Kamis, 10 Mei 2018

Para 'Sayyid' Dulu Berjuang dengan Menjadi "Jawa", Sekarang Dunia Terbalik?


Oleh Humaidi Syari'ati

DutaIslam.Com - Ketika proses migrasi orang hadramaut ke nusantara secara langsung dimulai pada abad ke 17-18, maka diawal-awal masa kedatangannya, mereka berusaha menjadi penduduk jawa dengan menikahi perempuan jawa dan mengambil gelar-gelar Jawa untuk anak-anak mereka. Hanya dengan "menjadi jawa", proses adaptasi hidup menjadi lebih mudah dan karir politik dapat meningkat, dibandingkan harus menjadi orang asing. Hal ini terurai dalam contoh tiga keluarga sayyid di Jawa yaitu Basyaiban, Bin Yahya dan Ba'abud.

Sayyid Abdurrachman Basyaiban datang pada abad ke 18 dari hadramaut ke Cirebon dan mengawini salah satu puteri sultan. Kedua putranya yang bernama Sulaiman dan Abdur Rahim kemudian memilih menjadi jawa dan menyandang gelar jawa yaitu Kyai Mas. Keturunan-keturunan mereka menyebar ke surabaya hingga ke krapyak. Diantaranya menikah dengan puteri Adipati Danurejo dan kemudian lebih menjadi jawa ketimbang arab.  Bupati Magelang yaitu Danuningrat I, Danuningrat II, Danuningrat III hingga Danukusumo berasal dari fam basyaiban ini.

Awab bin Yahya datang ke Lasem pada awal abad ke 18 dan mengawini puteri bupati Lasem. Puteranya, Husain mengawini puteri bupati wiradesa. Sedangkan cucunya, Shalih bin Yahya mengambil gelar jawa dan kemudian terkenal sebagai orang jawa dengan nama Raden Saleh. Dengan menjadi jawa, banyak orang belanda sendiri yg terkecoh dan mengira bahwa ia adalah seorang priagung jawa. Diantara fam bin Yahya dari jalur ini banyak yg mengambil nama dan gelar jawa, seperti Raden Sumodirjo (tentara belanda) dan Raden Sumodiputro (jaksa Cilacap) serta Mbah Singobarong (Sayyid Hasan bin Thoha bin Yahya, pejuang dalam Perang Jawa).

Sayyid Ahmad bin Muhsin Ba'abud tiba di Pekalongan pada abad 19 dan juga kawin mawin dengan anak dari Bupati Wiradesa.  Anaknya yg bernama Husain memilih menjadi orang jawa dan bergelar Raden Suroatmojo hingga kemudian menjadi Bupati Brebes. Adiknya kemudian juga menjadi orang jawa bergelar Raden Surodiputro.

Ketiga contoh ini menunjukkan betapa menariknya menjadi jawa sehingga harus diperjuangkan semaksimal mungkin. Di sisi lain, ada juga orang jawa yang sedang mengejar nasabnya untuk diakui sebagai sayyid atau habaib.

Dunia sedang berbalik, bukankah lebih penting adalah nasib dan akhlak, bukannya nasab? [dutaislam.com/gg]

Source: Humaidi Syari'ati

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini