Senin, 28 Mei 2018

Kisah Zulfia, Anak Pelaku Bom Bali I Taubat Setelah 10 Tahun Dendam pada Negara

Zulfia Mahendra, Anak Pelaku Bom Bali I, Amrozi. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com – Siapa yang tidak tahu peristiwa Bom Bali I? Peristiwa teror terparah dalam sejarah Indonesia. Tidak kurang dari 202 jiwa melayang, 209 jiwa luka-luka karena ula teroris atas nama jihad tersebut.

Mengingat peristiwa tersebut, sosok Amrozi begitu lekat. Dialah dalang peristiwa pembunuhan masal mengerikan tersebut. Ibarat satu ungkapan, “nyawa harus dibayar dengan nyawa”. Amrozi yang merupakan otak teror akhirnya diganjar dengan hukuman mati oleh negara pada tahun 2003 lalu. Bersama dua rekannya, Imam Samudra dan Ali Gufron atau Muklas diganjar hukuman mati.

Kematian Amrozi setelah ditembak mati di Nusa Kambangan ternyata menyimpan duka lara bagi Zulfia Mahendra, putra Amrozi. Duka mendalam karena kematian sang ayah menjadi cambuk yang amat dahsyat bagi Zulfia untuk melanjutkan perjuangan Amrozi.

Hingga pada suatu ketika, Zulia yang saat itu masih duduk di bangku SMA membentangkan sepanduk bertuliskan, "Aku akan lanjutkan perjuangan Abi (bapak)."

Habis-habisan Zulia Mahendra membenci negara. Dia pun belajar belajar merakit bom secara otodidak. Ilmu tentang persenjataan dipelajarinya. Emosi meluap-luap berlangsung hingga sembilan tahun lebih. Di sekolah, Zulfia tidak pernah hormat bendera merah putih. Hingga dia dipanggil guru BK. Dendam yang sudah memuncak kepada negara tidak membuatnya berubah. Hingga kuliah, Zulfia masih menyimpan dendam itu rapat-rapat. Berharap suatu asat akan melakukan yang sama dengan apa yang telah dilakukan ayahnya, Amrozi.

Tapi tuhan berkata, lain. Serapat-rapatnya Zulfia menyimpan dendam, akhirnya luluh juga. Zulfia sedikit-sedikit mulai berubah. Dia merasa dendam itu tak ada gunanya. Dia buang perlahan-lahan. Hingga akhirnya berubah total. Yang semula membenci negara, kini sudah cinta kepada negara. Dia juga hormat kepada Bendera Merah Putih. Bahkan, dalam peringatan HUT RI ke-72 2017 lalu, Zulfia bersedia menjadi pengibar bendera merah-putih di sekitar kantor Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP), di Lamongan. Zulfia dua rekannya yang merupakan anak mantan teroris, Syaiful Arif dan Khoerul Mustain.

Kesadaran Zulfia mulai tumbuh ketika banyak berdiskusi dengan paman-pamannya yang juga mantan instruktur perakit bom jamaah islamiyah. Dia Ali Fauzi dan Ali Imron.

"Dari proses-proses yang sudah berjalan, apalagi usaha dan perbaikan mental dari paman, dari ustaz Ali Fauzi, dari ustaz Ali Imron, memang sangat-sangat membantu dalam memulihkan,” katanya.

Dia pun terus berusaha menghapus sisa-sisa dendam yang masih menempel di hati. Namun, dia tak menampik, dendam kesumat yang berjalan selama 10 tahun itu masih tersisa. Namun, dia terus berusaha untuk menghapusnya. Karena segalanya tidak akan pernah selesai bila dibarengi dengan dendam. Akan muncul para pendendam baru begitu dia membalas dengan tindakan yang sama sebagaimana dilakukan ayahnya.

Dia mendukung tindakan ayahnya dulu. Namun, dia juga yakin, bahwa ayahnya mendukung tindakan yang ia lakukan saat ini.

“Insya Allah. Saya mendukung langkah bapak dulu. Dan insya Allah, bapak juga mendukung langkah saya (sekarang)” demikian kata Zulfia.

Keterangan:
Diolah dari data Tribunnews.com dan Surya.Id


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini