Jumat, 11 Mei 2018

Sapaan Buat Tuan Dahnil


Oleh Zezen Zaenal Mutaqin

DutaIslam.Com - Namanya Dahnil Azhar Simanjuntak. Saya tidak mengenalnya. Tuan Dahnil juga tidak mengenal saya. Tapi saya merasa harus menyampaikan ini padanya. Bukan apa-apa, meski saya bukan keluarga Muhammadiyah, saya merasa cukup dekat dengan organisasi itu. Saya punya banyak sekali teman dekat di organisasi itu. Kakak saya ketua IMM Jawa Barat dan aktif pula di Pemuda Muhammadiyah. Saya sering mondar-mandir ke kantor PP untuk sekedar jadi mustami di acara diskusi mereka. Sesekali menggarap proyek bersama salah satu unsur dalam Muhammadiyah. Jadi sekali lagi, saya bukan siapa-siapa di Muhammadiyah, apalah lagi dibandingkan dengan Tuan Dahnil yang ketua Pemuda Muhammadiyah. Saya hanya merasa dekat saja dengan organisasinya.

Gini, Tuan. Anggap saja ini Post perkenalan saya dengan anda. Saya tulis sapaan ini jauh-jauh dari Los Angeles, tempat saya sekarang mondok. Itung saja ini perhatian saya sama anda. Kalau saya kasih perhatian kan artinya saya sebenarnya naksir anda, Tuan. he he...

Persoalan saya sama Tuan itu sederhana: sebagai ketua Pemuda Muhammadiyah, menurut saya anda mestinya lebih berhati-hati dalam menggunakan fasilitas sosial media. Saya sempat ikut kicauan anda di Twitter. Terus karena muak, terus terang, saya tak lagi ikuti kicauan anda. Saya bukan tipe Tweeterian yang baik. Kalau ada yang menyebalkan, daripada berdebat dengan menggunakan sepenggal kalimat, saya lebih baik diam atau kabur dari lini masa kicauan sang burung yang tidak saya sukai. Juga saya bukan seleb Tweet. Apalah saya mendebat anda.

Kicauan anda belakangan terkait Kasus Mako Brimob Depok, membuat saya benar-benar kecewa sama Tuan. Juga sebagai orang yang merasa dekat dengan Muhammadiayah, saya merasa malu. Ingat, ini perasaan saya saja, saya kira. Saya sebenarnya tidak berhak malu atas nama Muhammadiyah, karena saya kan hanya remah rengginang di dasar kaleng ‘Muhammadiyah’.

Meski saya sadar dalam tubuh Muhammadiyah memang banyak unsur ‘kanan-keras’, seperti Tofa Lemon. Saya tidak merasa muak kalau Tofa Lemon buat ulah dan cari sensasi. Itu memang kelasnya. Saya merasa kelas anda ini, Tuan, bukan di kelas Tofa Lembon. Itulah kenapa saya merasa jengah ketika anda memposisikan diri seperti Tofa Lemon. Anda turun kelas, Tuan!

Tweet anda tentang Mako Brimob sungguh menunjukkan anda ini punya potensi jadi radikal—atau memang anda radikal pada dasarnya. Untung saja anda aktif di Muhammadiyah, jadi anda cukup terkerangkeng keradikalannya. Tweet anda yang malah bawa-bawa Ahok dalam urusan terorisme ini juga menurut saya cukup membawa anda turun kelas pada derajat Lemonian. Alih-alih mengutuk serangan, Tuan Dahnial malah bercanda dan bilang ISIS itu hanya semacam konspirasi, tipikal argumentasi Lenomian.

Memang anda juga Tweet bersimpati pada korban dan lain-lain. Tapi itu terjadi mungkin setelah Tuan tahu para korankan itu di gorok, di siksa dengan sangat biadab.

Sudah, saya tidak mau berpanjang bicara Tweet anda, Tuan Dahnil. Saya hanya mau bilang, Tuan ini ketua organisasi besar. Tugas tuan menjaga muru’ah dan marwah organisasi. Jalan tuan masih panjang. Saya faham tuan memang harus terus mencari momentum, tapi carilah momentum dengan cara yang elegan. Sekali lagi, ini pesan sebelum saya tutup dengan titik terakhir: jangan turunkan diri anda pada derajat Lemonian. [dutaislam.com/gg]

Wassalam,
Saya Zezen Zaenal Mutaqink, bukan siapa-siapa :)


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini