Jumat, 22 Juni 2018

Kesamaan Israel dan Arab Saudi

Bendera Israel dan Arab Saudi. Foto: Istimewa.
Oleh Musa Kazhim Al Habsyie

DutaIslam.Com - Sepekan lalu, Presiden AS Donald Trump secara sepihak memutuskan mundur dari perjanjian nuklir 5+1 yang diumumkan Juli 2015 silam. Banyak pemimpin dunia yang mengecam, kecuali dua negara ini: Israel dan Saudi.

Mengapa? Apa sebenarnya yang menyatukan keduanya?

Pertama, dua rezim ini sama-sama menempati tanah yang bukan miliknya. Mayoritas mutlak orang Yahudi yang kini menempati Palestina bukanlah penduduk asli, melainkan pendatang dari Eropa, Afrika, Asia dan Amerika. Fakta yang sama juga terjadi di Arab Saudi. Jika kita lihat para penguasa Arab Saudi sekarang, maka kita akan menemukan bahwa sebagian besar mereka berasal dari wilayah Nejd. Ibukota Arab Saudi sekarang adalah Riyadh yang merupakan ibukota Nejd, dan raja-raja Arab Saudi lahir di Sudair. Dan karena fakta itu maka mereka biasa disebut dengan Sudairi.

Suku Saud kemudian membentuk gerombolan bersenjata yang meneror warga yang lalu-lalang di Jazirah Arab yang dahulu dikenal dengan nama Hijaz. Gerombolan suku Saud yang bengis itu lalu merampok harta dan memperbudak sebagian mereka. Pelan-pelan suku ini menjadi kuat, banyak harta, memiliki senjata lengkap dan siap menganeksasi wilayah suku-suku lain. Untuk itu, mereka melakukan aliansi dengan suku-suku yang dapat dibeli dan membentuk jalinan tribal yang disebut kemudian dengan Ikhwan (Persaudaraan) demi meraih ambisi kekuasaan di wilayah sahara ini.

Muhammad bin Saud kemudian merasa bahwa persaudaraan duit, senjata dan tahta tidaklah cukup. Karena itu, dia bernegosiasi dengan seorang “ulama” ekstremis bernama Muhammad bin Abdul Wahab dan mendeklarasikan gerakan politik berkedok agama bernama Al-Ikhwan. Kelak Al-Ikhwan ini lebih dikenal dengan nama Wahabi. Aliran Wahabi sebenarnya tidak menawarkan sistem pemikiran dan kepercayaan tersendiri, kecuali berisi penolakan, kecaman, pengkafiran dan puncaknya pemusyrikan aliran-aliran di luar orbit pengaruhnya. Aliran ini lantas muncul sebagai gerakan bersenjata yang mendapat dukungan Imperium Inggris kala itu untuk memusnahkan pihak-pihak yang bersebrangan, siapa pun itu, untuk tujuan menguasai dan menundukkannya.

Latar belakang historis yang sama juga persis terjadi pada gerombolan Zionis di Tanah Palestina. Coba baca saja perilaku gang zionis di masa penjajahan Inggris atas Palestina awal abad lampau, terutama yang menggunakan nama Lehi atau dengan kepanjangan Lohamei Herut Israel (Gerakan Pejuang Kemerdekaan Israel. Gerakan yang menyebut diri sebagai pejuang kemerdekaan ini sebenarnya tak lebih dari paramiliter zionis yang bekerja menakut-nakuti dan meneror penduduk Palestina yang pada masa itu umumnya menjadi petani yang tak bersenjata (lebih jauh soal gerakan ini, rujuk wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Lehi_(group)).

Setelah membaca sejarah Lehi, maka kita akan menemukan betapa mirip dua gerakan binaan penjajah Inggris di Palestina dan Hijaz ini, bak pinang dibelah dua. Tapi memang tak perlu heran, karena keduanya asuhan sistem imperialisme yang sama.

Kedua, melihat latarbelakang historis kerajaan Saudi di atas, para penjajah Inggris yang datang ke wilayah asing untuk menguasai seolah menemukan soulmate-nya pada gerakan ekstremis Wahabi (dan zionis) ini. Tanpa basa-basi Inggris langsung menyokong gerakan Wahabi-Saudi itu dan menjalin aliansi jahat untuk menguasai Jazirah Arab yang kaya, sakral dan simbolik. Mula-mula imperialis Inggris memasok senjata pada gerombolan bersenjata yang tak mengenal nilai itu dan mengganyang kekuasaan kerajaan Al-Asyraf di Mekkah. Setelah itu mereka menjalin konspirasi untuk mendominasi bangsa-bangsa Arab dengan ancaman di satu sisi dan iming-iming di sisi lain hingga berhasil merebut wilayah yang sangat luas dari Jazirah Arab. Aliansi imperialis Inggris-Wahabi berlangsung mulus hingga pudarnya masa keemasan Britania di akhir Perang Dunia II dan perannya digantikan oleh Amerika Serikat sebagai penyangga imperialisme Tata Dunia Baru (The New World Order).

Ketiga, kesamaan lain dari rezim Saudi dan Israel  ialah dalam penggunaan nama suku dan persisnya nama negara. Pemakaian nama kakek untuk sebuah negara menunjukkan asas kesukuan dan rasisme yang menguasai kedua rezim tersebut. Pemakaian nama kakek sebagai nama negara Saudi dan Israel itu merangkumkan semuanya: visi, maksud, ideologi dan hakikat berdirinya kedua negara tersebut.
Israel adalah rezim rasis yang secara tegas menyatakan diri sebagai Jewish state (Negara kaum Yahudi). Dan Yahudi adalah agama yang menolak keanggotaan di luar ras Yahudi itu sendiri. Apalagi, secara prinsip, ras Yahudi otomatis beragama Yahudi. Kesimpulannya, Israel itu secara sah dan diakui merupakan negara apartheid yang didirikan semata-mata demi memuaskan ilusi supremasi ras ini terhadap seluruh umat manusia.

Ternyata, tidak jauh beda dengan ilusi rasis kaum Yahudi itu, Keluarga Saud juga memiliki ilusi yang serupa. Celakanya, rasisme Saudi ini justru memakai simbol Islam, Al-Haramayn, Makkah dan Madinah, yang seluruhnya merupakan simbol-simbol perlawanan terhadap diskriminasi ras dan golongan. Lebih sialnya lagi, dan dalam rangka memberi kesan hipokrit yang membingungkan, gerakan Saudi-Wahabi ini menjadikan Tauhid sebagai semboyan keagamaannya. Luarbiasa! Tauhid yang sesungguhnya adalah agama yang intinya adalah memerdekaan manusia dari penyembahan terhadap segala sesuatu selain Allah kini menjadi penyangga perbudakan, kerajaan, dinasti dan feudalisme keluarga suku Saud dari Nejd untk menguasai dan mengangkangi Jazirah Arab, tempat-tempat suci umat Islam, dan bahkan agama umat Islam di seantero dunia.

Adakah kemunafikan yang lebih menjijikkan dari ini? Untuk menambah efek penghinaan terhadap ajaran Tauhid ini, maka rezim atau entitas bernama Kerajaan Arab Saudi ini memakai kalimat La Ilaha Illallah sebagai lambang benderanya. Seolah-olah Tauhid yang merupakan sokoguru kemerdekaan manusia dari segala bentuk perbudakan dan penghambaan ditundukkan untuk melegitimasi monarki mutlak seorang raja dan suku di Jazirah Arab.

Penghinaan terhadap Tauhid tidak berhenti sampai pada pelecehan simbol-simbol Tauhid tapi juga pada pelaksanaan, menifestasi dan ekspresi Tauhid di dalam dua Masjid Nabawi. Siapa saja dari kalangan Umat Islam yang pernah berkunjung ke Madinah untuk berziarah kepada Nabi Pembawa Tauhid akan menyaksikan sendiri penghinaan kaum Wahabi yang telah menjadi budak suku Saudi itu. Para mutawwi’ alias paramiliter penjaga Al-Haramayn menghina, melecehkan dan menista semua bentuk ekspesi cinta pada Tauhid dan Risalah Rasulullah dengan memutarbalikkan fakta bahwa ziarah adalah perbuatan syirik. Jikalau ziarah Nabi Muhammad itu syirik karena membersitkan pemujaan dan pengagungan pada makhluk sebagaimana yang dituduhkan kaum Wahabi yang tak lebih dari budak suku Saudi, maka mengunjungi dan menciumi serta menghormati Hajar Al-Aswad yang tak lebih dari batu itu apa artinya? Bukankah Rasulullah lebih mulia dari Hajar Aswad? Apalagi beliau adalah kekasih Allah yang paling dekat dengan-Nya?

Perilaku serupa rupanya berlangsung pula sehari-hari di Masjid Al-Aqsha di tangan saudara-saudara kembar Saudi, yakni rezim zionis Israel. Oleh karena itu, tak heran bila kedua entitas rasis dan ekstremis ini dibela mati-matian oleh kekuatan-kekuatan dunia yang sama: Amerika Serikat, Inggris, Eropa dan sebagainya dengan niat awal yang mengerikan.

Salah satu niat awal pembelaan kekuatan-kekuatan kolonialis-imperialis lama dan baru ini ialah kekayaan dan kekuasaan. Namun, demi menunjang pencapaian dua tujuan besar itu, para pendukung ideologi kegelapan ini perlu melakukan penyesatan dan pembodohan yang paling ekstrem, pemutarbalikan fakta yang memuakkan, dan menyajikan konsep-konsep serta prinsip-prinsip hidup yang dapat mengobarkan “api perjuangan” dalam bentuk yang paling kelam. Maka itu, Tauhid yang sejatinya adalah obor perlawanan terhadap penindasan, perbudakan dan penundukan manusia harus dimunculkan dalam kebodohan sikap sebagaimana dicerminkan oleh kelompok Wahabi ini. Untuk mengubur Tauhid sedalam-dalamnya, maka ia harus digembar-gemborkan oleh orang yang jauh dari Tauhid.

Dan demikianlah, rezim Wahabi-Saudi dan Zionis-Yahudi muncul sebagai dua sisi gelap dalam kehidupan manusia modern di mana kita menyaksikan fanatisme religius yang luarbiasa di kalangan awam mereka, namun ada semangat sekularisme dan kapitalisme yang sangat bertolak belakang dengan Tauhid di kalangan elit mereka. [dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini