Rabu, 27 Juni 2018

RK Menang, Jabar Akhirnya Lepas dari PKS

Para Cagub Jawa Barat. (Ilustrasi: Istimewa)
Oleh Alifurrahman

DutaIslam.Com - Melihat hasil quick count Pilkada 2018 ini, saya belajar beberapa hal tentang strategi politik. Tentang beberapa kejutan dan kenyataan yang di luar prediksi, ibarat Argentina yang secara mengejutkan ditahan imbang Islandia dan kalah telak oleh Kroasia.

Saat PDIP ngotot mencalonkan kadernya sendiri, TB Hasanudin dan Anton Charlian, saya sempat bingung. Ini apa tujuannya? Kenapa tidak mengusung Ridwan Kamil atau Dedy Mulyadi yang sudah jelas-jelas memiliki bukti kerja. Padahal sehari sebelum deklarasi calon, Ridwal Kamil sudah sungkem pada Bu Mega.

Saya cukup kecewa karena PDIP biasanya mendukung atau mengusung calon-calon yang bisa bekerja efektif. Sederet nama seperti Jokowi, Ganjar dan Risma adalah nama-nama yang ditemukan oleh PDIP. Apapun yang orang katakan tentang partai tersebut, faktanya belum ada partai yang mampu melahirkan pemimpin daerah sebaik PDIP.

Tapi sekarang setelah melihat hasil quick count di Jawa Barat, pada akhirnya kita harus mengakui betapa kuatnya Gerindra dan PKS di wilayah tersebut. Sehingga calon yang sebenarnya tidak populer, tidak ada bukti nyata hasil kerjanya, kalah telak di banyak survey, kini dalam quick count kita bisa melihat bahwa mereka cukup kuat.

Sudrajat Saikhu mendapat 29.55 persen suara menempel ketat Ridwan Kamil dengan 32.11 persen suara. Sementara pasangan Dedy hanya 25,69 persen dan calon dari PDIP 12,65 persen. Berdasarkan data suara masuk 64 persen, yang biasanya akan stabil sampai akhir.

Bagi saya ini mengejutkan, karena saya pikir yang akan bersaing ketat adalah Ridwan Kamil dan duo Dedy.

Andai Pilgub Jabar hanya diikuti oleh dua atau tiga pasang calon, tanpa pasangan dari PDIP, besar kemungkinannya Sudrajat dan Saikhu akan menang dan memimpin Jabar selama 5 tahun mendatang. Apalagi kalau hanya dua calon, misalnya Sudrajat-Saikhu melawan Ridwan Kamil-Dedy Mulyadi, kemungkinan besar pasangan Gerindra PKS yang akan menang.

Pola serangan dan kampanye hitam yang terjadi di Jawa Barat begitu kompleks. Ridwan Kamil yang kita kira akan menang mudah, di detik-detik akhir diserang isu homo. Dedy Mulyadi yang kita pikir bisa meraih suara signifikan, apalagi menggandeng Dedy Mizwar sebagai pertahana, nyatanya diserang isu SARA. Betapapun Dedy Mizwar dulunya adalah idola keluarga PKS, nyatanya itu tak mampu meredam isu SARA terhadap mereka.

Kita tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya kalau Ridwal Kamil berpasangan dengan Dedy Mulyadi seperti keinginan banyak orang, dan Jabar hanya memiliki dua pasang calon. Kamil diserang isu homo, Dedy diserang isu SARA atau aliran sunda wiwitan. Selesailah Jabar, kembali dikuasai Gubernur yang kalau ada banjir warganya disuruh doa seperti 10 tahun belakangan ini. Haha

Tapi untungnya Jabar memiliki 4 pasang calon. Sehingga suara terpecah. Serangan pun tidak terfokus pada satu pasang calon. Dan ini menguntungkan posisi Ridwal Kamil.

Pemilu adalah kontestastasi politik yang membutuhkan strategi dan pemikiran jangka panjang. Tidak hanya pertimbangan emosional dan keinginan tanpa perhitungan. Sehingga saya pikir kita semua kini paham mengapa Dedy Mulyadi dan Ridwan Kamil tidak dipasangkan, dan PDIP ngotot mengusung kadernya sendiri karena merupakan satu-satunya partai di Jabar yang mampu mengusung calon tanpa koalisi.

Semua ini adalah bagian dari strategi besar menyelamatkan Jabar dari pemimpin yang tidak bisa bekerja. Menyalamatkan salah satu provinsi padat penduduk dari cengkraman pemimpin baliho dan spanduk.

Saya pribadi tidak percaya kalau semua ini hanyalah kebetulan yang tak terencana. Semuanya terencana dengan baik, meski sebelum ini mereka para pembuat strategi ini belum yakin betul yang akan menang apakah duo Dedy atau Kamil. Yang jelas mereka paham bahwa strategi politik PKS dan Gerindra masih sama seperti Pilpres 2014 lalu.

Pada akhirnya selamat kepada Jawa Barat yang kemungkinan akan dipimpin oleh Ridwan Kamil. Semoga segera berbenah dan menjadi bagian dari cita-cita Indonesia maju.

Soal peristiwa Ridwan Kamil yang sungkem ke Bu Mega namun akhirnya PDIP batal mengusungnya, saya pikir itupun bagian dari skenario besar menyemalatkan Jabar dari genggaman kader PKS seperti Aher. Dan kalaupun ini semua hanyalah kebetulan, tetap saja kebetulan yang luar biasa. Begitulah kura-kura. [dutaislam.com/gg]

Source: Seword

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini