Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra angkat bicara soal Islam Nusantara yang sering disalahpahami. Azyumardi tanpak mangkel hingga mengeluarkan kata-kata kasar bagi orang-orang tak paham tetapi justru memelintir konsep Islam Nusantara.

Azyumardi mengatakan, dirinya telah menulis buku Islam Nusantara pada 2003. Saat itu bukunya diramaikan dengan seminar di beberapa pusat kajian Islam di sejumlah universitas di AS dan Eropa. Tetapi mereka tidak paham, kemudian memelitir seenaknya sendiri.

“Saya menulis buku Islam Nusantara; Jaringan Global, Jaringan Lokal (2003) yang meramaikan dengan seminar, justru beberapa Pusat Kajian Islam dan/atau Pusat Kajian Indonesia/ASEAN di sejumlah Univ. AS dan Eropa. Mereka tidak paham, tapi memelintir semau udelnya,” kata Azyumardi melalui akun Twitternya, Ahad (29/07/2018).

Azyumardi Azra bercerita, ketika Muktamar NU di Jombang pada 2015 ada seorang kiai yang menganggap bahwa Islam Nusantara diambil di buku tersebut. Namun, lanjut Azyumardi, NU terlalu besar jika merujuk pada buku tersebut.

“Ketika bicara dalam Seminar di Ponpes Tebu Ireng seorang kiyai menganggap istilah Islam Nusantara berasal dari buku itu. Tapi saya jawab, NU terlalu besar untuk mengambil istilah itu dari saya untuk Muktamar di Jombang 2015,” katanya.


Azyumardi juga menyinggung soal penolakan Islam Nusantara oleh MUI Sumatera Barat. Menurutnya, Islam Nusantara di Minang adalah adat bersanding syara’ dan syara bersanding dengan kitabullah.

“Di Minang, Islam Nusantara itu adalah "Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah'. Adat adalah lokal genius. Islam datang dan menyebar melalui proses vernakularisasi dan indigenisasi (adat itu indigenous Minang),” kata Azyumardi.

Lebih jauh mengenai Islam Nusantara, menurut Azyumardi Azra, bisa dilacak dari sejarah kedatangan ajaran Islam ke wilayah Nusantara yang disebutnya melalui proses vernakularisasi. Kedatangan Islam ke wilayah Nusantara melalui proses pembahasaan dan pribumisasi sehingga Islam menjadi tertanam dalam budaya Indonesia.

"Vernakularisasi itu adalah pembahasaan kata-kata atau konsep kunci dari Bahasa Arab ke bahasa lokal di Nusantara, yaitu bahasa Melayu, Jawa, Sunda dan tentu saja bahasa Indonesia," katanya dilansir dutaislam.com dari bbc.com.

Kemudian proses ini diikuti pribumisasi (indigenisasi), sehingga menurutnya, Islam menjadi embedded (tertanam) dalam budaya Indonesia.

"Jadi, tidak lagi menjadi sesuatu yang asing. Karena itu, dalam penampilan budayanya, Islam Indonesia jauh berbeda dengan Islam Arab... Telah terjadi proses akulturasi, proses adopsi budaya-budaya lokal, sehingga kemudian terjadi Islam embedded di Indonesia," katanya.[dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini