Kamis, 14 Juni 2018

'Minal 'Aidin Wal Faizin' Atau 'Taqabbalallahu Minna Wa Minkum'?

Maaf-maafan hari raya idul fitri. (Foto: Istimewa)
Oleh Mahmud Suyuti

DutaIslam.Com - Telah beredar pesan berantai dan menjadi viral via WA, FB, twitter, sms dan medos lainnya tentang minal 'aidin wal faizin tidak berdasar, beda dengan taqabballahu minna wa minkum, katanya ada dalil padahal semua punya dalil masing-masing.

Memang menjelang lebaran hari raya idul fitri, untaikan kata skaligus sprit doa yang sering keluar dari bibir seseorang scara langsun at via medsos adalah minal 'aidin wal faizin. Ini tentu ada dalilnya, yakni dari Abu Bakar scara muttasil dan terdapat dalam buku-buku syarah hadis sebagaimana taqabbalallahu minna wa minkum dalam fath al bari/II:446 bahwa:

كان اصحاب رسول الله صلم اذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنكم

Artinya: Sahabat-sahabat Nabi saw jika bertemu dengan selainnya pada hari raya mngucapkan taqabbalallahu minna wa minka, riwayat lain wa minkum (semoga Allah menerima amal kami dan kalian).

Itu sebagai 'urf/tradisi di kalangan sahabat. Dan dari Abu Bakar adalah:

من العئدين والفائزين
(Minal 'aidiina wal faizin)

Al 'aidiin dari kata 'id (id al fitri) yakni kembali ke fitrah. 'Id sebagai hal keadaan berulang setiap tahun untuk kembali pada kesucian lahir dan batin, sehingga ada juga yang mentradisikan ucapan "mohon maaf lahir dan batin", sejalan dengan doa para khulafa' al rasyidin saat khutbah ke 2 idil fitri,

اللهم بارك لنا في شهر رمضان واجعلنا من المتقين ومن العائدين و الفائزين وصل علي رسولك الكريم سيد الانام والمرسلين... ا

Allahumma barik lana fi syahri ramadan wa j'alna minal muttaqin wa minal 'aidiin wal faizin dst..

Ini semakna dengan  taqabbalallah... karena dengan kembali ke fitrah maka semoga Allah menerima amal kita dan selainnya.

Al Aidiiin dari kata al a'id (العائد) brarti "kembali" fail dari fiil 'aada (عاد) demikikian juga al faizin dengan majrur jamak muzakkar salim dari al faizu.

Minal aidin wal faaizin (selamat semoga kembali pada kemenangan), kembali suci di hari raya yang fitri ini.

Dengan dalil itu dijadikan pula dasar tradisi "kembali" dalam arti mudik ke kampung saat momen idil fitri, ke kampung untuk bersua dengan ortu dan keluarga, silaturahim dan meminta maaf sehingga benar-benar kembali fitra, suci dari dosa setelah bermaaf-maafan.

Ada teman bertanya, "apakah mengucapkan selamat idul fitri adalah bid'ah, khawatir kalau saya ucapkan, saya masuk neraka"?

Bagi saya ucapan tersebut tetap semakna dengan taqabballahu minna wa ninkum dan sesuai konteks maknanya dengan minal aidiin wal wafaizin. Jadi tidak usahlah terlalu jauh untuk sampai pada keraguan bid'ah atau apalah apalah, selama itu sebagai maslahah (kebaikan) dan esensinya untuk syiar Islam. Wallahu 'Alam. [dutaislam.com/gg]

Mahmud Suyuti, Dosen Hadis UIM.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini