Kamis, 26 April 2018

Tiga Kelompok Manusia dalam Menyikapi Anugerah Tuhan

Alam semesta sebagai salah satu ciptaan tuhan . Foto: Istimewa
Oleh Kuswaidi Syafiie

DutaIslam.Com - Manusia yang merupakan tujuan utama dari berlangsungnya penciptaan alam semesta, keberadaan mereka sungguh tak lebih dari sebuah pinjaman dari Dzat yang merupakan awal mula sekaligus akhir dari segala sesuatu, yaitu Allah SWT. Artinya adalah bahwa manusia itu sama sekali tidak terlibat dalam proses penciptaan diri mereka sendiri. Kemunculan mereka sebagai wujud murni ditopang oleh kemahaan hadiratNya belaka. Pun seluruh makhluk lain yang melata di rimba raya semesta ini.

Jika kemunculan mereka saja sebagai wujud mutlak diprakarsai oleh hadiratNya, maka ongkos untuk keberlangsungan hidup mereka tidak boleh tidak mesti ditanggung oleh Allah SWT pula. Tak ada siapapun yang lain yang sanggup menanggungnya. Keseluruhan diri manusia, juga segala makhluk yang lain, begitu ringkih dan tidak berdaya berada di genggamanNya.

Ketika manusia hanya bisa survive dengan adanya bantuan dan pertolongan-Nya, maka kemudian menjadi watak dan kesenangan manusia untuk senantiasa berharap mendapatkan anugrah-anugrah. Sebagai sarananya, mereka lalu tanpil dengan sigap dan ulet menekuni berbagai macam pekerjaan yang dirasa cocok buat mereka sesuai dengan skill dan kapasitas masing-masing. Juga ada sebagian manusia yang menyongsong datangnya anugrah-anugrah itu dengan doa-doa dan pengharapan.

Berkaitan dengan datangnya anugrah yang dikirim oleh sifat kemurahan hadiratNya itu, secara garis besar manusia terbagi menjadi tiga kelompok sebagaimana yang didedahkan oleh Syaikh Tajuddin ibn 'Athaillah as-Sakandari (wafat 1309 M) dalam kitab Hikamnya yang termasyhur itu.

Pertama, mereka yang begitu senang dengan anugrah itu. Sama sekali mereka tidak berpikir dan tidak menelusuri dari mana dan siapa sesungguhnya yang telah memberikan anugrah itu. Yang terpenting anugrah itu cocok untuk selera dan syahwat mereka. Tak peduli mereka menemukan anugrah itu di jalan, dapat dari orang lain, atau bahkan memperolehnya dengan cara mencuri dan merampok.

Golongan pertama ini tidak memiliki kesanggupan untuk mengapresiasi derma dan kemurahan Allah SWT. Sehingga bagi mereka sama sekali tidak ada hubungan antara berbagai anugrah yang mereka nikmati dengan kewajiban untuk bersyukur kepada hadiratNya. Meski tentu saja syukur itu sesungguhnya akan menjadikan mereka lebih senang dan berbahagia.

Berkaitan dengan karakter dan keinginan, golongan pertama ini mempunyai kesesuaian dan kedekatan dengan watak binatang. Yaitu bagaimana menjalani hidup dengan semata bersenang-senang secara jasmani dan psikis yang kelam belaka. Akal religius atau akal universal tanggal dari diri mereka. Hidup mereka menjadi sedemikian pragmatis, melulu materialistik. Tidak sanggup menjangkau akibat-akibat yang jauh dari tindakan-tindakan yang mereka pilih dan tekuni.

Kedua, mereka yang menikmati adanya anugrah-anugrah yang diberikan oleh Allah SWT kepada mereka, baik yang diperoleh secara langsung maupun lewat berbagai macam perantara yang berupa sejumlah pekerjaan dan profesi yang mereka tekuni. Mereka tahu persis siapa yang sesungguhnya secara hakiki memberikan aneka macam anugrah itu kepada mereka. Tak lain adalah Allah SWT yang merupakan tambang tidak terhingga bagi segala anugrah dan kenikmatan.

Karena itu, di samping mengapresiasi dan merasakan nikmatnya anugrah-anugrah yang diterima itu, mereka juga tidak lupa untuk bersyukur kepada Allah SWT. Bukan terutama dengan mengucapkan hamdalah sebagaimana yang lazim diungkapkan banyak orang, akan tetapi dengan memakai dan mendayagunakan anugrah-anugrah itu untuk sejumlah kebaikan dan kepentingan-kepentingan yang secara ontologis murni mengarah kepada hadiratNta semata.

Ketiga, mereka yang hanya terpikat untuk senantiasa menikmati Allah SWT semata, jauh melampaui segala keinginan mereka terhadap kenikmatan-kenikmatan apapun yang lain. Di saat menikmati keindahan jamaliyahNya yang tidak bertepi, yang tidak sepenuhnya bisa diterjemahkan ke dalam bahasa kata-kata, lenyaplah di hadapan mereka seluruh keindahan yang lain. Karena apa yang disebut sebagai yang lain itu secara hakiki sesungguhnya tidak pernah ada.

Mereka hanya terpukau kepada Allah SWT semata. Itulah sebabnya kenapa ketika Nabi Junjungan, Rasulullah SAW shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah apapun yang beliau kerjakan, semua kebaikan itu oleh beliau diletakkan di punggungnya. Alasannya jelas: jangan sampai ibadah-ibadah itu berada di depan beliau sehingga menghalangi pandangannya yang begitu fokus kepada Mahakekasihnya, Tuhan semesta alam.

Keinginan dan keterpukauan beliau yang terfokus hanya terhadap hadirat-Nya semata, yang steril dari segala rayuan kenikmatan duniawi dan ukhrawi sekaligus, menjadikan beliau sama sekali tidak pernah dihinggapi oleh seekor lalatpun sepanjang hayat yang ditempuh oleh beliau. Kenapa?

Karena dalam diri beliau tidak tersimpan sedikitpun keinginan terhadap gula-gula dunia maupun madu akhirat. Sehingga sama sekali tidak ada korelasi filosofis apapun antara kesucian beliau dari keinginan terhadap yang selain-Nya dengan kebiasaan lalat-lalat yang seringkali hinggap pada sesuatu yang kotor dan amis. Dan seberapa pun kadar dan prosentasinya, segala sesuatu yang selain Allah SWT, sungguh termasuk kategori kotor dan amis.

Ya Allah, anugrahkanlah kepada kami rasa tertarik yang semakin hari semakin hanya tertuju kepadaMu belaka. Amin. [dutaislam.com/pin]

Kuswaidi Syafiie, pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Diambil dari akun Facebook Kuswaidi Syafiie.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini