Senin, 25 Juni 2018

Quo Vadis Peradaban Teks Islam Nusantara

Islam Nusantara. (Ilustrasi: Istimewa)
Oleh Muhammad Al-Fayyadl

DutaIslam.Com - Peradaban Arab-Islam disebut Nasr Hamid Abu Zaid sebagai "peradaban teks" (حضارۃ النص), karena "teks" menjadi pokok rujukan dan poros epistemik kesadaran orang-orangnya. Dibedakannya dari peradaban Yunani kuna, yang disebutnya "peradaban rasio" (حضارۃ العقل).

Sebagai kelanjutan -- dalam banyak segi -- dari "peradaban teks" ini, Islam Nusantara hadir di bumi Nusantara ini dengan memproduksi banyak teks, utamanya melalui tradisi syarah atas teks-teks ulama Islam Abad Pertengahan, dan banyak di antaranya merupakan kreasi lokal yang baru hasil kreasi ulama atas budaya dan problem setempat.

Tapi itu seabad-dua abad lampau. Dan kita, kaum santri, masih dalam bayang-bayang peradaban teks Is-Nus yang kekayaannya masih mengejutkan dan membuat kita takjub.

Pertanyaannya, apakah Islam Nusantara hari ini, ya hari ini, akan terus menjadi estafet Peradaban Teks itu?

Kalau iya, apa buktinya? Seberapa produktif Islam Nusantara "zaman now" menghasilkan teks dan memproduksi teks yang dibaca puluhan atau ratusan tahun ke depan (andai dunia belum kiamat)?

Saya punya hipotesis. Islam Nusantara hari ini tak lagi menjadi estafet Peradaban Teks itu. Faktornya sederhana: kita tak lagi menulis dalam bahasa Arab, dengan tradisi manuskrip dan literer yang kuat, seperti Peradaban Teks yang dulu menghidupi Kiai Sholeh Darat, Kiai Nawawi al-Bantani, Kiai Ihsan Jampes, dan kiai-kiai "mushonnifin" yang lain. Dari segi pembacaan, kita juga tak sekuat ulama itu dalam membaca kitab -- kuat secara literer dan mental-spiritual. Kemelekatan kita dengan "kitab kuning" tak lagi sama dengan kemelekatan para ulama ini.

Hipotesisnya: Islam Nusantara akan berhenti sebagai Peradaban Teks hari ini, dan akan berubah menjadi Peradaban yang lain. Kalau hipotesis ini benar, kita berandai-andai: peradaban apa yang akan lahir, atau sedang lahir? Pertanyaan ini menentukan arah orientasi apa yang akan digeluti kaum santri.

Melihat kondisi dunia keulamaan dan kesantrian hari ini, ada beberapa kemungkinan.

Pertama, Peradaban Media (حضارۃ الاعلامات): Islam Nusantara ke depan akan menjadi Peradaban Media yang menggumuli Islam dengan kehadiran media-media baru. Kaum santri makin melek media, dan mungkin akan berkreasi dengan media-media baru -- visual, audio-visual, multimedia... Tapi ini mensyaratkan fiqih kesenian yang progresif. Selama masih mengharamkan beberapa seni, kaum santri akan terus ketinggalan.

Tapi tanpa teks, apakah Peradaban Media dapat eksis? Problemnya, tanpa kemampuan dan penguasaan tekstual yang baik, kaum santri bisa jadi diombang-ambingkan oleh Peradaban Media yang baru ini.

Kedua, Peradaban Panggung (حضارۃ التلقي والمجالسات). Kaum santri akan lebih suka mendengar dan menonton acara-acara keagamaan daripada membaca dan mengkaji agama dalam kesunyian. Panggung-panggung berisi acara agama digelar. Peradaban ini akan lebih banyak menghasilkan penceramah daripada penulis dan pemikir. Peradaban ini bercorak lisan. Artinya, kaum santri kembali ke peradaban lisan. Risikonya, panggung-panggung itu, selain menjadi sarana dakwah, juga menjadi sarana mobilisasi dukungan. Santri akan semakin politis, tapi kekritisannya semakin menurun. Peradaban panggung ini melahirkan euforia, kesenangan untuk berkumpul, dan solidaritas, tapi juga menumpulkan imajinasi kritis karena pertunjukannya yang dikemas memukau. Peradaban ini juga akan melahirkan santri-santri yang piawai sebagai "event organizer".

Ketiga, Peradaban Protes dan Resistensi (حضارۃ المقاومات). Kaum santri menghadapi problem-problem sosial yang lebih kompleks. Mereka bereaksi dengan aktif dalam gerakan-gerakan yang berusaha menjawab tantangan sosial hari ini oleh mengguritanya kapitalisme dan hegemoni negara. Peradaban ini akan menyuburkan organisasi-organisasi dan komunitas-komunitas kesantrian yang berorientasi sosial. Mereka melakukan protes dan resistensi atas kekuatan-kekuatan yang menyebabkan persoalan tersebut. Sebagian dari irisan "Islam Progresif" lahir dari rahim Peradaban ini.

Berbagai kemungkinan ini tidak berarti bahwa Teks menjadi tidak penting di kalangan santri. Tapi bahwa "nukleus" (inti) dari Islam Nusantara yang dulu pernah ada, secara bertahap atau radikal, telah bergeser dan Teks tak lagi menduduki posisi utama. Di situ Islam Nusantara mengalami perubahan, dan kita tak akan pernah melihat Islam Nusantara yang sama seperti dulu. [dutaislam.com/gg]

Source: Muhammad Al-Fayyadl

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini