Minggu, 27 Mei 2018

Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah 183: Menggapai Takwa dengan Berpuasa

Tafsir Surat al-Baqarah ayat 183
Di Bulan Ramadhan, pintu ampunan terbuka lebar, pahala dilipat gandakan serta pintu menuju surga dilapangkan. Seyogyanya Umat Islam mengencangkan ikat pinggangnya dalam menjalani ibadah di Bulan Ramadhan. Semangat untuk beribadah harus selalu berkobar setiap harinya, menjadikan Bulan Ramdhan sebagai ladang amal.

DutaIslam.Com - Semangat membaca Al-Quran serta tadabbur (merenungkan) akan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, mendapatkan perhatian yang besar di bulan puasa ini. Al-quran sebagai pedoman Umat Islam, sudah seharusnya masuk ke relung sendi-sendi kehidupan umat Islam setiap harinya. Sehingga, peran Al-Quran sebagai petunjuk tampak hidup di tengah-tengah masyarakat.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan merupakan bulan bulan diturunkannya Al-Quran. Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (Surat al-Baqarah ayat 185).

Usaha untuk menghidupkan pesan al-Quran dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan menjalankan perintah Allah SWT sebagai tradisi hidup orang beriman. Salah satu usaha itu adalah dengan menjalankan ibadah puasa. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam Surat al-Baqarah ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa (Surat al-Baqarah ayat 183).

Pakar tafsir klasik, Imam Ibnu Katsir menjelaskan  bahwa perintah ibadah puasa ditujukkan kepada orang-orang yang beriman. Orang yang beriman, menurut Imam at-Thobari, adalah orang-orang yang membenarkan serta mengikrarkan keimanannya kepada Allah dan rasulNya.

Hubungan Iman dan Puasa

Penjelasan para ahli tafsir di atas mengindikasikan bahwa keimanan dan puasa memiliki hubungan yang erat antar keduanya. Puasa menjadi cerminan dari kesempurnaan keimanan seorang muslim. Keimanan seorang muslim tidak cukup percaya dan membenarkan dalam hati, namun harus diikuti amal perbuatan.

وكان الإجماع من الصحابة والتابعين من بعدهم ممن أدركناهم أن الإيمان قول وعمل ونية ، لا يجزئ واحد من الثلاثة بالآخر

Menurut konsesus para sahabat serta para tabi’in bahwa iman itu berupa perkataan, perbuatan, dan niat (perbuatan hati), jangan mengurangi salah satu pun dari tiga hal ini.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian”

Kewajiban berpuasa sebelumnya juga telah dibebankan kepada umat nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad. Yang dimaksud umat sebelumnya dalam ayat di atas, menurut Imam Ibnu Abbas dan Imam Mujahid, adalah ahli kitab. Sedangkan menurut Imam al-Alusi umat sebelum Nabi Muhammad terhitung sejak Nabi Adam as sampai sekarang sebagaimana  yang ditunjukkan dilalah keumuman lafadznya, yakni isim maushul.

Adanya penggambaran kewajiban berpuasa sebagaimana umat terdahulu mengandung arti tersendiri. Redaksi ayat tersebut sebagai penguat hukum dan pemberi semangat dalam menjalankan ibadah puasa. Sebab, suatu hal yang sulit kalau dilakukan banyak orang dan sudah jadi kebiasaan umum, akan terasa ringan dan mudah.

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian bertaqwa”

Puncak puasa seorang yang beriman adalah untuk menggapai ketakwaan kepada Allah SWT. Puasa merupakan sarana dan wasilah menuju takwa karena puasa dapat menundukan nafsu dan mengekang syahwat, yang menjadi sumber dari maksiat. Dalam hal ini, Imam as-Suyuthi dalam tafsir Jalalain menjelaskan, bahwa maksud dari agar bertakwa adalah bertakawa dari perbuatan maksiat.

Sikap orang yang bertakwa bukan hanya taat beribadah secara individual dengan Tuhannya saja. Akan tetapi, ketakwaan sosial juga harus ditingkatkan. Sehingga berimbang antara hubungannya dengan Allah dan manusia. [dutaislam/in]

Artikel Dutaislam.com

Demikian penjelasan mengenai asbabun nuzul Surat al-Baqarah ayat 183: Menggapai Takwa dengan Berpuasa, silahkan baca di artikel berikutnya.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini