Sabtu, 02 Juni 2018

Memanfaatkan Teknologi Untuk Dakwah Bil Medsos

teknologi untuk dakwah
Memanfaatkan teknologi untuk dakwah. Foto: istimewa
Oleh M Abdullah Badri

DutaIslam.Com - Jika dulu para perawi hadits butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan sebuah riwayat dengan segala fakta dan kebenarannya, kini, hanya dengan satu klik, banjir riwayat disajikan dalam layar datar bernama smartphone.

Dengan produk teknologi itulah, tingkat penyebaran ajaran Islam (dakwah) menjadi massif. Hadits atau ayat Al-Qur’an tidak lagi selalu dicari dengan mengaji di pesantren. Berkat dan rahmat perkembangan teknologi komunikasi, sabda-sabda Nabi dan firman-firman Allah Swt. sudah membanjir via hasil teknologi komunikasi dan informasi.

Mengapa bisa terjadi? Ya karena fungsi umum komunikasi itu memang untuk mempermudah kita dalam menginformasikan (to inform) sesuatu, mendidik (to educate) orang lain, menghibur (to entertain) pembaca, dan, ini yang terpenting, untuk mempengaruhi (to influence).

Jika karakter sistem komunikasi itu berkembang seiring kemajuan teknologi, fungsi komunikasi itu akan lebih cepat, dan kita, sebagai yang harus menggunakan produk teknologi itu, kadang bisa terjerembab pada posisi sebagai korban arus informasi yang membanjir  tersebut.

Dalam dakwah Islam, agar kita tidak jatuh sebagai konsumen informasi produk teknologi, menjadi produsen teknologi adalah pilihan strategis. Dalam konteks inilah pemanfaatan teknologi sebagai sarana komunikasi berdakwah punya tambahan fungsi lain, yakni mengajak atau menyeru (to invite/to propagate).

Fungsi dakwah tersebut adalah titah dan perintah Al-Qur’an serta hadits Nabi.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik, Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl: 125)

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad juga menyerukan perintah untuk menyampaikan dawuh beliau, walau hanya satu ayat.

“Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”. (HR.Bukhari)

Teknologi Untuk Dakwah


Nah, untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah ini kepada 143 juta pengguna internet di Indonesia (data Kompas), bisa melalui banyak cara. Menurut saya, paling efektif untuk melakukan ajakan-ajakan dakwah, setidaknya ada empat sarana produksi: 1. teks. 2. grafis. 3. video. 4. broadcast.

Jika kita tidak segera mengambil posisi sebagai produsen, maka, lambat laun kita akan jadi konsumen bersama para pengguna teknologi lainnya yang kini didominasi usia 19-30 tahun, dan 72.41 persen ada di kalangan masyarakat urban kota.

Untuk menjadi influencer (yang berpengaruh) di dunia teknologi informasi, produksi teks, grafis, video dan juga broadcast yang sudah diisi dengan pesan nilai dakwah harus disebar dengan kekuatan massif di platform media sosial yang sudah banyak penggunanya di Indonesia. Antara lain Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan WhatsApp. Tambah lagi ke Telegram dan Line.

Cukup menguasai 4 platform media di atas ditambah 1 atau 2 pesan instan (WA dan Telegram), insyaAllah bisa menjadi pendakwah di dunia lain yang diperhitungkan. Syaratnya:

1. Buatlah blog, jadikan sebagai pusat database atau medianya,
2. Perkaya followers (Facebook, Twitter, Instagram, Telegram),
3. Rutin update konten (teks/grafis/video/broadcast)
4. Gunakan framing isu sehingga menarik, dan terakhir,
5. Perluas jadi komunitas (di WhatsApp).

InsyaAllah tahan lama. 

Pilihan menjadi produsen konten dalam pemanfaatan teknologi ini menurut saya menjadi niscaya karena dengan begitu, kita tidak lagi mudah percaya dengan konten-konten yang dikirim secara berantai tapi tidak kita inginkan.

Dengan menjadi produsen konten dakwah, status “haram” sebuah konten bisa diverifikasi. Betulkah ia haram dikonsumsi atau tidak? Kalau terbukti haram atau hoax, buang jauh. Karena hal itu akan mewariskan qoswatul qolb (atos ati). Kalau masih sekadar membuat kaku ati, masih bisa ditolelir.

Kadang, karena kita jadi konsumen konten dakwah ngawuris, konten yang kita “makan” membuat hati makin tertutup dan qoswah (keras) karena tidak mau menerima kebenaran dari orang lain, merasa paling Islam, merasa paling masuk surga dan merasa paling benar. Efeknya, timbul ingin aksi bela-belaan dan ganti-gantian. Itu masih mending. Kalau sudah jatuh tidak mau dituturi liyan dan menghina, repot bukan? 

Namun, untuk memanfaatkan teknologi komunikasi sehingga jadi rujukan banyak orang dan viral, ternyata banyak yang anyang-anyangen. Akun dibuat, website didirikan, tapi produksi digarap asal suka, asal senggang, asal mood. Energi untuk menjadi pendakwah yang ngajak-ngajak itu sungguh besar.

Butuh biaya, tenaga, pikiran, jaringan luas serta istiqamah agar berbuah keramat (karamah) viral dan konten dimakan banyak konsumen. Generasi milenial beda dengan generasi baby bombers pasca perang dunia II. Apalagi dibandingkan generasi salaf. Jauh.

Generasi salaf mau menempuh ratusan kilo untuk mendapatkan riwayat sebuah hadits. Kini, untuk memproduksi sebuah konten yang sudah tersaji saja sudah menyebut diri tidak mampu. Betulkah kita generasi qoswatul qolb? [dutaislam.com/ab]

Oleh M Abdullah Badri,
Wakil Sekretaris PC LTN NU Kabupaten Jepara

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini