Minggu, 27 Mei 2018

Di Tanggal Ini, Rasulullah 'Mudik' di Bulan Ramadhan

Rasulullah pulang ke Mekah pada tanggal 10 Ramadhan. Ilustrasi: Istimewa.
DutaIslam.Com - Mudik atau pulang kampung adalah tradisi tahunan masyarakat Muslim di Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri atau hari-hari di penghujung Bulan Ramadhan. Tradisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan entah sejak kapan dimulai dan siapa yang memulainya pertama kali.

Terkat dengan mudik ini, ternyata Rasulullah dan para sahabat juga pernah ‘mudik’, jauh sebelum masyarakat Muslim Indonesia melaksanakannya. Setelah delapan tahun meninggalkan kampung halamannya, Mekah Al Mukarramah, dan hijrah ke Madinah, Rasulullah pulang kampung ke Mekah pada tanggal 10 Ramadhan abad ke-8 Hijriyah atau bertepatan dengan 8 Juni 632 M.

Konteks dan misi mudik yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat bila dibandingkan dengan masyarakat Muslim Indonesia saat ini memang sedikit berbeda. Rasulullah mudik untuk melakukan penaklukkan Makkah (Fathu Makkah), bukan hanya sekedar pulang kampung biasa.

Dalam buku Pengantin Ramadhan, Muchlis Hanafi menyebutkan bahwa Rasulullah ‘mudik’ ke Makkah selama 19 hari. Dengan demikian Rasulullah dan para sahabatnya merayakan hari raya Idul Fitri  ke-6 (puasa Ramadhan diwajibkan kepada umat Islam mulai abad ke-2 Hijriyah) di Makkah, di kampung halamannya.

Ketika ‘mudik’ tersebut, Rasulullah membuktikan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Beliau memaafkan semua musuh-musuh yang dulu menentang dakwah Islam. Beliau juga menghancurkan semua berhala di area Ka’bah yang menjadi sesembahan warga Makkah. Total, ada 360 berhala yang dimusnahkan Rasulullah dan para sahabatnya. Termasuk tiga berhala yang paling terkenal dan paling besar; Hubal, al-Latta, dan al-Uzza.

“Nabi mengumumkan bahwa setiap orang di seluruh kota yang memiliki berhala di rumahnya agar segera dihancurkan,” kata Marting Ling di dalam bukunya Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik.

Setelah selesai dengan semua urusannya di Mekah, Rasulullah kembali ke kampung halamannya yang kedua, Madinah.

“Tidak ada lagi hijrah ke Madinah sejak kemenangan di Mekah, yang ada tinggal niat tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya),” kata Rasulullah dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Dari sini dapat diambil pelajaran, ketika seseorang mudik ke kampung halaman, hendaknya bisa menebar kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian – sebagaimana yang Rasulullah telah lakukan pada saat ‘mudik’ ke Makah. Sebaliknya, bukan malah menyebarkan keburukan dan hal negatif lainnya. [dutaislam.com/muchlishon/pin]

source: NU Online

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini