Selasa, 19 Juni 2018

"Politik Kebencian" Ala PKS yang Tersingkap

Screenshot twit Hidayat Nur Wahid dan Tifatul Sembiring. (Foto: Istimewa)
Oleh Hairus Salim

DutaIslam.Com - Membaca status atau twit teman-teman NU, saya menangkap kemarahan yang luar biasa terhadap teman-teman PKS masalah menyangkut kepergian Gus Yahya ke Israel.

Untuk level pemula saya bisa memahami status-status atau twit-twit ketidaksukaan terhadap Gus Yahya. Tapi untuk seorang Bpk Hidayat Nur Wahid dan Bpk Tifatul Sembiring, saya betul-betul tidak mengerti. Hidayat adalah mantan Ketua MPR dan Tifatul adalah mantan Menteri, sedangkan Gus Yahya adalah mantan jubir Presiden GD dan sekarang anggota Watimpres. Sebagai tokoh, Hidayat dan Tifatul bisa saja mengajak ketemu Gus Yahya, atau setidaknya menelpon untuk kepentingan tabayun. Saya yakin Gus Yahya pasti bersedia menemui, bahkan pun kalau Gus Yahya yang diminta untuk datang.

Tentu saja APA yang dilakukan Gus Yahya bukan berarti tidak boleh dikritik. Kritik ada, dan banyak sekali, selain dari luar, juga dari dalam NU sendiri. Namun itu dilakukan dengan argumentasi yang kuat dan bermartabat.

Tapi itu tidak dilakukan oleh keduanya. Mereka menurunkan level ketokohan pada tingkatan sebagaimana dilakukan para pemula atau awam. Mereka umbar serangan-serangan murahan via medsos sebagaimana para pengikutnya yang masih duduk di sekolah menengah dan sedang berkobar semangat-semangatnya. Semangat tanpa isi.

Terus terang saya bukan kasihan pada Gus Yahya, dan Gus Yahya tidak perlu dikasihani, tapi justru pada mereka berdua.

Karena itu tidak perlulah teman-teman NU marah, kalau perlu malah bersyukur, karena sebenarnya mereka hanya disingkapkan sesuatu yang tersembunyi selama ini: politik kebencian. Dan tentu saja hal seperti ini TIDAK perlu balik dilakukan. [dutaislam.com/gg]

Source: Hairus Salim

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini