Selasa, 08 Mei 2018

Menghawatirkan, Viral Tokoh HTI Kampus ITS Mulai Dosen, Kaprodi, hingga Guru Besar

ITS Surabaya. Foto: Istimewa. 
Oleh Yusuf Muhammad

DutaIslam.Com - Ada Kaprodi, Dosen dan Guru besar di ITS yang secara jelas menyatakan dukungan kepada HTI. Sebagai Alumi ITS, hal ini tentu sangat saya sayangkan karena ITS sebagai perguruan tinggi milik Republik Indonesia, bukan milik Negara Khilafah! Mereka dibiayai oleh negara.

Fanatisme kelompok (ashabiyah) di HTI itu sangat kuat, bahaya kalau mereka pegang jabatan publik, jabatan itu akan dimanfaatkan bagi golongan mereka sendiri. Mereka sok-sok an anti NKRI, tapi numpang hidup di NKRI bahkan dibiayai oleh pemerintah.

Meme-meme dosen ITS yang beredar
ITS kepanjangan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dari sejarah namanya saja ada cerita semangat nasionalisme dan perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Para pejuang Kemerdekaan itu termasuk santri, kiai, Ulama dan segenap warga Surabaya yang mengorbankan nyawanya untuk membela Kemerdekaan Republik Indonesia. Hal itu dilegitimasi oleh Resolusi Jihad NU 22 Okt 1945, Pendukung Negara Khilafah (HTI) gak bisa main-main!

Alhamdulillah setelah viralnya tokoh-tokoh HTI yang berasal dari kampus ITS, tidak lama kemudian pihak Kampus memberi tanggapan melalui surat pernyataan sikap Resmi terkait tiga dosen yang mendukung atau menjadi tokoh HTI.

Pernyataan dari pihak kampus ITS
Kita tunggu proses selanjutnya, dan semoga langkah tegas dari ITS diikuti juga oleh perguruan-perguruan tinggi negeri lainnya seperti UNAIR, IPB, ITB, UGM, UI, dan lainnya sebagai semangat untuk bersih-bersih virus HTI pasca ditolaknya gugatan mereka di pengadilan PTUN Jakarta, 7 Mei 2018 kemarin.

Namun demikian, perlu dicatat kita tentu tidak boleh mengucilkan atau memusuhi mereka, kita harus tetap rangkul serta mengajak mereka untuk kembali kepangkuan Negara berideologi Pancasila yang sudah final disetujui oleh para pendiri bangsa, termasuk para kiai, ulama, dan para pejuang lainnya.

Kita hanya benci pada ideologi yang dibawa oleh mereka sebagai penghianatan terhadap para pendiri bangsa, namun mereka tetaplah saudara kita. Mari kita rajut persaudaraan dan persatuan demi perdamaian dunia. Terima kasih! [dutaislam.com/pin]

Yusuf Muhammad, Alumni ITS Surabaya 

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini