Minggu, 01 Juli 2018

Amar Makruf Nahi Mungkar ala Kiai NU

amar makruf nahi munkar dalam tradisi nu
Ilustrasi amar maruf nahi munkar (istimewa)
Oleh Ustadz Makruf Khozin

DutaIslam.Com - Mengawali Jum'at mubarakah ini, saya kedatangan tamu luar biasa, santri yang juga lulusan Al-Azhar, Mesir dan sedang melanjutkan S2, mewawancarai saya untuk tesisnya tentang Amar Makruf Nahi Mungkar dalam perspektif ormas-ormas Islam.

Sebelumnya beliau telah sowan ke Kiai Abdurrahman Navis sebagai Wakil Ketua PWNU Jatim. Entah kenapa melanjutkan kepada saya padahal saya bukan apa-apa. Kemungkinan karena sedang bicara soal Makruf maka nama saya dirasa pas karena ada kesesuaian, sama-sama Makruf.

Amar Makruf yang dipraktekkan oleh para kiai NU adalah sesuai hadis berikut:

ﻣﻦ ﺃﻣﺮ ﺑﻤﻌﺮﻭﻑ ﻓﻠﻴﻜﻦ ﺃﻣﺮﻩ ﺫﻟﻚ ﺑﻤﻌﺮﻭﻑ. "ﻫﺐ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ".

"Barang siapa memerintahkan kebaikan, maka hendaklah dilakukan dengan cara yang baik pula" (HR Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman dari Ibnu Amr)

Hadis ini saya temukan dalam kitab Kanzul Ummal, karya ulama India yang memuat sejumlah 46.623 hadis. Sayangnya kitab hadis ini tidak disertai status derajat Hadisnya, mungkin karena terlalu memuat banyak hadis, mendekati 50 ribu hadis.

Cara Terbaik Amar Maruf Nahi Munkar


Apakah kyai-kyai NU tidak melakukan Nahi Mungkar? Tetap melakukan namun tetap dengan cara yang baik. Mana bisa?

Silahkan bisa diobservasi beberapa sampel pesantren. Tebuireng Jombang, misalnya, sudah populer di sana awalnya adalah perkampungan yang tidak baik, Hadlratusy Syekh KH Hasyim Asy'ari datang, membangun pesantren di sana, dalam perkembangan beberapa tahun berikutnya sudah berubah menjadi desa santri.

Jadi konsep menghilangkan kemungkaran bagi ulama NU tidak cukup didobrak-abrik sampai bubar, tetapi bagaimana kemungkaran itu benar-benar hilang dan berganti dengan sebuah kebaikan yang permanen. Cara pendiri NU ini diterapkan oleh banyak kiai di banyak perkampungan.

Apakah tidak ada kekerasan sama sekali? Kiai NU tahu betul dalam menerapkan kelembutan dan kekerasan. Untuk menghadapi kemungkaran orang di sekitarnya, para kiai menerapkan kelembutan. Namun ketika kemungkaran sangat besar, seperti kembalinya penjajah dan sekutu yang hendak datang ke Surabaya, KH Hasyim Asy'ari memfatwakan resolusi jihad, perang di jalan Allah, hukumnya Fardlu Ain bagi muslimin di sekitar wilayah Surabaya.

Jadi Kyai NU sangat paham dengan dosis menerapkan Amar Makruf Nahi Mungkar. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini