Sabtu, 02 Juni 2018

Kala Cadar Disoal Sebagai Politik Pakaian

Kalau cadar disoal sebagai politik pakaian. Foto: istimewa
Oleh M Abdullah Badri

DutaIslam.Com - Cadar atau niqab berbeda dengan jilbab atau kerudung. Sama-sama menutup aurat perempuan, jilbab lebih mendapatkan tempat dibanding cadar. Eklusifisme cadar jadi alasan orang menyebutnya lebih dari sekadar fashion. Dalam pakaian cadar, tersirat dan tersisip pesan politis yang menimbulkan polemik.

Ada dua kampus Islam negeri yang sudah terang-terangan melarang mahasiswinya menggunakan cadar di kampus tapi tetap mewajibkan jilbab. Pelarangan itu sempat dianggap kurang tepat oleh beberapa pihak dengan alasan diskriminasi hak asasi dan prasangka tak berdasar. Lalu, apa pentingnya kampus mengurus cadar hingga jadi aturan perkuliahan dan bahkan aturan sosial?

Diakui atau tidak, motivasi perempuan memakai cadar hingga menutup seluruh mukanya (kecuali mata), salah satunya adalah atas dorongan moral agama. Dengan bercadar, ada yang beranggapan bahwa hal itu sudah sesuai anjuran dan sunnah Rasulullah SAW. Alasan inilah yang memicu tumbuhnya seminar-seminar bertajuk hijrah (berpindah) di kampus-kampus.

Hijrah mengajak mereka yang awalnya hanya memakai jilbab dianjurkan memakai cadar. Lebih tertutup dan lebih terjaga dari maksiat, katanya. Namun, di sisi lain, cadar juga dijadikan alat oleh orang-orang tak bertanggungjawab untuk mencuri. Muka ditutup bukan untuk menjaga diri, tapi merugikan orang lain. Ini fakta yang ironis.

Cadar, dengan demikian, semata-mata hanyalah alat (wasilah), dan sama sekali bukan ghayah (tujuan) dalam menjaga diri atas nama agama. Sadar akhirnya jadi aksesoris dalam fashion. Karena itulah banyak ulama menyebut bahwa cadar bukan merupakan sunnah (kebaikan) yang taqriri atau ditetapkan secara rigit dalam Islam.

Syeikh Tantawi, Grand Syeikh Universitas Al-Azhar Mesir bahkan pernah meminta seorang mahasiswi mencopot cadarnya dengan alasan; niqab tidak ada hubungannya dengan Islam dan sekadar kebiasaan saja.

Cadar Sebagai Politik Pakaian


Artinya, bila kebiasaan itu memang dapat mempengaruhi keadaan jiwa (state of soul) seseorang, maka ada tujuan yang hendak diraih dan itu sangat baik. Misalnya, berkat cadar, pemakainya dijamin jadi lebih terbuka kepada orang lain, lebih ramah, menjadi pribadi inklusif dan tidak mengisolasi diri. Jika cadar adalah bagian dari hijrah, harusnya ia mampu membersihkan cadaris (pemakai cadar) dari sikap-sikap madzmumah (tercela), baik secara sosial maupun personal.

Masalahnya, sifat ekslusif dari cadar sudah melekat sejak dari cara memakainya, yang memang harus tertutup dan isolatif. Meskipun dianggap sunnah oleh beberapa kelompok muslim, cadar menghalangi melakukan sunnah qauli (ucapan Nabi) yang sudah ditetapkan (taqririyyah), yakni tabassum (senyum), yang dinyatakan Nabi sebagai sedekah gratis kepada sesama. Senyum bercadar hanya bisa dinikmati sendiri, meski dengan selfie.

Selain itu, ekslusifitas cadar banyak yang melahirkan sikap berpuas diri. Cadar memberhentikan pemakainya pada ruang paling beres secara moral dibanding liyan. Dalam sufisme, hal itu dibahasakan sebagai "al-wuquf ma'as tihsaniha" (setop jalan karena merasa baik). Bercadar pun akhirnya dianggap lebih baik dari jilbab, apalagi kerudung.

Tidak berlebihan jika cadar bukan hanya fashion aksesoris, tapi juga pakaian ideologis karena ekslusifitasnya. Ada identitas dalam aktivitas bercadar yang melahirkan citra dan persepsi atas pandangan agama, dan itu sangat politis. Orang menyebut cadar dekat dengan sikap radikalisme yang melahirkan aksi anarkhis bernama terorisme. Apalagi fakta publik menyatakan, banyak istri para teroris yang bercadar. Duh.

Jika cadar mampu mengubah seseorang menjadi muhajir (orang berhijrah) menjauhi larangan-larangan agama dan sosial yang merugikan liyan, itu sangat substansial diberlakukan. Tapi, format apa yang dipakai untuk menjadikan mahasiswi bisa berpikir substansial begitu?

Ajakan hijrah bercadar selama ini terhenti hanya pada peneguhan identitas diri, yang merasa lebih baik menurut ukuran agama dan lalu suatu saat bisa dijadikan sarana mobilisasi politik berbasis kesamaan fashion macam jenggot dan celana ngatung.

Bagi kalangan kampus, cadar -sebagaimana sepatu, tas, dan kendaraan- tidak jadi penanda dia berkembang lebih pintar dan lebih akademis. Kesan bahwa menata niat menutup aurat terkalahkan oleh motivasi dominan menata tertutupnya wajah sangat terasa dalam ajakan politis hijrah bercadar.

Ini mengingatkan banyaknya pemuda terpelajar yang ketika shalat justru sibuk menata kaki daripada menata niat. Wajar kampus mengurusi cadar jadi aturan pelarangan mengingat hal itu bagian dari cara mengembalikan manusia kampus agar bersikap lebih substansial daripada aksesorial, apalagi identik kelompok radikal, walau tidak sepenuhnya benar. [dutaislam.com/ab]

M Abdullah Badri, 
pendiri Komunitas Islam Nusantara (Kainusa)

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini