Sabtu, 12 Mei 2018

Asbabun Nuzul Makro dan Mikro

Memahami asbabun nuzul makro dan mikro
Kajian mengenai latarbelakang turunnya ayat Al-Quran menjadi sebuah keharusan dalam memahami Al-Qur'an. Sebab, Al-Qur'an tidak turun pada ruang kosong. Maka para ulama berpendapat bahwa ada beberapa ayat yang harus dipahami dalam konteks asbabun nuzulnya. Yakni, dengan meninjau konteks masyarakat Arab pada waktu turunnya Al-Qur'an.

DutaIslam.Com - Ada beberapa faktor yang membuat kajian tentang asbabun nuzul menjadi sesuatu yang penting. Pertama, ayat-ayat Al-Qur'an ada yang turun didahuli sebab-sebab tertentu. Kedua, Asbabun nuzul menjadi kunci dalam menggali dialektika antara teks dan realitas. Dengan begitu, menurut Nasr Hamid, mengkaji asbabun nuzul sama halnya memberi sudut pandang baru dalam memahami pesan yang terkandung di Al-Qur'an.

Sejatinya Asbabun nuzul merupakan konsep dan teori yang terkait dengan sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat atau satu surat. Konsep ini muncul karena dalam sirah nabawi, sejarah Al-Qur’an maupun sejarah Islam, diketahui dengan cukup pasti adanya situasi atau konteks tertentu diwahyukan firman Allah.

Ayat dalam Al-Quran ada yang asbabun nuzulnya tergambar secara jelas dalam ayat tersebut. Misalnya, ayat-ayat yang dalam dialognya ada redaksi "mereka bertanya kepadamu atau mereka meminta fatwa kepadamu".

Sedangkan ayat yang tidak memuat secara tegas sebab turunnya, dapat dideteksi asbabun nuzulnya melalui hadis-hadis nabi atau ucapan sahabat. Para ulama tafsir sangat berhati-hati dalam menentukan asbabun nuzul suatu ayat yang tidak secara tegas tergambar dalam ayat yang bersangkutan sehingga tidaklah diterima informasi tentang asbabun nuzul kecuali memiliki dasar periwayatan yang jelas dan valid, baik dari nabi maupun yang berasal dari sahabat.

Para ulama memahami sekian ribu ayat Al-Qur'an berdasarkan konteks asbabun nuzul. Asbabun nuzul menjadi lantaran untuk mengetahui peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur'an dan tidak dipahami sebagai sesuatu yang mutlak dalam hukum kausalitas. Artinya, asbabun nuzul tidak diartikan bahwa tanpa asbabun nuzul, ayat Al-Quran tidak akan turun seperti dalam hukum kausalitas.

Maka, untuk mengetahui dan memahami asbabun nuzul suatu ayat atau surat tertentu dibutuhkan pemahaman akan kajian sejarah pandangan ulama tentang asbabun nuzul. Dalam rekam sejarah perkembangan ilmu tafsir, asbabun nuzul terbagi menjadi dua tipologi: asbabun nuzul mikro dan asbabun nuzul makro.

Pembahasan dan kajian mengenai asbabun nuzul mikro dapat dijumpai pada kesejarahan ilmu tafsir sejak abad kedua hijriyah. Asbabun nuzul mikro meliputi peristiwa atau pertanyaan kasuistik yang berhubungan dengan turunnya ayat. Peristiwa atau pertanyaan tersebut dalam pandangan ulama tafsir klasik dijadikan sebagai asbabun nuzul, yang selanjutnya dinamakan asbabun nuzul mikro.

Karakteristik serta corak pendekatan asbabun nuzul ulama tafsir klasik dapat dijumpai dalam sejarah ilmu tafsir periode awal. Definisi asbabun nuzul mikro banyak dijelaskan dalam kitab-kitab ulumul quran.

Salah satu ulama generasi awal, Imam al- Zarkasyi mengartikan asbabun nuzul adalah sebuah peristiwa atau pertanyaan yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat. Dalam hal ini, Imam al-Suyuthi memberikan catatan bahwa asbabun nuzul tidak boleh diartikan sebagai sebuah hubungan klausalitas. Menurut al-Suyuthi, Asbabun nuzul lebih pada detik-detik di mana suatu ayat diwahyukan.

Sedangkan Imam al-Zarqani memberikan definisi tentang asbabun nuzul dengan lebih luas. Asbabun nuzul diartikan sebagai peristiwa yang ketika turunnya satu ayat atau beberapa ayat tertentu, menjelaskan ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan kejadian pada waktu itu. Namun, defenisi yang dikembangkan Imam al-Zarqani dinilai ulama lain malah mengarah pada bias makna asbabun nuzul.

Dalam kitab mabahis fi ulum al-Qur'an, Imam Manna' al-Qathan mengartikan asbabun nuzl adalah sesuatu yang saat Al-Quran turun berkaitan dengan sesuatu tersebut. Definisi yang sama juga dijelaskan Imam Shubhi Salih. Beliau memaparkan asbabun nuzul merupakan sesuatu yang berkenaan dengan turunnya satu ayat atau beberapa ayat tertentu, baik berupa peristiwa, pertanyaan maupun penjelasan hukum pada waktu itu.

Perkembangan kajian asbabun nuzul

Seiringan berkembangnya ilmu pengetahuan, para pemikir muslim memberikan pengertian asbabun nuzul menjadi lebih luas, yakni berkembang menjadi asbabun nuzul makro. Dalam konteks ini, asbabun nuzul tidak hanyaterbatas pada peristiwa yang berkaitan dengan turunnya ayat, melainkan objek asbabun nuzul merambah pada kondisi sosio historis yang melatarbelakangi turunnya ayat.

Munculnya kritikan atas cakupan definisi asbabun nuzul mikro menjadi pemicu para pemikir muslim melakukan redefinisi terhadap arti asbabun nuzul. Kritik atas definisi asbabun nuzul mikro berkembang pada abad kedelapan hijriyah. Salah satu ulama yang mengkritik pengertian asbabun nuzul mikro, Imam ad-Dahlawi mengatakan bahwa penjelasan asbabun nuzul yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir masih bersifat dugaan (dzanni).

Perbedaan pengertian asbabun nuzul makro dan asbabun nuzul mikro terletak pada titik fokusnya. Kalau asbabun nuzul makro lebih bersifat formil, sedangkan asbabun nuzul mikro lebih cenderung materil.

Pengertian asbabun nuzul makro, menurut Imam as-Syathibi, pemahaman akan konteks yang melatarbelakangi turunnya ayat. Konteks tersebut mencakup pemberi wahyu (Allah), penerima beban syariat (manusia), dan materi atau konten syariatnya. Bahkan Imam Al-Qasimi menegaskan bahwa tanpa mengetahui betul realitas dan kondisi saat ayat turun, maka ia tidak akan mampu memahami esensi asbabun nuzul suatu ayat.

Pemahaman asbabun nuzul demikian diamini juga oleh pemikir muslim kontemporer, Fazlur Rahman. Ia menyatakan bahwa konteks dalam asbabun nuzul meliputi realitas dan sosio historis yang terjadi pada waktu itu: kondisi sosial masyarakat, politik, psikologi Nabi, ekonomi, budaya dan lain-lain.

Paradigma baru tersebut juga mendorong Quraish Shihab yang dalam melakukan perluasan makna asbabun nuzul. Beliau melihat asbabun nuzul tidak hanya dipahami berdasarkan informasi konvensional dan redaksional sebagaimana terdapat dalam kitab-kitab tafsir. Namun, ruang asbabun nuzul harus meliputi kondisi sosial, kultur serta budaya yang berkembang di masyarakat pada saat turunnya suatu ayat. Dalam prosesnya, asbabun nuzul makro menciptakan paradigma baru dalam terciptanya sebuah konsep rekontruksi sejarah.

Dengan begitu, asbabun nuzul dapat dipahami sebagai sebuah peristiwa yang terlahir dari realitas sosial yang melingkupi masyarakat di mana suatu ayat diwahyukan Tuhan. Maka, pemahaman akan asbabun nuzul makro dapat mengantarkan dalam memahami ayat secara komprehensif.[dutaislam/in]

Artikel Dutaislam.com

Demikian penjelasan asbabun nuzul makro dan mikro menurut ulama klasik dan kontemporer. Adapun asbabun nuzul Surat al-Ikhlas, Surat al-Insyirah, Surat at-Taubah ayat 122, Surat At-Taubah ayat 123, silahkan baca di artikel berikutnya.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini