Selasa, 10 April 2018

Penyebab Wahabi Tertutup (Goblok): Larang Perdebatan untuk Taklid Tunggal

Ilustrasi berdebat, diskusi, dan dialog. (Istimewa)
Oleh Fashihullisan

DutaIslam.Com - Kita semua tentu sangat penasaran kenapa kelompok radikal dan kelompok ekstrim macam kelompok wahabi memiliki ikatan yang sangat kuat dengan guru guru mereka. Mereka seakan-akan menyerahkan kepatuhan total untuk mengikuti apa saja dan juga tidak ada keinginan sedikitpun untuk belajar di luar doktrin dan keyakinan di luar yang diajarkan oleh guru guru mereka. Hal ini berdampak pada mudahnya mereka untuk diindoktrinasi secara total oleh guru guru mereka, sehingga seringkali memunculkan kepatuhan tunggal secara total.

Kita dapat membandingkan bagaimana saat santri santri pesantren yang sudah menyelesaikan studinya, seringkali oleh kiai atau guru mereka disarankan untuk belajar pada guru yang lain. Di dunia pesantren, model ini disebut sebagai "tabarrukan" atau mencari berkah dari guru atau kiai lain. Tabarrukan ini tentu bermanfaat untuk mengurangi taklit buta dan juga melengkapi pemahaman dari sudut pandang guru atau kiai barunya.

Keterbukaan keilmuan yang ada di kalangan pesantren menjadikan santri akan semakin terbuka saat ilmu yang diperoleh. Ini berbeda dengan kelompok wahabi misalnya, yang mengharuskan para pengikutnya untuk tidak belajar pada guru lain. Guru wahabi sangat ketakutan saat pengikutnya mempelajari hal hal di luar yang mereka ajarkan.

Secara tidak langsung tentu saja hal ini memiliki makna bahwa para pengikutnya dilarang untuk menambah ilmu dan membuka wawasan secara terbuka. Doktrinasi beragama tanpa "perdebatan" merupakan salah satu ajaran yang efektif untuk terus didengungkan, karena barangkali mereka menemukan pembenar dengan menyampaikan bahwa perdebatan adalah pekerjaan iblis. Dalih larangan berdebat, menjadikan pengikut dilarang berdebat mengenai ilmu ilmu agama, sehingga harus menerima secara penuh apapun yang diajarkan oleh gurunya. Tidak ada lagi ruang untuk mencari kebenaran, padahal Allah dalam banyak wahyu menyampaikan pentingnya membaca, pentingnya berilmu dan pentingnya berfikir.

Coba saja kita tanyakan pada pengikut wahani, apakah ilmu tajwid, ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, ilmu hadist sudah ada pada zaman nabi ? Mereka langsung kebingungan, karena mereka sudah didoktrin bahwa semua hal yang tak ada di zaman nabi sebagai bid'ah yang sesat dan masuk neraka, apalagi hal hal itu berkaitan dengan ibadah. Kalaupun mereka agak pintar, maka mereka akan jawab sebagai ijma ulama, dan saat kita tanya kenapa ijma ulama tidak merupakan bid'ah maka mereka semakin bingung. Bisa jadi kita dikatain sebagai orang bodoh, orang yang gak mau belajar atau disuruh tanya pada gurunya karena dia khawatir berat tanggung jawabnya saat dihisab kelak di hari akhir.

Begitulah saat seseorang sudah diarahkan pada doktrinasi keyakinan tunggal inilah, menjadikan mereka mudah disesatkan dan dimanipulasi pemahamannya. Usaha kita untuk menyadarkan mereka secara pemikiran menjadi berat, karena mereka sudah tak lagi membuka diri untuk belajar ilmu, ajaran dan logika yang ada di luar kelompok mereka. Saat guru-guru mereka menuduh kelompok lain sesat, bidah dan kafir, maka semua anggotanya pasti akan spontan seperti paduan suara langsung satu suara. [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini